Caitlin menerjapkan manik matanya dan menarik seluruh otot yang ada di tubuhnya. Sinar matahari jatuh tepat di wajahnya, membuat gadis berambut tembaga ini terlihat seperti malaikat di pagi hari. Caitlin membenahi posisi duduknya kemudian mengusap pelan wajahnya. Sedetik dua detik dan kemudia ia mengangkat kaget kepalanya. Melihat sekeliling dan memastikan bahwa ini bukanlah kamar tidurnya.
Iya, bukan.
"Dimana ini?"
Otak caitlin terus berputar mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi.
Sial.
Ia meremas kasar surai tembaganya dan sedikit mengerang frustasi mengingat apa yang terjadi padanya semalam.
Ada manusia aneh yang tiba-tiba datang dan membawanya pergi
-Oh maaf, sepertinya bukan manusia.
Baiklah, Itu menyebalkan.
"Selamat pagi. Bangun dan bersiaplah. Kami menunggumu dibawah, nona."
Caitlin tersentak saat tiba-tiba seorang laki-laki duduk di bibir ranjangnya. Laki-laki itu menatap intens cait dengan senyum kocak yang terlukis dibibir ranumnya.
"Astaga!" caitlin mundur dari pointnya duduk sambil mengusap dadanya. Demi kacang atom, dia mengejutkan cait!
Laki-laki muda, hampir seumuran dengan mikha. Tampan, bahkan lebih tampan dari mikha. Rambutnya dijambul sedikit. Kulitnya benar-benar putih dan dingin. Rahangnya tegas juga keras. Iris mata lightbrownnya mirip karamel leleh. Wajahnya benar-benar konyol. Menggemaskan.
"Kk-kkau, siapa?"
caitlin bertanya dengan nada getir dan bergetar. Persis saat pertama kali ia melihat mikha.
"Aku reuben. Reuben nathaniel. Calon kakak iparmu."
Caitlin menaikan satu alisnya tanpa membalas jabat tangan reuben, bermaksud meminta kejelasan.
"Kalau kau bertanya 'apa maksudmu?' Kau akan dapat jawabannya setelah kau selesai bersiap dan bergabung dengan yang lain di meja makan." Reuben mengacak manja puncak kepala cait lalu pergi -hilang- entah kemana. Caitlin mengerang kecil. Ia benar-benar tak mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Mikha, reuben, dan dadnya. Memuakan.
*****
"Hei cait sayang. Apa kau di dalam?" suara lembut penuh kasih sayang terdengar setelah pintu kamar cait di ketuk pelan. Cait berjalan menuju pintu bermaksud membukanya. "Ya, aku di-" sosok wanita paruh baya, dengan rambut semi curly yang indah dan iris mata cantik mirip dengan iris si angelo itu berdiri dibalik pintu. Pasti ini momnya.
"Maaf Mrs. Aku pikir tadi-"
"Iya, aku tahu kau belum mengenalku. Aku yvonne, kau pasti tahu siapa aku di rumah ini." Yvonne tersenyum penuh arti. Senyum yang sama persis seperti milik reuben. Manis. Simple. Dalam.
"Eh. Maaf kan aku Mrs. Yvonne aku benar-benar tidak sopan tadi. Maafkan kan aku." Ucap cait dengan puppy face andalannya. Sial. Dia begitu menggemaskan saat memasang wajah yang satu itu.
"Tidak, sudah ku bilang tak apa. Dan, panggil saja aku mom, mom vo. Okay?" Caitlin mengangguk mengiyakan kemudian tersenyum manis.
"Apa kau sudah selesai bersiap?" yvonne mengusap pundak cait yang terekspose indah karena dress tanpa lengan yang ia kenakan. Cait mengangguk untuk kesekian kalinya.
"Baiklah. Kau benar-benar manis cait. Ayo, turun. Kami semua menunggu mu." yvonne menggamit jemari cait dan membawanya turun menuju ruang makan. Mata cait menerjap berkali-kali saat melihat mom dan dadnya ikut duduk di sana. Ada mikha juga reuben. Ada satu lagi dengan rambut ikal dan berkulit putih juga dingin, sama dengan yang lain. Ada satu pria paruh baya yang terlihat masih sehat dan segar layaknya anak-anaknya. Satu lagi ada laki-laki kecil. Wajahnya mewakili ketiga orang tadi. Mikha, reuben, dan etah siapa yang satu itu.
"Mom? Dad?" caitlin memekik kegirangan lalu memeluk Ashley erat. Seperti seorang bocah hilang yang kembali menemukan orangtuanya. "Hey baby, what's up?" ashley mengusap puncak kepala cait kemudian memeluknya erat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall
Fanfiction"Caitlin, kau harus segera menikah dengan Mikha." Air mata cait perlahan turun membasahi lensa indah juga pipi ranumnya. Menyedihkan. "Cait dengar dad." Tangan robert mengusap dagu cait. Menyeka liquid bening yang sarat akan kebahagian di pipi porse...
