so tell me when it's time to say i love you
When it's time - Green Day
Thomas's PoV
Kupandangi bola matanya yang bulat sempurna serta tiada henti mencurahkan kehangatan padaku. Ia yang membaca novel ber-genre fiksi remaja, dengan dagu yang dibebankan pada telapak tangan kirinya.
Sudah jadi kebiasaan kami jika tanda pulang sekolah telah berbunyi namun malas untuk sekadar pulang ke rumah. Ia menghabiskan sisa tenaga dan waktu dengan membaca tumpukan novel, lalu aku akan memandangi pemandangan indah tepat di depanku.
Kubelai wajahnya, membuat dirinya menatapku dengan sebelah alis terangkat mengakibatkan jantungku makin loncat loncat tak karuan.
"Apa?" ketusnya. Seperti biasa.
Aku tidak menjawab. Yang bisa kulakukan hanyalah menatap dirinya yang tak bisa kumiliki. Ia mendengus, selanjutnya ia menatapku malas dan kembali fokus pada kumpulan paragraf yang sama sekali tidak menarik.
Jelas jelas diriku lebih menarik.
Dua menit setelahnya ia menarikku ke tempat parkir, mengajak pulang. Antara perpustakaan dan tempat parkir terdapat berbagai fasilitas lapangan, lapangan basket, sepak bola, bulu tangkis, bahkan volly. Sehingga jaraknya cukup membuat nafas gadis di sebelahku ngos ngosan.
Kami masih di tengah lapangan, tapi tanpa permisi atau tanda tanda. Tiba tiba hujan turun dengan derasnya.
Aku yang tersadar langsung menarik tangan y/n, mengajaknya berteduh di lorong perpustakaan yang jaraknya lebih dekat ketimbang tempat parkir.
Alih alih mengikutiku, ia malah menahan gerakanku dengan cengkraman lembut di siku ku. Aku bertanya apa, ia tertawa kecil. "Ujan ujanan aja! Seru, tau!" ujarnya dengan suara agak tinggi –untuk mengimbangi suara jarum jarum air hujan yang menabrak tanah- tapi aku tau di kalimatnya terselip nada senang yang membuncah.
Aku berpikir sebentar, takut ia malah jatuh sakit. Kan gak ada yang bisa dimodusin lagi kalo dia gak masuk. Namun aku mengangguk juga pada akhirnya, sensasi dingin saat jarum air hujan menyentuh tubuh menggodaku.
Y/n berjalan lambat lambat di depanku, rambut yang biasa ia kuncir cepol makin berantakan dengan anak rambut yang mencuat cuat. Tangan kanannya sesekali mengusap mata karena terkena tetesan tangisan langit.
Tak tahan, kutahan tangan kirinya. Menarik tubuh mungilnya ke dalam dekapanku. Awalnya respon tubuhnya kaget namun, lambat laun pipinya bersandar pada dadaku. Aku makin membungkukkan tubuh dan menenggelamkan wajah di bahunnya.
Dinginnya cuaca makin tak berarti saat y/n berkata "Thanks, Tom," ia mendongak menampilkan pipi yang tadinya pucat, sekarang memiliki semburat merah muda membuatnya makin manis dan menghangatkan.
Aku tak tahu apa maksudnya, tapi yang kulakukan hanya mencium puncak kepalanya dan menariknya menuju mobil.
Klise memang, sederhana memang. Tapi, bagiku langit sore yang sedang menumpahkan tangisannya ini menjadi saksi, bagaimana seorang y/n bisa membuatku jatuh cinta berkali kali.
***
Sabtu sore ini, aku berjanji menjemput y/n dan Val ke pesta ulang tahun si cabe cabean yang setiap berbicara pada target godaanya pasti dengan nada mendesah membuat y/n berbisik ingin mendamprat cewek ini melayang menyusul Tuhan.
Baru lima menit kutinggalkan garasi rumah, aku mengotak atik handphone-ku. Menyentuh nama y/n di layar. Aku memang sengaja menjemput y/n terlebih dahulu, walaupun rumah Val lebih dekat. Biar ada waktu berdua gitu kan ya, bisa modus dikit.
Malanglah nasib Thomas Brodie-Sangster pada sore yang indah ini, ternyata sang gebetan lagi sakit. Tuh kan, sakit beneran.
Terpaksalah aku memutar dan menjemput Val. Sesampainya disana, Val telah menungguku di kursi teras rumahnya. Bisa bisanya ia memakai gaun dengan warna senada dengan kemejaku.
Tak apalah, toh sekarang dia temanku.
Ia sadar mobilku telah berhenti dengan manisnya di depan rumah megah ini. Aku hanya berdiam diri dibelakang stir mobil tanpa mau repot repot membukakan pintu untuknya.
Dia teman, aku tahu. Tetap saja aku tak sudi repot repot berlaku manis di depannya. Perlakuan manisku hanya untuk y/n. y/n seorang.
Val duduk di kursi penumpang belakang membuatku bingung dan menoleh. "Lo ngapain duduk disitu?" dia diam sebentar dan menghembuskan nafas.
"Y/n nanti di depan kan?" aku menggeleng dan menyuruhnya duduk di sebelahku. Bukan apa apa, aku tidak mau disangka supir cewek ini. Kuceritakan kenapa y/n tidak ikut, hanya bagian sakitnya bukan bagian bermesraan di lapangan dengan latar belakang hujan deras.
Ia mengangguk mengerti dan setelahnya tidak ada yang bicara. Entah aku memang malas berbicara atau dirinya yang tak berani, mungkin keduanya.
***
Kutempatkan diriku berjalan di belakang Val, sambil terus terusan chat dengan y/n padahal dibalas juga enggak. Oh, aku tak suka ini. Gaunnya dan kemejaku berwarna senada membuat siapapun mencap kami sebagai sepasang kekasih.
Ah peduli amat, tujuanku hanya dua disini: pertama membuat Valerie tidak jadi pecundang karena tidak memenuhi undangan, dan kedua memastikan Valerie pulang tanpa air mata mencuat dari sepasang matanya karena y/n meminta itu.
Val menghampiri si cabe cabean—siapa namanya? Ah, Asya. – dan mengobrol. Lebih tepatnya, Val hanya menjawab singkat sedangkan Asya berbicara dengan nada angkuh nan sinis.
Tadinya Val bisa menahan keadaan tetap biasa saja, walau aku tahu tangannya selalu mengepal setiap kalimat keluar dari mulut medusa milik Asya. Setelah Asya tahu kehadiranku ditengah tengah obrolannya dengan Val, ia dengan tampang minta di tendang berbicara, "Oh, lo bawa Thomas? Gimana? Cara busuk lo buat deketin y/n sekalian buat deketin Thomas kan?" setelahnya Val menarikku pergi, dalam diam.
Tapi, belum sampai di pintu keluar. Val sudah terkena cacian sadis, kira kira seperti ini bunyinya:
"Y/n salah milih temen."
"Dasar busuk!"
"Temen makan temen." Dan lain lain.
Sadar buliran air mata telah membuat sungai di pipi Valerie, ganti aku yang menariknya. Cepat cepat pergi. Ia menyenderkan punggungnya di pintu dan menutup wajah basahnya. Hatiku marah melihatnya menangis. Aku tak suka melihat wanita menangis.
Tanpa pikir panjang, kutarik tubuhnya ke dekapanku.
Berharap itu dapat menenangkannya, bukan jadi malapetaka yang akan menghampiriku nanti.
-----------------------------------------------------------------
Calum Thomas Hood's girl. Anyone?
Baca 02:00 AM yak. Punya @cuddlypunkrock –member of shanks.
vote y. cape ni nulis, gadeng.
Salam tegar, Shanks
KAMU SEDANG MEMBACA
Unpredictable▶ Thomas Sangster
Fanfiction"Well, if i could date fictional characters, i would. Boys nowadays are acting like a jerk, okay? And my heart wasn't made for those guys who just touch it and leave a big hole in it." y/n said. written in Bahasa. [Completed] Copyright © 2015 by sha...
