One night and one more time. Thanks for the memories.
Thanks For The Memories by Fall Out Boy
Y/N's PoV
Aku rasa aku telah bangun, buktinya setengah jam yang lalu aku mulai bisa mendengar suara Thomas memanggil namaku. Suaranya yang berat dengan aksen khasnya, ah aku rindu. Ingin rasanya membuka mata yang rasanya lengket sekali, tapi tidak bisa, tak peduli seberapa keras aku mencoba.
Entah berapa kali pemaksaan yang kucoba untuk membuka mata terkutuk ini. Hampir saja putus asa melandaku tapi baguslah, dua detik setelahnya aku berhasil. Cahaya yang masuk pertama kali membuatku mengerjap beberapa kali, dominasi warna ruangan biru cerah dan putih yang masih belum jelas di penglihatanku sehingga tampak seperti gradasi warna. Saat mataku mulai sesuai, kujelajahi isi ruangan dengan penglihatanku hingga di sudut ruangan aku menemukan pemandangan yang memang aku tunggu.
Disana, Thomas tidur dengan wajahnya yang damai dan deru napas yang teratur. Ingin rasanya lari dan jatuh dipelukannya, pelukan yang selalu berhasil membuatku tenang dan hangat.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Entah gerakanku yang terlalu membahana atau apa, Thomas bangun dengan muka berantakan tapi tidak menutupi pesonanya yang menghanyutkan. Pesona yang aku rindukan bahkan saat aku tidur. Melankolis banget anju.
Ia tersenyum bahkan aku yakin saat ini kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul, dan wajahnya yang jelas jelas menampakkan kelelahan, ia masih tersenyum untukku saat ia lelah, aku yakin setengah nyawaku melambung tinggi entah sampai langit ke berapa.
Ia berjalan mendekat dan hanya tiga kata yang ia ucapkan; "gue kangen lo." Setelahnya aku membeku di pelukannya. Ah, Thomas bisakah kau hentikan waktu? Aku tau ini egois, tapi aku ingin kejadian ini abadi.
Tak lama aku menyadari aliran hangat dari pelukannya, dengan kesadaran penuh dan hati yang makin berdegup kencang, kulingkarkan kedua tanganku di pinggangnya. Bisa kurasakan pipi hangatnya menyentuk puncak kepalaku.
"Maafin gue yang selalu ngelirik lo di setiap kesempatan, padahal lo suruh gue pergi. Asal lo tau gue mengaggumi lo entah lo mau kayak apa. Gue gak mau semua berubah, y/n. Gue tau untuk saat ini, menjadi bagian hidup lo adalah ketidakmungkinan yang selalu gue semogakan. Seenggaknya izinin gue buat ngeliat lo baik baik aja selama gue gak ada. Gue kelimpungan lu gak sadar dari kemaren." Thomas melepaskan pelukannya dan diam diam aku kecewa karenanya, matanya menatapku dengan teduh, membuat air mataku menitik membasahi ujung mata.
Ia tersenyum idiot. Ah, sungguh aku rindu dengan tampang idiotnya yang bahkan lebih menggoda ketimbang senyum penuh pesonanya. "Drama, anjeng lu." Responku sambil mendorong pelan bahunya membuat Thomas menepuk nepuk puncak kepalaku dan sekali lagi aku melambung tinggi.
"Males dah, gak bisa diajak serius," balasnya dengan nada tersinggung dan sikap bersedekap seolah aku tak memberinya jatah es krim. "Gue serius sayang sama lo, pesut." Tubuhku membeku, sial kenapa pula aku harus menatap matanya dalam dalam? Sungguh, sulit mengalihkan pandangan saat mataku bertemu dengan miliknya membentuk garis tak kasat mata yang lurus.
Thomas mendekat, makin mendekat, membuatku bisa merasakan napas hangatnya di sekitar wajahku. Membuat wajahku memanas dan merah layaknya kepiting rebus. Makin ia mendekat, makin menyeruak wangi parfum bercampur keringat, entah kenapa aroma tubuh Thomas yang khas selalu memanjakan penciumanku.
Ia mendekatkan wajahnya sambil tersenyum.
Jika saja aku tidak ingat janjiku dengan Val, maka bibirnya pastilah telah menempel dengan milikku.
Nyatanya saat kami hanya berjarak beberapa millimeter aku ingat dengan janjiku, dan mendorongnya pelan. "Tom," sahutku membuat Thomas menjauh sambil menatapku bingung. "Gue belom sikat gigi dari kemaren."sahutku asal mencari alasan yang sekiranya masuk logika dan tidak menyinggung Thomas sama sekali.
Ia terkekeh geli, aku tahu pipinya bersemu merah, ah unyu bat si lu, idung pesut. "Follow your heart, your brain is stupid as shit." Sahutnya pada akhir tawanya.
"Maksud lo apa? Nyindir gua bego? hah?!" tanyaku dengan nada tak senang yang dibuat buat, hih, siapa pula yang tidak senang jika kehadiran Thomas selalu mengumbar pesona hangat di setiap inci tubuhmu?.
Thomas menyentil dahiku dan tertawa. "Dasar bego." Ia diam sebentar. "Tapi gue sayang, sih." Lanjutnya.
"Lo sayang gue juga gak?" tanya Thomas santai sambil mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang rumah sakit ini, mengangkat kakiku hingga sekarang sepasang kakiku yang dingin ada di pangkuannya, kelakuannya sangat santai seolah ia tak sadar jantungku sudah lari marathon di belakang tulang rusuk. "Sayang gak?" tanyanya untuk kedua kalinya, kali ini menatapku lekat lekat.
Kusenderkan punggungku di tumpukan bantal, dan bersedekap, "Menurut lo gimana?" Thomas mendengus.
"Hih, semua cewek jawab pertanyaan, pake pertanyaan juga. Capek dede." Tangan Thomas dengan pelan memainkan jari kakiku.
Sebenarnya, otakku siap berdemo lantaran aku merusak janjiku sendiri. Yah, aku kan sakit, sekali sekali dapat keringanan, tak apa kan?