Apakah Ini Takdir?

2.6K 110 0
                                        

Terduduk diantara ribuan orang yang hilir mudik didepanku. Tak peduli mereka melihatku dengan tatapan aneh. Aku tak peduli, aku hanya ingin masuk ke ruangan operasi itu, lalu melihat keadaan kekasih ku sekarang.

Disinilah aku berada sekarang. Rumah Sakit Husada, plang nama yang tertera di depan rumah sakit ini. Menunggu seseorang yang kucintai, sejak ku tau tentang kabar Alfa tadi.

Dengan cepat aku berlari mencari taksi yang ternyata secara tidak sengaja sedang terparkir dengan manis didepan rumahku.

"Rumah Sakit Husada" ku ucapkan nama tempat itu kepada bapak supir taksi yang keheranan melihat air mata yang sudah meluncur dengan indah dipipiku.

Ia pun segera me-starter mobil taksinya, dan berjalan menuju tempat yang sudah kutuju.

Sesampainya didepan pintu gerbang rumah sakit itu, aku berlari menuju tempat administrasi hingga tak sengaja membuat jatuh anak kecil. Aku meminta maaf padanya, iapun memaafkanku walaupun terlihat sedikit kekesalan diwajahnya.

"Cari pasien siapa mba?" Tanya sang administrasi itu.

"Denandra Realfa Vendrino" ucapku yang berusaha menahan tangis lagi.

"Baru masuk UGD mba, ruangannya dari sini belok kiri aja ya" ucapnya berusaha membuatku tersenyum.

"Terimakasih" ucapku lalu tersenyum walaupun sedikit pada sang administrasi tadi.

Sesampainya, di ruang UGD. Aku bertemu Adel yang ternyata sudah sampai terlebih dahulu disini.

Kupeluk Adel, dan bertanya apa kejadian dengan Alfa.

Namun, ia tak menjawab. Ia malah menangis bersamaku lalu mengelus punggungku perlahan.

Akupun merenggangkan pelukan kami tanda tak paham diotakku.

"Alfa kenapa del? Kenapa?" Ucapku yang hanya dijawab senggukan Adel sesaat.

"Del jawab dong!" Ucapku mulai tak tahan dengan sikap Adel.

Kulihat Ibunda Alfa, ia menangis juga. Aku menghampirinya, iapun memelukku. Aku semakin tak paham apa maksud semua ini. Akupun mencoba bertanya perlahan kepada ibu Alfa alias calon mertuaku.

"Bu, Alfa kenapa?" Tanyaku perlahan, masih dalam pelukan kami.

Sama halnya dengan Adel, hanya dijawab senggukan sesaat saja.

Akupun berfikir, apakah Alfa tabrakan? Iya, itu sepertinya jawaban yang seharusnya aku ketahui sedari tadi.

Ibu Alfa merenggangkan pelukan kami.

"Alfa, nak Senja. Alfa" ucap ibunda Alfa lirih.

Aku menengok kearahnya. Mungkin, ia yang akan menjawab penasaran ku yang sedari tadi.

"Alfa kenapa bu?" Tanyaku perlahan.

"Dia ditabrak," ucap Ibu Alfa yang malah membuatnya dan aku menangis.

Kami tersedu seketika, aku berdiri dari dudukku di lantai tadi.

Kedekatkan mataku menuju jendela yang tertutupi oleh kain ruangan UGD.

"Percuma nja, lo ngga bisa liat apapun selagi masih ada kain penutup jarak antara lo dan Alfa" ucap Adel yang ternyata sudah berada dibelakangku.

Aku terhenyak, melihat wajah Adel rasanya sangat sulit untuk tersenyum sekarang.

Tiba - tiba saja pintu UGD terbuka lebar. Mengeluarkan tempat tidur dorong yang diatasnya masih tertidur lemas seseorang yang kucintai.

Segera aku mendekati tempat tidur yang sedang didorong oleh banyak suster dan dokter itu. Hingga mereka melarangku masuk kesuatu ruangan. Saat kulihat ternyata ruangan itu adalah ruangan operasi.

Show Me You CARECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang