twenty four

1.2K 220 19
                                        

Valerie's PoV

Oke, bilanglah aku adalah gadis yang tergila gila dengan cowok bule bernama Thomas dan tak rela jika cowok itu direbut dariku. Kenyataannya memang benar adanya.

Aku tahu detik ini hatimu menyumpah serapah pendapatku ini. Percayalah, kau akan setuju jika kau mengambil alih posisiku saat ini.

Bayangkan, kau mencintai seseorang dari menit pertama kau melihatnya, dan tiba tiba cowok itu mengajakmu untuk membangun suatu hubungan. Tentunya, kau akan berharap banyak. Harapanmu tiap hari makin melambung tinggi, sampai di suatu titik maksimal. Kau sadar, harapan itu isinya hanya kubangan berisi bualan klise.

Suasana sore ini sebenarnya cerah membuat kafe bertema vintage ini makin bernuansa terang tapi tetap tenang, dan jika dibandingkan dengan kondisi hatiku pasti sangatlah kontras

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Suasana sore ini sebenarnya cerah membuat kafe bertema vintage ini makin bernuansa terang tapi tetap tenang, dan jika dibandingkan dengan kondisi hatiku pasti sangatlah kontras.

Seseorang berdeham membuyarkan semua lamunanku dan tanpa sopan santun ia duduk pada kursi yang berada di depanku, hanya terpisah satu meja.

"Lo kenapa, Val?" pertanyaan basa basi yang entah untuk keberapa kali ditujukan padaku dari orang orang yang melihat air mukaku yang membawa aura dingin. Tapi, aku respek dengan orang di depanku ini, bagaimanapun dulu aku pernah menceritakan masalahku padanya dan dia menerimanya dengan baik jadi, aku menjawab sekenanya dengan menggeleng lemah.

Ia tertawa kecil, "Lo gak bakal ke kafe ini kalo gak ada masalah." Ucapnya membuatku melongo. Bagaimanapun aku bertemu dengannya hanya beberapa kali dan ia sudah tau fakta itu? Bahkan Thomas tak tahu fakta itu, karena aku menyembunyikan fakta itu rapat lantaran tidak mau dimasukkan dalam tipe cewek menye menye yang setiap dapat masalah akan bergalau ria di kafe.

Maaf saja, gengsiku terlalu tinggi.

"Gue mau pulang, Cam." Sahutku tiba tiba dengan nada lirih tanpa maksud mengusir Cam.

Ia menatapku teduh dengan senyum tipis menghias di wajahnya. "Gue anter, yuk."

Sepulang sekolah tadi supirku telah kupulangkan, dan ajakan Cam sangatlah menarik berhubung dengan wajah mengerikan begini dan pulang seorang diri itu bukanlah opsi yang bagus, jadilah aku setuju.

"Y/n." tiba tiba saja Cam—yang sedang sibuk menyetir—menyebutkan nama sahabatku itu, Ugh, atau mungkin mantan sahabat. Aku melongo, "Your best friend, am I right or right, Miss?"

"Ex." Balasku angkuh sembari menyilangkan tanganku di depan dada, saking bencinya dengan nama itu disebut aku tak peduli bagaimana Cam bisa tahu menahu tentang y/n.

"Y/n cewek baik, if you know, Val," aku memilih diam walau mulutku sudah menyiapkan sanggahan tajam. "Gue bilang gini bukan berdasarkan pengamatan satu dua hari. Gue tau semua sisi y/n karena gue sahabatnya dari kecil." Oke, aku memang tidak peduli tapi, sungguh aku agak terkejut tentang fakta itu.

"L- Lo pasti disuruh y/n buat nemenin gua selama di kafe kan?! Buat ngorek ngorek unek unek gue kan?! Bangsat, turunin gue!" cecarku membuat Cam sedikit terkesiap tapi, setelahnya ia mencoba menenangkan diri.

"Y/n gak se-bangsat itu, Val. Gue juga baru tau belakangan ini, setelah y/n cerita tentang seorang sahabat baiknya di sekolah yang cinta setengah mati dengan cowok pindahan berambut dirty blonde dan memiliki tinggi badan yang diatas rata rata. Tanpa y/n nyebutin nama lo, gue tau itu lo karena kalian satu sekolah, dan ceritanya persis kayak cerita lo," Cam membunyikan klakson karena mobil di depan kami tiba tiba mengerem seenak jidat. "Gue menyimpulkan sendiri." Lanjutnya dengan nada teduh.

"Belakangan ini y/n cerita bahwa dia abis nolak Thomas dengan alasan lo sayang banget sama Thomas. Dan demi sahabatnya, dia nyuruh Thomas nembak lo, Val. Karena itu gue masih gak ngerti, kenapa lo bisa benci y/n segitunya?"

Oke, ini mulai menyentuh hati. Omong omong si Thomas ternyata yang berengsek dari awal, ternyata ajakan pacaranya berdasarkan suruhan y/n tapi, aku menyadari suatu hal; Y/N mengorbankan perasaan untukku dan yang ia dapat hanya hujatan.

"Kenapa lo cerita kayak gini?" tanyaku sambil menahan emosi dan pertanyaan yang makin banyak mencuat.

Cam tersenyum, "Karena lo berhak tau yang sebenernya, Valerie."

--------------------------

pendek amat, thor.

Gak ada Thomasnya masa, thor.

yang penting kita sayang tbs. byE. e, jan lupa vote:))


.shanks.

Unpredictable▶ Thomas SangsterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang