twenty five

1.5K 225 88
                                        

Valerie's PoV

Seperti kata orang kolot; penyesalan datang belakangan.

Siapa sangka seorang Val kini mengerti 3 kata yang terdengar biasa ternyata memiliki makna yang lumayan mengejutkan serta memberi pelajaran; pikirkanlah akibat dari perbuatanmu.

Dan sekarang aku sangatlah menyesal telah membuang sahabat terbaikku padahal, ia hanya berusaha menyenangkan hati sahabatnya yang sama sekali tak tahu diri ini.

Setelah pembicaraan itu, aku dan Cam diliputi kesunyian yang cukup nyaman. Lalu tiba tiba saja aku menceletuk "Cam, ke rumah y/n yuk."

Y/N's PoV

Aku terkejut setengah mati saat melihat seseorang yang katanya sangatlah muak dengan buku -yang bahkan lebih tebal ketimbang LCD laptopnya- sedang duduk dengan tenang di sudut perpustakaan dengan novel bergenre fiksi detektif karya Sir Arthur Conan Doyle.

Seriously? Bayangkan saja seorang Thomas Brodie-Sangster -yang biasanya langsung berwajah pucat jika guru Bahasa Indonesia kami memberi tugas me-review sebuah novel yang tebalnya melebihi diameter bola tenis-kini duduk tenang dengan bacaan berat d...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Seriously? Bayangkan saja seorang Thomas Brodie-Sangster -yang biasanya langsung berwajah pucat jika guru Bahasa Indonesia kami memberi tugas me-review sebuah novel yang tebalnya melebihi diameter bola tenis-kini duduk tenang dengan bacaan berat di kedua tangannya.

Sebenarnya ini adalah pemandangan terlangka sekaligus terindah di mataku. Saat keningnya berkerut mungkin karena berfikir tentang alur ceritanya atau saat bibirnya sedikit tertarik karena entah paragraf tentang apa yang cowok itu baca. Tapi, aku menyukai setiap ekspresi yang dikeluarkan malaikat itu.

Dan sekali lagi, aku jatuh dalam pesonamu, Tom.

"Seganteng itu ya gue sampe diliatin mulu?" tanya Thomas dengan gaya angkuh tanpa melepas pandangannya dari buku membuatku nyaris ngeces tapi, keinginan ngeces itu berganti rasa malu yang memuncak, reflek aku langsung menyembunyikan diri layaknya cicak yang asal nemplok di rak buku. "Aduh, konsen gue pecah nih kalo diliatin mulu, gerogi nih diliat gebetan." sahut Thomas asal sambil menutup buku dan mulai berjalan mendekat. Sial.

Saat ia makin dekat, nafasku tercekat. Mampus deh gue, ketauan dalam posisi gak anggun sama sekali, batin mulai mengejek diriku yang makin terdesak.

Thomas tersenyum,jika saja senyumnya benar benar punya kekuatan mungkin aku telah bernasib sama dengan es krim yang dibiarkan di suhu 100 derajat celcius. "Emm... Gue tadi... tadi itu gue... gue mau ngambil novel." Thomas terkekeh mendengar alasan kliseku, sambil menepuk nepuk ujung kepalaku dan dengan gerakan ringan ia merangkulku dan mengajak keluar ruangan.

" Thomas terkekeh mendengar alasan kliseku, sambil menepuk nepuk ujung kepalaku dan dengan gerakan ringan ia merangkulku dan mengajak keluar ruangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Gila gak nyangka gue, lo bisa gerogi. Ganteng banget kali ya gue ngalahin Luke Hemmings dicampur Andrew Garfield" tuturnya dengan tenang. Sangatlah kontras dengan keadaan jantungku yang menyedihkan. Selama dekat Thomas mungkin jantungku tak akan pernah bisa santai.

"Apaan coba, geli. Pede lo ketinggian." cecarku membuat Thomas mengecup pipiku. Aku ulangi, THOMAS MENGECUP PIPIKU DI LORONG SEKOLAH YANG MASIH RAMAI. Membuat sebagian orang yang memilih santai di sekolah dulu setelah bel pulang sekolah berbunyi sejam lalu berteriak riuh dan yang lainnya mendengus sebal.

"Lo gemesin ya kalo lagi ngelak gitu jadi, makin cinta," sahutnya ringan. Sial, bisa bisa aku terkena serangan jantung mendadak jika Thomas terus terusan sadar pesona dan menggodaku mendadak seperti tadi. "Makan yuk, nanti aja pulangnya, gue anterin deh." aku hanya mengangguk samar dan Thomas mulai menautkan jari jarinya yang panjang dan hangat dengan milikku, menariknya ke tempat pakir motor. 

Saat aku duduk di jok belakang, Thomas mendengus membuatku menatapnya dari kaca spion dengan bingung. "Emangnya gua tukang ojek? Masa pegangannya di bahu," tangan Thomas yang tadinya sibuk dengan resleting jaket abu abunya malah menarik tanganku yang awalnya di bahu jadi pindah ke perutnya yang -Ehem- nyaman untuk digelayuti sepasang tanganku.

Tapi, cepat cepat kutarik tanganku sebelum jantungku memutuskan meloncat keluar. "Ih, apaan sih, gak usah pegangan ajalah." sahutku salah tingkah tanpa melihat spion karena aku tahu ia menatapku dengan senyum geli.

"Ya kalo lo jungkir balik ke belakang, gue gak tanggung jawab." Thomas melajukan motornya membelah keramaian kota dengan kecepatan gila gilaan dan tanpa sadar tanganku mencengkram pinggang Thomas. Ah, peduli apa, lebih baik menahan malu ketimbang harus mati mengenaskan di jalan raya begini.

Bisa kurasakan Thomas menyeringai dibalik helm full face-nya.

Thomas memberhentikan motornya di lapangan tempat diadakannya food fair minggu ini. Entah bibirku tersungging berapa centimeter. Menurutku inilah surga versi dunia. Bisa makan sepuasnya dengan harga di bawah rata rata. Saat aku menoleh ke kanan tertangkaplah Thomas yang memandangku terang terangan dan sikapnya langsung salah tingkah saat aksi memandangnya tertangkap basah olehku.

"Ketroprak, yuk!"serunya yang kucurigai untuk menutup nutupi sikapnya yang jadi serba salah.

Aku menggeleng dan menarik narik tangan Thomas seolah merajuk. "Itu aja!" kutunjuk stand yang menjual nasi goreng.

"Ketoprak!"

"Nasgor."

"Ke.to.prak. Gak ada penolakan, sayang."

Panggilan Thomas untukku membuat pipiku bersemu merah salah tingkah. Tapi, kan gengsi nomor satu, jadi dengan angkuh aku mencoba tenang. "Na na na nasi goreng." gumamku.

"Gini dah, abis nasgor. Nanti ketoprak." dengan anggukan yang berbarengan akhirnya kami mengisi perut gila gilaan.

Entah perut atau mulutku yang lapar, setelah nasi goreng, Thomas merangkulku ke stand ketoprak. Sesampainya ketoprak pesananku, dengan kesetanan aku menyuap satu sendok.

"Makasih," sahut Thomas, aku yang bingung hanya menatapnya dengan sebelah alis terangkat. "Makasih, lo mau tampil tanpa sok sok an jaga imej depan gue," oke, aku tersanjung membuat kakiku lemas. "Cewek jaman sekarang tuh makan di depan cowok pasti sok sok an setengah porsi padahal, kalo di rumah makannya satu gentong. Lo beda, lo istimewa dengan cara lo sendiri, y/n. Kalo lo tanya kenapa gue bisa naksir cewek gak punya malu kayak lo, jawabannya cuma satu; lo terlalu istimewa buat gue abaikan." pernyataan Thomas menohok sekaligus menyentuh hatiku paling dalam, menyentuh hati yang tak pernah terjamah oleh siapa pun selain karakter fiksi.

Aku bungkam seribu bahasa menyadari perasaanku untuk Thomas yang makin menggila, makin liar, makin meruah, dan sulit untuk dikendalikan. "Lo gak bisa romantis banget sih, masa ngomong ginian depan abang abang ketoprak." aku terkekeh saat Thomas menolehkan kepalanya dan menyadari abang ketoprak memandang kami terang terangan membuat Thomas menggaruk tengkuknya dan langsung berbalik, sok sibuk dengan ketoprak super pedasnya.

Lo juga terlalu istimewa untuk gue abaikan, Tom.

Thomas mengantarku pulang dengan aman. Saat motornya berhenti tepat di halaman rumahku ,mataku dan mata Thomas terfokus pada objek yang sama.

Valerie dan Cameron tertawa bersama di teras rumahku.


--------------------------

Baper gak?

Vote y, emg kita ga cape bikin ginian, hwhw, gadeng, vote ae uda.


.shanks.

Unpredictable▶ Thomas SangsterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang