ten

2.2K 276 44
                                        

'i fake a smile so he won't see'

Teardrops on my guitar - Taylor Swift

Y/N's POV

Sudah lima hari setelah pernyataan Thomas yang lebih seperti bercandaan, walaupun begitu tetap saja jantungku tak mau memelankan suara degupnya setiap aku bertemu Thomas.

Setelah pernyataan Thomas itu, aku lebih banyak menghabiskan waktu dengannya. Berangkat sekolah, pulang sekolah, terkadang Thomas memintaku untuk menemaninya eskul futsal, dan bahkan ia selalu menemaniku di perpustakaan walaupun wajahnya selalu terlihat menahan kantuk setiap menemaniku.

Hubungan kami bisa dibilang dekat, tapi terkadang aku masih berusaha menghindarinya mengingat setiap aku dan Thomas berdekatan pasti puluhan penggemar Thomas di seantero sekolah langsung menatapku tajam dengan tatapan psikopat asli seolah berkata 'gak usah deket deket Thomas!'. Creepy memang.

Malam ini aku tak bisa tidur, entah karena jantungku yang terus terusan memukul mukul dadaku seolah minta keluar dari tulang rusuk setiap Thomas muncul di pikiran atau karena tadi siang aku menonton Insidious dengan Cam.

Sudah tengah malam dan aku benar benar tidak bisa menemukan posisi tidur yang nyaman. Tangan kiriku menyentuh dahiku, panas. Pantes aja gak bisa tidur, taunya demam. Aku mendesah malas, sesekali melihat jam di layar handphone-ku.

Tiga jam kemudian, perlahan mataku mulai dihantam rasa kantuk dan perlahan tertutup seiring nafasku yang mulai teratur.

Pukul setengah enam pagi. Mengerikan, aku melihat pantulan diriku di cermin. Sungguh, wajahku terlihat menyedihkan, ada kantong hitam di bawah mataku akibat hanya tidur selama dua jam, mukaku pucat, dan badanku terasa lemas.

"Gak usah sekolah dulu kali" usul James dengan nada cemas saat melihatku sarapan dengan muka lesu layaknya orang yang tidak ada gairah hidup. Seorang kakak yang kadang gak tau diri pun tetaplah kakak yang protektif.

"Gue gak mau susulan fisika, masih kuat gue elah" jawabku setengah tak peduli dan tanggapan James hanya mengangguk pasrah, ia tahu adiknya ini keras kepala.

Lima detik kemudian terdengar bunyi klakson motor. Loh? Bukannya Thomas gak bisa jemput ya hari ini batinku seraya membuka pintu, seketika seulas senyum bahagia langsung tercetak di wajahku saat melihat Cam sedang melepas helm dan berkata "Butuh ojek gratis kan?"

Dengan kecepatan kilat aku berbalik dan mengambil tas seraya pamit pada James. Lalu aku berjalan cepat, kembali lagi ke pintu depan, memakai sweater karena badanku gemetar kedinginan dan sepotong roti masih kuapit dengan bibir.

Masih ingat bahwa barusan aku bilang bahwa aku kedinginan? Rasanya itu tidak berlaku saat aku naik ke jok belakang dan memeluk tubuh Cam yang dibalut jaket, secara ajaib tubuhku tenang tenang saja.

Sesampainya di sekolah, Cam membuka helmnya dan mengobrol denganku sebentar alih alih langsung pergi ke sekolahnya, karena itu beberapa siswi yang melewati kami langsung tersenyum centil dan mengomentari wajah tampan Cameron bahkan tidak sedikit yang mencoba menggodanya. Ew.

Aku berjalan di lorong menuju lokerku sambil menguncir rambutku asal, beberapa temanku menyapa dan menanyakan kabarku lantaran aku terlihat sangat lesu.

Setelah memutar kunci loker, buru buru aku mengambil buku sebelum aku jatuh pingsan karna tiba tiba saja kepalaku pusing dan kaki yang tadinya menopangku mendadak saja lemas dan gemetar.

Unpredictable▶ Thomas SangsterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang