thirty

1.4K 204 78
                                        

Y/N's PoV

"Lo mau tidur dimana emang kalo nginep?" tanyaku karena Thomas protes saat aku pesankan kamar di salah satu hotel dekat flatku. Thomas menyeringai penuh ambigu sambil melirik kamarku membuatku melotot namun gugup juga.

Thomas terkekeh. "Engga, gue di sofa aja. Lagian lo tau kan kalo pria sama wanita berumur 24 taun di kamar berdua aja bakal berakhir gimana?" Thomas menaik turunkan alisnya jahil.

Dan siapa pula yang tak akan tersanjung saat seorang Thomas sangster berusaha melindungi wanita even dari dirinya sendiri.

Dan pagi ini aku terbangun dengan senyum. Thomas mengubah sofaku menjadi tempat tidur darurat dengan bantal, bed cover, selimut, lengkap dengan boneka unicorn-ku yang masih kusimpan. Sial, boneka unicorn lebih menarik ketimbang tubuhku.

Thomas seperti ini lebih menarik ketimbang seorang pria dengan setelan jas-nya yang rapi.

Thomas's PoV

Dunia bertambah indah saat melihat gadismu memasak sambil menghentak hentakkan kepalanya sesuai irama yang keluar dari earphone di sepasang telinganya. Wanitaku yang hanya memakai kaus kedodoran yang menutupi hingga setengah pahanya, membuatku memikirkan... -ehm- aku pria berumur 24 tahun, wajar kan?

Aku melempar boneka unicorn ke lantai dan berjalan mendekat ke arah y/n. Kunciran rambutnya yang bergoyang goyang aku tarik hingga rambutnya tergerai kemana mana. Ia menoleh dan melempar senyumnya.

Tolong Thomas, Ya Tuhan.

"Pagi, Sangster." sapanya dengan senyum tipis yang berhasil membuatku ingin segera melarikannya ke pelaminan sekarang juga.

Aku membalas senyumnya. "Pagi juga, Sangster." balasku dan sengaja aku menambahkan 'sangster' disana, yah, cita citaku saat ini kan hanya satu; mengganti nama belakang wanita ini dengan nama belakangku.

Ia menyajikan sarapan di depanku dan buru buru kembali ke kamarnya sambil membetulkan kuncir kudanya lagi.

Setelah sarapanku habis, y/n keluar dari kamar dengan rok biru tua dan kemeja putih polos. Rambutnya yang telah disisir, ia jadikan satu menjadi kuncir kuda. Entahlah, mungkin ia adalah definisi sempurna bagiku.

"Whoe, mau kemana?" tanyaku.

Ia menoleh dan bengong sebentar. "Gue kan kerja," aku manggut manggut. Sepertinya gadisku telah menjadi wanita dewasa yang bahkan aku tak menyangka ia menyandang hidupnya sendiri saat kakaknya telah menikah dan tinggal beda pulau. "Kalo mau makan, banyak fast food di lemari sama kulkas, kalo mau makanan yang lebih manusiawi tungguin gue pulang."

"Yah repotin banget ya gue?" Y/n memutar bola matanya dan terkekeh kecil.

"Engga."

"Maaf." aku bergumam.

"Engga sayang," aku menoleh saat panggilan menyenangkan itu lolos dari bibir kecil y/n. Bagaimanapun ini keajaiban. "Eh- khilaf itu." y/n menghentikan aktifitas mengikat sepatunya.

"Gak papa babe, khilafnya sering sering ya. Kalo bisa sampe ke kamar." aku tertawa keras saat y/n melempar sebelah sepatunya sambil menghunuskan pelototan.

"Goodbye hugs?" Y/n berdiri di hadapanku.

Aku menampilkan air muka jijik yang dibuat buat. "Ew. No. Go away." Y/n terkekeh dan saat itu juga aku menariknya ke dekapanku membuatnya jatuh di atas tubuhku yang masih duduk di sofa. Semburat merah mengelilingi pipinya.

Ia terpekik dan bukan karena kaget melainkan karena kesakitan saat aku menarik lengan kirinya. Dengan cepat aku menggulung kemejanya dan tangannya menampilkan banyak- sangat banyak goresan tipis yang hampir sembuh. Aku menatap y/n yang menunduk.

Inilah alasan ia selalu memakai baju lengan panjang.

"Kenapa?" tanyaku lirih dan ia masih termangu di tempatnya. Emosiku menggebu hingga tanpa sadar aku menatapnya gusar. "Seriously, y/n? gue tau lo gak bego. Gue percaya lo gak bakal mikir pendek kayak gini. Gue selama ini percaya dan lo dengan mudahnya ancurin kepercayaan gue?! Kepercayaan gue tentang lo yang bisa jaga di--"

"Kehilangan bisa bikin orang berubah. Jangan egois." dengan itu ia pergi meninggalkanku dengan rasa bersalah yang memuncak.

Y/N's PoV

Aku mengarahkan mobil bukan ke kantor melainkan ke arah -entah kemana, yang penting tempat ini sepi karena otakku sibuk dengan kata kata Thomas pagi ini.

Disini sebenarnya siapa yang egois? Thomas yang pergi tanpa memberi tenggat waktu yang jelas dan kembali hanya untuk menuduhkan pendapatnya bahwa aku merusak kepercayaannya? atau aku yang menyiksa diri demi mengalihkan perasaan tertusukku saat Thomas tidak ada disini, tidak di sisiku.

Semua orang bilang dunia tidak adil dan itu yang membuat dunia adil.

Aku memberhentikan laju mobil di parkiran kafe yang baru kali ini aku datangi.

Saat aku berniat mengambil uang simpanan yang ada di laci dashboard mobilku, aku melihat buku catatan kecil yang tak pernah kulihat dan dengan judul yang ditulis dengan tinta hitam tebal.

Let's start our love story.

Aku membukanya dan itu sanggup membuatku menutup mulut untuk tidak terisak lebih kencang.

You are my reasons to wake up smiling and go bed the same.

Y/n, i was in love with you.

I am and trully will.

Dan di bawahnya tergantung dengan tenang sebuah cincin.

-------------------------
Maw dabel apdet tra?

.shanks.

Unpredictable▶ Thomas SangsterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang