seventeen

1.6K 252 80
                                        

'How can i move on when i still in love with you'

The man who can't be moved - The Script


Thomas's PoV

Masih ingat Anne? Kakak dengan segala kesibukkannya. Akhirnya hari ini aku bisa berbagi cerita lagi. Ah, bilang lah Thomas cowok lembek, layu, suka curhat. Aku tak peduli, ini ceritaku. Kau tak suka? Silahkan tinggalkan aku.

Dalam sedetik, author akan angkat bicara "bersyukurlah ada yang mau repot membaca cerita menye nan tak jelas dirimu, Tom, jangan songong, lu dugong."

Anne menghempaskan dirinya di sofa belakangku sambil menggigit pizza nya sedikit demi sedikit. "So, ada kemajuan?" tanyanya tanpa aba aba.

Aku hanya mengeherdikkan bahu, memasang muka minta dikasihani. Sekarang, sangatlah cocok jika orang mencap ku lelaki patah hati, kesepian, tak tahu harus apa. See? Hanya satu wanita. y/n yang dapat membuat hatiku melankolis, tampangku mirip orang kecanduan obat. Mengerikan.

Anne mencolek colek bahuku dengan jempol kakinya, kurang ajar. "Dia ngejauh karena cemburu kali? Hm?" tanya Anne dengan nada ganjen bak tante tante penggoda.

"Cemburu kenapa? Emang gue ngapain?" Anne hanya mengerdikkan bahu, "sumpah, bagi cerita sama lo gak guna, buang waktu, bikin mood tambah jelek." Anne tertawa sambil menempeleng kepalaku, dengan kaki lagi lagi.

Ia menarik napas layaknya ingin memberi suatu rahasia terpenting. "Gini ya, Tom. Semua cewek kalo cemburu itu tinggal dielus kepalanya, dipeluk, terus bilang 'Don't worry baby, I'm yours' mantep, langsung kejang kejang di tempat dah."

Ya ada benarnya juga perkataan Anne, masalahnya y/n bukanlah wanita yang sekali digombal langsung meleleh apalagi kejang kejang. Ia beda, sungguh. Ia istimewa dengan caranya sendiri. Lagipula belum tentu y/n cemburu. Cemburu karena apa pula?

Uh oh! Modus pake LINE kan bisa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Uh oh! Modus pake LINE kan bisa.

Thomas: Nasi goreng enak.

Y/n: emang

Thomas: seriuuuusss, yok jalan

Y/n: jangan serius serius nanti jadian.

Thomas: yuk lah jadian, mau?

Y/n: Gila ya lu. Diem ah, novel gua gak abis abis ini.

Thomas: Ayo dong elah, gue bosen as hell

Y/n: ajak val aja ah, gua males.

Thomas: gua maunya sama lo.

Thomas: jam 5. Mandi ya. gak mandi gua seret paksa naik motor.

Thomas: cepet mandi

Y/n: gak mau

Thomas: doamat. Cepet. Gak bakal gua bales lagi.

Y/n: Gue sih gak peduli lo mau bales apa kaga ya

Y/n: anj gak dibales beneran?

Y/n: oi

Y/n: AELAH IYAK NI MANDI GUA BUSET.

Hati Thomas berteriak kegirangan. Terima kasih, LINE.

***

Y/N's PoV

Jam 5 kurang 10 menit, dan ia telah bertengger tenang di atas motornya, sungguh, aura tampannya makin menyeruak hingga 278090 kilometer. HAHA lebay anj.

Ya intinya, ia yang memakai kaos putih bertuliskan 90 dan jaket abu abu yang resletingnya dibiarkan terbuka. Sudah pernah mencoba move on dari orang setampan ini? Yang bahkan semua wanita tidak punya kuasa menolak pesonanya. Semua wanita akan jatuh dalam pesonanya yang memabukkan.

Kuakui aku mabuk akan pesonamu, Thomas.

Hari ini aku memakai kaos tanpa lengan berwarna hitam dengan flannel merah diluarnya serta celana pendek selutut berbahan jeans. Lagipula hanya makan makan biasa.

Ia tersenyum saat menyadari kedatanganku, memamerkan auranya yang menyeruak lagi dan lagi. "Cantik." Komentarnya, terdengar tulus, tapi aku terus terusan menganggapnya bualan biasa lelaki keparat tukang pemberi harapan palsu. Kau tau kenapa? Agar perasaan ini tidak semakin tumbuh dengan liarnya.

Aku memilih diam, tak berkomentar dan langsung naik ke jok belakang.

Thomas menghentikan laju motornya di parkiran, tepat di seberang tempat ini terdapat food court yang bersebelahan dengan mall. Sungguh mainstream.

Setelah Thomas turun dari motornya ia menggenggam tanganku dan menariknya untuk menyebrang jalan. Dulu, saat otakku belum memutuskan untuk move on. Rasanya genggaman ini begitu biasa, sederhana, namun mampu membuat hatiku berbunga bunga layaknya orang jatuh cinta.

Uh oh! Aku memang jatuh cinta dengan cowok tolol ini, bahkan karena aku jatuh dalam pesonanya, aku tak bisa lepas.

Namun kali ini, genggamannya terasa menyayat hati. Hatiku senang, tapi akal sehatku terus terusan menolak. Ah, untuk hari ini saja, biarkan hatiku bahagia, wahai akal sehat.

Sambil berjalan, Thomas menoleh. "Mau makan apa nonton dulu?" tanyanya. Aku mengerdikkan bahu, tanda berkata 'terserah'. "Semua cewek ngomongnya terserah," aku melotot, dasar cowok kurang ajar, mainnya gender. "Eheheh, yaudah, nonton dulu aja lah."

Di depan bioskop, tangan Thomas berpindah, dari tangan kiriku ke bahu. Posisi merangkul, kau tahu? Sial, gimana mau move on, geblek?!

Seorang salesman yang sedaritadi bertengger di depan gerbang bioskop, menawari sesuatu pada Thomas, aku tidak peduli jadi tidak kudengar apapun itu yang ia tawarkan. "Saya gak inget nomor telepon rumah ,mas." Sahut Thomas yang aku dengar.

"Mungkin pacarnya inget nomor rumah masnya?" aku terkejut dan menoleh kearah salesman ini. Anjir, belom apa apa udah di cap pacar. Sialnya Thomas tidak berusaha mengelak, malah senyam senyum tak jelas.

Thomas menarikku ke dalam bioskop, masih dengan keadaan merangkul. "Pacar saya gak inget mas, maaf ya." jawabnya sambil ngacir ke dalam bioskop, menghindar.

'Pacar' ya?

Kami menonton, lebih tepatnya aku menonton dan Thomas tertidur pulas di bahu kananku. Kurang ajar. Setelah film selesai, kugoyangkan tangan kirinya, membangunkan. Dua kali percobaan, ia bangun dengan menguap dan mata merahnya khas bangun tidur. Sungguh, semua pemandangan akan kalah jika kau melihatnya sekarang.

Kami—Thomas dan aku, makan seperti biasa, ia mengantarku ke rumah seperti biasa, tanpa ada kecanggungan, benar benar seperti dulu. Sungguh aku rindu.

Aku turun dari motornya, menepuk bahu Thomas, tanda 'Terima kasih'. Saat membalikkan badan, Thomas memanggilku. Membuatku berbalik dan kembali menghampirinya, menatapnya dengan penasaran.

"Jadian yuk?" BUMI GONJANG GANJING. Tanyanya tanpa basa basi dengan nada bercanda, tapi tidak dengan hatiku yang makin dangdutan.

Aku terkekeh. "Apasi." Sarkas.

"Gue serius. Lo mau gak jadi pacar gue?"

Kalimat terakhirnya membungkamku seribu bahasa, menyadari perasaanku tumbuh makin liar.

----------------------------------------------------------

Masih banyak kok partnya, belom selese. JAN LUPA VOTE Y. DD CAPE. mwa.

gue juga nulis fanfict luke woi, baca kek di profil w:( aku maksa, trapapa, trapeduli. mwa lagi.


shanks.

Unpredictable▶ Thomas SangsterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang