Sad, Smile and Hurt

4.5K 187 0
                                        

Tertawa layaknya seperti anak kecil. Ingin rasanya seperti itu lagi. Tanpa beban apapun. Tertawa sebebas - bebasnya. Merasakan angin yang menghembus di jari - jemari kecil itu. Dan berteriak sekuat - kuatnya. Kapan aku akan merasakannya lagi?

Aktivitas yang padat ini. Terkadang membuatku ingin bermain dengan masa kecilku lagi. Perempuan kecil yang kurus, memiliki rambut kisaran sebahu dengan kuncir kepang dua di sisi kanan dan kirinya. Ia tertawa, terbahak - bahak hingga akhirnya batuk keras dan diberikannya minuman segelas susu putih hangat hingga tertidur dipangkuan sang ibunda.

Tidur tanpa beban, tidur senyenyak yang di inginkan. Hingga terbangun dan bermain lagi dan lagi. Tertawa tanpa ada luka dan kebohongan belaka. Iya, aku sangat merindukan masa kecilku.

Aktivitas kuliah yang menjadi keseharianku ditambah sekarang magang yang membuatku pulang pukul 22.00 malam setiap harinya. Terkadang membuatku lupa untuk makan. Yang membuat maag penyakit yang aku benci itu kambuh untuk kesekian kalinya.

Aku rindu pelukan ayahku. Kasih sayang ayahku yang begitu besar membuat aku ingin merasakan dipeluknya lagi. Dahulu, penyakit maag ini tidak mungkin kambuh. Karena, ayahku yang selalu menyuruhku makan, terus menerus dan akhirnya terkadang kami membuat keributan dirumah. Ayahku yang selalu memarahiku jika pulang larut malam, ayahku yang selalu membuatku kesal jika menyuruhku makan. Tetapi, aku rindu pada momen indah itu.

Tepat didepanku, sebuah papan bertuliskan nama seseorang, yang sudah meninggalkanku 5 tahun yang lalu. Kini, aku berada tepat didepan pemakaman ayahku. Tempat ini cukup sepi. Hanya ada aku sendiri dan sang angin yang menari - nari di sepanjang tempat ini.

Dingin, kuusap tanah itu dan membaca beberapa ayat suci Al-Qur'an untuk mendo'akan ayahku. Disana tertulis "Muhammad Maher" aku rindu seseorang itu. Ayah, maafkan aku. Kuliahku terlalu sibuk, ditambah aktivitas magangku. Aku baru sempat kesini, maafkan aku ayah. Aku rindu. Assalamualaikum.

---
"Senja, lo kasih ini ya ke meja nomer satu" perintah Alfa kepadaku. Iya, dia memang atasanku. Walaupun umur kita hanya berbeda beberapa bulan saja tetapi aku harus hormat dan patuh pada perintah atasanku.

"Meja nomer satu! Senja dataaang!" Ucapku dengan penuh semangat kerja.

"Semangat banget lo nja? Tumben biasanya lemes abis pulang kuliah?" Ucap Alfa yang langsung memberikanku pertanyaan setelah memberikan pesanan pada pelanggan tadi.

"Yaiyalah gue semangat. Gimana ngga semangat coba fa, lo ngga nyadar apa? Hari ini kan hari pertama kali gue dapet gaji! Uang hasil kerja keras gue selama sebulan ini. Wah! Ngga sabar nunggu jam 21.00 malam nanti"

"Hhmm, udah gue duga. Ternyata sepemikiran juga ya kita"

"Hah? Maksudnya?" Ucapku penuh penasaran. Ya, maklumin aja ngga connect 15 menit lagi gue bakal gajian.

"Ngga jadi deh, nih kasih ke meja nomer 5! Cepet!"

"Siap bos!" Aneh banget lu fa. Semenjak telfon malem - malem jadi gini efeknya.

21.00
"Taraaaa. Dapet juga deh gaji magang selama sebulan ini. Hasilnya ngga seberapa sih, tapi ya usaha,kerja keras dan capenya itu! Patut di acungi jempol! Enak juga ternyata kuliah sambil magang"

"Cielah, yang baru gajian! Selamat ya Senja" Alfa tiba - tiba saja sudah berada disampingku sambil melihat tingkah ku yang seperti anak kecil baru pegang uang.

"Sejak kapan dah lo ada disini? Gue kira masih bagiin gaji staf lain"

"Gue dari tadi disini kali. Lo nya aja ngga nyadar - nyadar" sambil memanyunkan mulutnya.
"Sorry, yaelah"

"Senja, sebagai gajian pertama. Traktir gue dong. Gue kan yang bantuin lo selama sebulan ini. Traktir gue ya? Gue ngga bakal bilang siapa - siapa ko kalau gue di traktir lo. Iya? Please ya?" Alfa memohon

"Iyadeh gue traktir. Tapi kali ini aja ya, bulan depan dan bulan seterusnya jangan. Habis dah duit gue kalau traktir lo terus"

"Haha! Yeay! Makasih bro"

"Tapi, pulangnya lo anterin gue sampe rumah ya. Awas aja lo tega gue naik bis sendirian?"

"Iyaaa, bawel lo lama - lama. Ayo napa, perut gue udah kruyuk - kruyuk nih"

"Yaudah let's go!"

Aku dan Alfa berangkat menuju restoran terdekat di cafe ini. Menaiki motor Alfa yang lumayan tinggi membuat aku susah untuk menaikinya.

"Andi Home" tertera nama restoran itu dari depan. Malam ini cukup ramai. Mungkin, karena kebetulan malam ini adalah malam minggu. Malam dimana para anak muda berkumpul dengan teman, sahabat bahkan pacar.

"Selamat datang di Andi Home" ucap sang penjaga kasir itu. Akupun mencari tempat duduk di dekat jendela. Tempat yang menyenangkan karena bisa melihat pemandangan indah dari luar.

"Alfa, lo pesen apaan?" Sambil membuka - buka lembaran demi lembaran menu yang sudah tertera di depan meja.

"Gue pesen Crispy Chicken with Salad aja nja" sambil menutup buku menu itu.

"Seriusan? Ayam di campur salad apa rasanya coba?"

"Lah? Rasa ngga menjamin kali. Kesehatan baru terjamin. Lagian dari kecil hidup gue udah dipenuhi sama yang namanya sayur" Dengan percaya diri ia mengucapkan kalimat per kalimat itu.

"Ohgitu? Pantes aja badan lo sehat gitu"

"Iyalah, lo pesen apa cepet! Gue mau panggil pelayannya" lalu, melambai - lambai kan tangannya ke arah pelayan yang sibuk mondar - mandir ke meja manapun sedari tadi.

"Steak 1 sama Chrispy Chicken witj Saladnya 1 ya mba" memberikan senyum semanis mungkin.

"Minumnya mba?"

"Juice Mangga 1, lo apaan fa?"

"Gue air putih aja"

What? Itu orang aneh banget deh. Udah makan sayuran minumnya air putih aja.

Setelah pelayan itupun pergi. Akupun langsung memberikan beribu pertanyaan yang sedari - tadi sudah membenak di otakku.

"Lo aneh banget deh fa. Udah suka makan salad minumnya air putih aja. Jangan bilang lo di ajarin minum air putih aja pas lo masih kecil?"

"Hahaha, udah gue duga lo pasti langsung kasih gue pertanyaan. Gue lagi radang, jadi lebih suka minum air putih aja."

"Oh gue kira apaan"

Menunggu pesanan makanan membuatku bosan juga. Restoran ini cukup ramai, membuat pesanaku sedari - tadi belum datang juga. Pandanganku terhenti sejenak ketika melihat pasangan yang sedang duduk dimeja dekat pintu keluar. Satu wanita memunggungiku tetapi satu lelaki menghadapku. Lelaki itu? Ya ampun, lelaki itu Ka Fatih. Dan wanita itu? Iya benar dengan gaya rambut seperti iti sudah jelas itu adalah Ka Sheila. Sialan, mengapa selalu bertemu di saat yang tidak tepat? Apakah ini yang namanya takdir? Mengapa takdir ku begitu se rumit ini? Yang selalu saja membuatku akan sakit seperti ini lagi? Ah, sialan.

"Senja, lo lagi liatin pasangan yang waktu itu minum di cafe kita ya?" Suara itu mengagetkanku, ternyata Alfa sedari tadi memperhatikan gerak - gerikku.

"Iya fa, mereka itu sebenarnya senior gue di Universitas"

"Lo suka sama cowo itu ya?"

Deg.

Ko lo tau sih fa? Gue makin percaya kalau lo mata - mata in gue deh?

"Ngga lah, yakalu gue suka sama senior gue"

"Ohgitu. Lo lagi ngga bohong kan nja sama gue? Gue lebih suka lo terbuka gitu. Anggap aja kita udah kenal lama"

Njir, gue harus jawab apa?

"Gue..."

"Lo suka kan sama senior lo?"

---------
Hahaha, sengaja gue buat penasaran wkwkwk. Mana nih voment? Jangan baca aja dong kawan. Heheh, see you in chapter 7. Enjoy with your reading!

Show Me You CARECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang