four

2.8K 342 36
                                        

Thomas's POV

Kuhantam kasar setir mobil didepanku. Dengan kesal, aku meraih handphone-ku dan mendial nomor seseorang dengan cepat.

"Anne, bisa temui aku di greaf cafe dalam 10 menit?"

"Sure. See ya."

Kuhempaskan handphone-ku dan dengan cepat menggas mobilku dengan kecepatan penuh.

----------

"Jadi, ada apa?" Buka Anne saat kami sudah bertemu di cafe yang mempunyai tema vintage ini.

"SMA menyebalkan. Belum lagi gadis-gadis menyeramkan dan aneh didalamnya. Sangatlah melelahkan." Kataku, kemudian menghembuskan nafas kasar. Kejadian dilorong  tadi masih terputar jelas di fikiranku.

"Whoa, sabarlah, Thomas, ceritakan secara detail kepadaku."

"Nama gadis ini Valerie, dan dia sangatlah mengganggu. Dia selalu menempeliku dan menggandeng tanganku tanpa sepersetujuanku. Dan tadi..."

"Tadi apa? Jangan dipotong-potong."

"Dia menciumku. Secara paksa. Di sudut lorong."

Dengan secepat kilat, Anne menyemburkan minumannya dan untungnya, tidak mengenaiku.

Tapi tentu, itu sangatlah mengundang perhatian. Seluruh orang di greaf cafe memandangi kami dengan bingung sekarang.

"BETAPA BERANINYA DIA!"  Anne berteriak histeris. Sungguh, jika keadaannya tidak serumit ini, aku akan tertawa kencang karena ekspresi Anne tadi adalah ekspresi terlangka yang pernah kulihat. "Eh iya, gimana kabar cewe yang kau suka itu? Dia udah ada respons belum?"

Aku yang tadinya sedang meminum secangkir kopi, menjadi terhenti. "Yah, dia baik-baik saja. Dia melihatku seperti aku ini musuhnya. Tapi malah hal itu yang justru membuatku tertarik padanya."

Anne tertawa kecil, "Awwww, my lil' bro is falling in love, isn't he?"

"Kak, jangan bicara terlalu kencang, aku malu." Kataku sambil menunduk dan mencoba menutupi pipiku yang memanas ini. Anne tertawa, menyadari perubahan pipiku yang tadinya pucat karena suhu dingin kota Jakarta, menjadi merah memanas karena perkataan Anne yang menyangkut-nyangkut tentang dirinya.

"Thomas, it's okay to fall in love again. Not every love story would end up the same. Trust me."

Aku mengaduk-aduk pelan kopi yang ada didepanku. Bayangan tentang Emily kembali menghantuiku. Ya, Emily Blossom. Gadis dengan rambut ikal pirang dan pipi semerah buah persiknya memang sangat sulit dilupakan.

Kami pernah menjalin suatu hubungan, dan itu berjalan baik-baik saja sampai ayahnya memutuskan untuk pindah kerja dan mereka tidak memberitahuku kemana Emily pergi.

Dan sejak saat itu, aku takut.

Aku takut akan terluka lagi. Aku takut akan perasaan itu. Perasaan jatuh cinta.

Aku tak mau lagi merasakan terpuruk di situasi yang sama. Tapi semenjak bertemu dengan y/n, pandangan tentang 'cinta' menurutku perlahan-lahan berubah.
----------------------------------
Hi, sorry for late update and very short part bc kita semua banyak tugas huhu.
Inshaa Allah nanti part selanjutnya diusahain panjang sama cepet wkwk
Please vote please. Thanks
Tbs on mulmed.
-love, shanks(6)

Unpredictable▶ Thomas SangsterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang