twenty two

1.4K 239 77
                                        

From the moment i met you, everything changed.

Stand Up by One Direction


Valerie's PoV

Aku melihat semuanya, karena pintu ruang rawat itu tidak sepenuhnya berbahan kayu, melainkan ada sepetak kecil berbahan kaca yang tembus pandang. Kecil memang, hanya berbentuk persegi panjang di atas kenop pintu tapi, cukup membiarkan mataku melihat dan mendengar semuanya sekaligus.

Melihat pemandangan yang tak kuduga, pemandangan yang harusnya menjadi milikku. Aku tahu aku egois, aku tak peduli, ia pacarku dengan kata lain milikku. Bukan milik y/n. Okelah, aku bisa mentoleransi perbuatan Thomas yang begitu mesra terhadap y/n. Mungkin karena y/n sakit, mangkanya ia mengatakan kata kata manis untuk memperbaiki perasaan y/n. Ya, pasti begitu.

Tidak mungkin memang tapi, aku yakin dua orang itu tak akan mengkhianati kepercayaan yang kami bangun selama ini. Semua keyakinan itu tiba tiba saja runtuh saat aku melihat Thomas mendekatkan wajahnya ke wajah y/n. Karena aku tahu teman tidak berciuman di bibir.

Yah, percuma juga aku meyakini itu. Lagipula, hatiku sudah hancur berserakan tak berbentuk, bahkan sebelum bibir mereka saling bertautan. Jadi, daripada hatiku berserakan tak karuan, aku memilih meninggalkan ruang rawat itu dengan air mata yang terus terusan membentuk sungai kecil di pipi serta, membuang jauh jauh niat menjenguk sahabatku.

Dengan langkah lebar lebar dan agak cepat aku menyusuri lorong rumah sakit -yang terang tapi, bagiku suram- menuju lift di ujungnya. "Val?" seseorang mencoba menghentikan laju jalanku dengan menahan bahuku. Seperti penuturan di atas, hatiku hancur tak karuan sehingga aku tak peduli. Kupaksa kakiku berjalan meninggalkan tempat ini.

***

Senin ini, Thomas menjemputku seperti biasa, aku pun berlagak seperti biasa. Saat di kantin, Thomas tiba tiba saja menggamit tanganku, menariknya ke taman belakang sekolah yang sepi. Membuatku terkaget kaget, karena caranya menggamitku cukup lembut, biasanya Thomas selalu mengindar dengan lembut jika aku mencoba menggamit tangannya. "Ayo, Val, kita jalan berdua aja." Sahutnya membuatku melambung tinggi dan melupakan kejadian kemarin di rumah sakit.

Dari tampang semua orang di kantin yang melongo, aku tahu ini bukan sesuatu yang biasa Thomas lakukan. Dan dengan iringin tatapan semua orang, kami meninggalkan kantin menuju bagian sekolah yang terpencil dan jarang terjamah oleh murid lain. Semua yang kulihat di rumah sakit seolah tak ada apa apanya saat aku ingat beberapa gosip pacaran di tempat terpencil begini. Berciuaman di lab IPA, berpelukan di ujung perpusatakan, atau berduaan di belakang gedung sekolah.

Oh inilah saatnya aku diajak bermesraan dengan Thomas. Saat kami sampai, kudengar Thomas berkata pelan, "Val, kita putus aja ya."

Lima kata yang sanggup menyamai petir, menghujam hatiku. Membuatku tak bisa lagi berkata kata. "Aku tau ini cepet banget, tapi, aku emang gak niat pacaran sama kamu. Tiap hari aku makin ngerasa bersalah. Maaf." sahut Thomas murung.

Dengan menahan tangis aku memaksa diri untuk berbicara dengan nada segarang mungkin, "Kalo gak niat, kenapa kamu ngajakin aku pacaran, Tom?"

Dengan menahan tangis aku memaksa diri untuk berbicara dengan nada segarang mungkin, "Kalo gak niat, kenapa kamu ngajakin aku pacaran, Tom?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Unpredictable▶ Thomas SangsterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang