thirteen

1.6K 260 8
                                        

'and if  you hurt me, that's okay baby'

Photograph - Ed Sheeran

Y/N's POV

Suara gesekan kertas setiap kuselesaikan dua halaman bacaan membuat Thomas mengantuk setiap detiknya. Matanya diusahakan tetap terbuka walaupun dunia mimpi telah menunggunya di seberang sana. Aku tertawa pelan melihat usaha kecilnya.

Perbuatan kecil namun manis yang Thomas lakukan untukku selalu berhasil membuat otakku memikirkannya sebelum tidur.

Aku tidak mau mencintainya. Karena Valerie begitu mencintai Thomas, dan menurutku Thomas lebih pantas mendapatkan Valerie yang notabene lebih sempurna dibanding diriku.

Oh, kalian pasti bingung kenapa aku berbicara tak jelas seperti ini. Baiklah, jadi minggu lalu kejadiannya begini...

Selepas tanda pulang sekolah, aku bergegas meninggalkan kelas dengan tergesa gesa agar Thomas tidak melihatku. Bisa gawat kan jika Thomas melihat aku mendatangi Valerie? Bisa bisa, Valerie didamprat sampai ujung dunia.

Setelah berhasil lepas dari cengkraman Thomas dengan beralasan aku sangatlah sibuk untuk sekadar menemaninya bermain gitar karena akan bertemu teman lama.

Entah kenapa jantungku berdegup sangat cepat saat diriku sudah terpampang manis di depan pintu café. Kenapa aku terlalu gugup? Kubuka pintu kaca café bernuansa vintage ini setelahnya aku mengedarkan pandangan, mencari sosok Val. Tak sampai 5 detik, kutemukan ia duduk manis sedang menyesap minumannya di meja dengan 2 kursi berhadapan yang terletak di pojok ruangan.

Aku menghampirinya dengan cara berjalan kaku nan canggung. Bagaimana pun dia pernah mem-bully diriku yang malang ini kan?

Ia menyadari kedatanganku lalu mendongak, memberikan senyuman hangat namun kaku. Jelas berbeda dengan Valerie di sekolah. Valerie yang angkuh. Dengan masih memampang senyumnya, Val menyuruhku duduk dan menyodorkan segelas Green Tea Latte.

Sejak kapan ia tahu aku menyukai Green Tea Latte?

Aku menatapnya dengan alis terangkat. "Kalo ini soal Thomas, gue bener bener gak ada niatan buat ngerebut di—." Penjelasanku yang sok tahu itu dipotong dengan gelengan kepala Val.

Val tertawa kecil. "Ih, kenapa lo yang gugup si y/n?" aku menatapnya bingung. "Gue ngajak lo ngomong buat minta maaf." Matanya menatapku teduh. Minta maaf? Val kerasukkan apa?

Aku mencengkram rok abu abuku –saking bingungnya- hingga buku buku jariku memutih, "Minta maaf? Sumpah, gue gak ngerti." Ia menatapku sebentar kemudian menyunggingkan senyum –yang kurasa- tulus.

"Maaf, gue numpahin mie itu ke lo seminggu yang lalu. Maaf, gue maksa nyium Thomas. Ma—."

"Ya,ya,ya. Gue gak keberatan lo nyium Thomas. Toh, gue gak suka sama dia." Bohong.

Valerie mengerjapkan mata dan menatapku bingung. "Lo gak suka sama Thomas?" aku mengangguk sok tenang.

"Jadi lo gak keberatan?" aku mengangguk lagi.

Val menghela napas lega seraya mengubah posisi duduknya menjadi lebih santai. "Lo tau, dia orang yang bener bener bikin gue jatuh cinta, y/n. Gue emang pacaran berkali kali tapi, baru kali ini ada cowok yang bener bener bikin gue salting di depannya." Aku terbelalak tak percaya, Begitukah makna seorang Thomas untuk hidup Valerie?

"Dan temen temen gue gak ada yang ngerti sama curhatan gue, mereka selalu bilang kalo gue harus nyingkirin lo. Mereka bilang kalo gue harus buat lo menderita biar Thomas bisa jadi milik gue. Sedangkan gue tau dan semua orang tau, sebenernya lo lebih dari segalanya buat Thomas, gak peduli usaha gue buat nyingkirin lo." Valerie bercerita dan berhasil membuat mataku melotot tak percaya.

Val mengalihkan pandangannya. "Temen temen gue emang gitu, selalu mengandalkan kekuasaan buat ngedapetin ini itu. Ya.. emang sih gue sebelas duabelas sama mereka. Tapi, gue ngerasa lo gak pantes gue singkirin, lo gak pantes gue injek injek. Karena- gue tau ini pernyataan paling gak bisa dipercaya atau goblok- gue pengen banget punya sahabat kayak lo."

Saat mengucapkan kalimat terakhirnya, Val menatapku teduh membuatku merasa dirinya telah berubah.

Val tertawa pelan melihat tampangku yang pasti guoblook abis. "Gue tau, gue tau. Lo gak percaya gue ngomong gini dan emang gue gak pantes temenan sama lo, y/n."

Aku menggeleng seraya memperhatikan Green Tea Latte yang belum tersentuh karena sibuk dengan otakku yang masih mencerna semua kata kata Val. "Bukannya gitu, gue selama ini nilai lo jelek. Gue gak nyangka lo punya sisi lain yang lebih.." kutarik nafas perlahan. "Menyenangkan." Val tertawa pelan.

Setelahnya mendengar pengakuan yang tak masuk akal tersebut, otakku berjanji untuk berusaha menyatukan Valerie dengan Thomas. Yah, setidaknya membuat mereka dekat. Otakku berjanji, namun diam diam hatiku berkhianat.

Dan menit berikutnya, kami berbicara hal hal ringan seolah telah berkawan bertahun tahun. Esoknya, satu sekolah gempar melihat kedekatanku dengan Val, tidak terkecuali Thomas.

Ia melihatku berjalan beriringan dengan Val di lorong dan tahu tahu saja ia menarikku ke kelas tanpa melihat Val sama sekali, aku yakin kelakuannya tadi menghasilkan sayatan sayatan kecil di hati Val.

"Ih! Emang ye, dasar curut! Gue kan udah bilang jangan deket deket sama itu nenek lampir. Kalo kejadian di kantin keulang lagi gimana?" Thomas menyerangku dengan semua omelannya. "Gue tau, lo deket sama semua orang. Tapi jauh jauh lah dari si nenek itu." Lanjutnya.

Aku mengerdikkan bahu dan memukul muka Thomas –yang kepo abis dan sumpah, mirip emak gue kalo ngeliat anaknya tidur dalam keadaan belum mandi dari kemaren- dengan buku tebal berjudul MATEMATIKA di tanganku.

"Dia temen gue." Jawabku mantap namun dengan nada tenang.

Dan setelahnya, Thomas mulai menerima kehadiran Valerie yang selalu beriringan dengan kehadiranku walaupun pada awalnya, tingkah Thomas yang protektif padaku sesekali membuat air muka Val berubah muram. Yah, usahaku mulai berhasil kan? Aku senang sekaligus khawatir.

Khawatir, jika Thomas meyukai Valerie. Mampus aja hati gue. Kudu ngelus ngelus dada tiap hari kalo beneran kejadian. Tapi, aku selalu saja mengaku bahwa aku tidak punya perasaan apapun terhadap Thomas jika Val menanyakan prihal seperti itu.

--------------------------------------


Ini dikit banget, sorry. Anj udah lama apdet trus dikit lagi.

Maklum y gengz mwa. VOTE jan lupa, aku sedi. pencet bintang doang gampang kan:" gak sesusah beli tiket pepsos.


Shanks7

Unpredictable▶ Thomas SangsterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang