five

2.7K 338 32
                                        

Y/n's POV

Oh God.

Lelaki yang digilai gadis gadis seantero sekolah barusan mengecup pelan leherku. Ya, lelaki itu adalah Thomas.

Aku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun saat Thomas beranjak keluar perpustakaan. Padahal ingin sekali aku berteriak memprotesnya.

Tapi, tunggu ada perasaan senang saat ia mengungkapkan bahwa ia menyukaiku, gadis yang sarkastik.
Oh tidak, apa apaan aku? Klise sekali jatuh cinta dengan lelaki populer disekolah.

Buru buru aku keluar dari perpustakaan hendak beranjak ke toilet wanita.
Tentunya, untuk memastikan bahwa wajahku tidak meleleh karenanya.
Aku tersenyum pada diriku di cermin. Sejujurnya dia sangat menjengkelkan ,tapi sore ini Thomas membuatku tidak bisa berhenti tersenyum.

Jam tanganku menunjuk angka 4.

Hujan.
Tak apalah, lagipula aku menyukai hujan.
Rumahku hanya beberapa blok dari sekolah jadi ya, aku hanya berjalan kaki untuk mencapai rumah.

Lorong sangat sepi.

Tunggu, is that Val?
Ew, menjijikan, melihatnya berciuman dengan lelaki disudut lorong.

Perasaan senangku seketika lenyap melihat lelaki tersebut adalah Thomas.
Bloody hell, apa maksudnya?!
Apakah dia memperlakukan semua wanita seperti itu?

Aku membuka payungku dengan kasar dan pulang dengan hati kesal.
Tidak, aku tidak menangis.
Aku bukanlah tipe cewek yang langsung jatuh cinta dengan lelaki yang menggoda, dan langsung histeris saat melihat lelaki tersebut ternyata 'tukang php'.

Ingin sekali aku berteriak, betapa berengseknya dia.
Oh tak perlu, tak ada gunanya.

Aku membuka dan menutup pintu rumah dengan kasar. Toh, hanya James yang dirumah, ia tak akan protes selama pintu tidak terlepas dari engselnya.

Aku melihat seseorang di kursi ruang tamu, dia sedang menunggu seseorang.
Sepertinya ia menyadari kedatanganku.
Tentu, mana mungkin ia tak mendengar bantingan pintu itu.

"Oh maaf, saya kira tidak ada ta--" perkataanku terputus saat tahu siapa yang datang.

"Hey y/n long time no see ya" ia memamerkan senyum yang sangat familiar.

"CAMMMMM!" Aku menghambur ke pelukannya.

Cameron Dallas, teman masa kecilku. Kami terpisah 8 tahun karena ayah cam di London sakit, maka cam harus kembali kesana. Tapi, kami selalu mengobrol satu sama lain lewat Skype, line, dan lain lain.
Sesaat aku langsung melupakan kejadian dilorong tadi, ya hanya sesaat.

"Ihhhh kok lu gak bilang kalo balik? Kan gue bisa dandan cantik dulu hehe. Eh ayah lo udah gak papa kan? Trus gimana London? Nemu cewek baru gak? Lu bawain oleh oleh gak? Jawab satu satu!" Segunung pertanyaan di otakku memberontak ingin keluar. Tapi hanya itu yang mampu aku keluarkan.

"Bawel banget. Satu, kan surprise jadinya gak bilang, sejak kapan lo dandan cantik ketemu gue, emang udah jelek gak usah sok cantik, dua ayah gue udah bisa kerja lagi malahan, tiga London baik, empat gue gak punya cewek duh, lima, nih!" Jawabnya cepat, jelas, dan padat sambil memberikanku bingkisan besar.

"Awww, thanks cam, you've made my day" teriakku sambil memperlihatkan cengiran terbaikku.

"So, kenapa pulang pulang ngebanting pintu?" Tanyanya tanpa basa basi.

"Nah,cuma murid baru yang langsung populer di sekolah" jawabku malas. "Ouh, you fall in love! Right?" Tanyanya penuh selidik. Aku hanya memutar bola mataku, malas menjawab.

"Woy, cerita kenapa" pintanya sambil menarik tanganku layaknya seorang anak meminta gadget baru.

Aku menceritakan semua tentang Thomas padanya dan aku selalu menekankan bahwa aku sama sekali tidak jatuh cinta padanya, agar dia tidak salah paham.

"Suka kan lo? Asek doi baru, kan lo baru tau dia belum seminggu jangan langsung nilai gitu dong. Sikat mang!" Komentarnya antusias dengan cengiran bodohnya.

Tapi ada sesuatu yang lain dimatanya, tapi aku tahu dia menyembunyikannya sekuat tenaga, itu berarti privacy. Dan aku adalah orang yang menghargai privacy orang lain ,jadi aku tidak menanyakannya walaupun aku sangat ingin.

"Apasih cam, dia udah punya cewek lagian ,tadi kan gue bilang dia ciuman di lorong. Jadi gabisa gebet deh, huh gak jadi doi barunya." Jawabku dengan muka sok sedih.

"Najis! Muka lo!" Teriaknya sambil melempar bantal.
Terjadilah perang bantal yang bodoh.

"Oh look, lovebirds lagi kangen kangenan. How cute" teriak James saat sampai di ruang tamu.
"Shut your mouth up James" jawabku sambil melempar bantal yang tepat mengenai mukanya.

Dua orang ini tidak pernah gagal menghiburku.
-------------------------------------------------
Sesuai janji fast update dan semoga cukup panjang ya partnya.
Sorry ya kalo bahasanya berantakan bc yang tugas ngedit cerita lagi persiapan UAS.
Karna penulisnya juga mau UAS ,so maaf lagi kalo nanti bakal late update.

Cameron Dallas as Cam on mulmed❤

SEMANGAT UAS YA!
-love, shanks(6)

Unpredictable▶ Thomas SangsterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang