seven

2.4K 319 75
                                        

Thomas's POV

Mata ayah dan ibu menatapku heran saat sarapan.

Ya, aku memasang muka acak acakan pagi ini. Tidur tidak merubah moodku yang sudah jelek karena Valerie.

**

"Kesini kau!" Teriakanku yang sinis itu ditujukan untuk Valerie yang sedang tertawa dengan teman temannya (yang sama memuakkannya dengan Valerie).

"Oh, look, that's my baby. Bye guys" sahut Valerie kepada teman temannya yang disambut gelakan tawa yang memuakkan disepanjang lorong. Sebagian ada yang menatap kami (val dan aku) dengan tatapan bahagia dan sisanya dengan tatapan jengkel.

"Jelasin." sahutku tanpa basa basi. "Apa yang perlu dijelasin?" Jawabnya sok polos. Tak tahan dengan sikapnya yang menjijikan, aku langsung memperlihatkan foto 'itu'.

"Kenapa sayang? Itukan wajar wajar aja dilakuin sama orang yang lagi pacaran." Jawabnya dengan menekankan kata 'pacaran'.

Apa apaan sih dia? Aku terlalu muak dengan sikapnya. Tak tahan lagi, aku meninggalkannya.

Saat aku berbalik.

Mata itu menatapku sinis. Y/n.

Oh great! Aku harap dia tidak mendengar apapun yang dikatakan Valerie.

Kuharap.

Y/N's POV

"Y/N! Kamu itu malah bengong, bisa tidak menghargai guru yang sedang menjelaskan?!" Teriakkan Bu Fani membuatku langsung duduk tegap dan mengarahkan pandanganku hanya kepadanya. Jujur saja, kata kata Valerie pada Thomas di lorong pagi ini masih terekam jelas di otakku. Benarkah mereka memiliki hubungan khusus, ya maksudku—pacaran?

"Y/N! kalau kamu tidak memperhatikan ya, berarti kamu udah ngerti rumus yang ini kan?" Bu Fani kembali berteriak sambil menunjuk salah satu rumus di papan tulis.

"Coba kamu kerjakan soal nomor 7 halaman 250. Sekarang. Di papan tulis.Kalau jawaban kamu salah maka satu kelas kena hukuman." Tantangnya. Padahal cuma gara gara bengong.

Guru ini memang masih muda, cantik pula tapi kalau sudah mengajar, tingkat buasnya melebihi singa liar yang lapar.

Beliau salah besar, bukannya aku sombong, tapi memang aku sudah menguasai pelajaran ini, maupun pelajaran kelas 12, dan menurut teman temanku, aku anak yang dimasukkan ke golongan anak pintar.

Oh, maaf tadi sombong ya namanya?

Aku mengerjakan soal di papan tulis dengan cepat, tanganku menuliskan rumus begitu lancar, begitu mudah aku menjawabnya.

TEEEETTTT

Akhirnya, tanda istirahat pertama mengeluarkan bunyinya yang membuat telinga terasa ngilu, walaupun begitu bunyinya selalu di iringi sorakan senang murid murid.

"Pengen seblak deh gue, ke kantin yuk" bujuk Riska, teman sebangkuku.

"Males gue Ris, lu bareng Dian aja ya?" jawabku selembut mungkin agar Riska tidak meluapkan emosinya yang kalau meledak, bisa bisa aku dicuekkin sampe minggu depan.

"Yeh, pasti mau baca novel fiksi lagi kan? Pantesan gak dapet cowok, setiap cowok yang deketin lu dicuekkin aja sih, padahal banyak yang ganteng. Lu tuh ya demennya malah sama yang gak nyata" Komentarnya panjang sambil tertawa cekikikan.

"Kampret" gumamku pelan sambil meninggalkannya.

Aku langsung menuju perpustakaan, bilang saja aku adalah cewek nerd, payah, atau kuper or whatever you want deh. Tapi kalian salah hehe, aku cukup punya banyak teman bergaul, bedanya aku tidak suka menghabiskan waktu dengan bergosip ria di kantin.

Setelah memilih buku mana yang akan aku baca dan aku tangisi hari ini, aku langsung duduk di pojok ruangan.

"Lu kalo pinter, bagi bagi ilmu dong. Gue bego banget nih mate nya." Sahut seseorang yang tanpa malu malu duduk disampingku.

Bisakah orang ini menyingkir saja? Mood ku sudah buruk karena omelan Bu Fani, kenapa harus dia lagi yang datang?

"Diem." Sahutku sambil melanjutkan membaca.

"Weits galak amat, cepet tua bu nanti." Jawabnya sambil tertawa pelan.

"Mau lo apa sih, Tom?" Tanyaku sarkastik.

"Hm gue pikir dulu deh, Oiya gue pengen lo."

"Apaan sih." Jawabku sok tidak peduli sambil pergi meninggalkannya.

Saat aku meninggalkannya, aku berjalan agak cepat tapi tanganku langsung ditahan oleh orang aneh berambut pirang eh, maksudku Thomas.

"Yaudah kalo lu belum siap jadi punya gue, gue mau ID LINE lu dong" Pintanya sedikit memaksa.

"Buat apa?"

"Buat pedekate lah, masa masih gak peka juga?"

Dia ini manusia macam apa sih? Kemarin dia membuatku terbang tak terkendali saat ia mengatakan bahwa ia menyukaiku, gadis yang sarkastik, tapi dengan cepat ia membuatku terjatuh sejatuh jatuhnya saat ia mencium Valerie di lorong.

Tadi pagi ia memasang muka marah, yang bahkan aku tidak berani menatapnya dan sekarang ia berubah 180 derajat menjadi sangat hangat dan lembut.

Dasar aneh.

----------------------------------------------------------------------
Hai.

for your information nih, ff ini bukan murni karya gue sendiri.

Kalian sering liat pasti di setiap part pasti ada tulisan SHANKS(7).

Jadi, yang bikin ff ini ada 7 orang yang masing masing punya tugas , walaupun isinya 7 orang tapi tetep aja gak bisa update cepet karna masing masing masih punya kegiatan sekolah, maaf ya.

Jangan lupa vote sama comment ya, tinggalin jejak lah, siapa tau abis vote kedatengan thomas di kamar (gak rela nulisnya) EHEHEHH.

-shanks(7)

Unpredictable▶ Thomas SangsterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang