"Leona's day."

342 44 4
                                    

✖16✖

Aku memeluknya erat, rambut blonde nya yang tak terurus itu menyapu wajahku yang hampir basah karna tangisan. Aku tak tau apa yang akan terjadi padaku nantinya. Tanpa dirinya lagi. Aku memang sangat bergantung padanya. Ia sahabatku sekaligus adikku.

"Aku ingin kau tetap disini, Le, "pintaku dengan nada tersedu-sedu. "Please, dendam itu tidak baik. Mengapa kau tidak meminta Peyton untuk membatalkan perjanjian kalian? Bisa kan?"

Bukannya anggukan, Leona menggeleng."Aku tak bisa. Acara pertunangan kami itu besok. Aku minta maaf belum memberitahumu. Sungguh, aku tak ingin membuatmu khawatir."

"Jadi kau sudah mempersiapkan semuanya?"tanyaku.

Ia mengangguk."tentu saja. Aku minta maaf tidak memberitahumu, Mili. Tapi, aku tak akan pernah melupakanmu sebagai sahabat terbaikku. Aku berjanji."

Aku menggeleng dan melepaskan pelukan kami. Sambil menyeka air mataku, aku berusaha tersenyum di depannya.

Leona, gadis yang kukenal sejak duduk di bangku Junior High School. Ia hanya gadis berambut pirang dengan senyuman lugu nan manis yang menghiasi wajahnya. Ketika sudah mengenal Elena, dia berubah. Leona menjadi playgirl. Walau ia masih bisa menjaga kehormatannya. Sampai sekarang.

"Aku pergi dulu ya, Mili. Ngomong-ngomong, ini undangan pernikahanku. Aku senang sekali bila kau bisa hadir.--"

"Apa? Kau bilang pertun--"

"Aku tidak mau membuatmu kecewa. Jadi, aku berupaya untuk merahasiakan pernikahan ini. Ini bukan pertunangan,ini pernikahan."

"Di dalam situ ada surat dariku untukmu. Semoga kau membacanya dan mendalami isi dari suratku itu. Take care Mili, kau itu cantik dan ada seorang lelaki yang telah menunggumu."

"Maksudmu siapa? Adam? Michael? Ashton? Hey, siapa? Bukan calum kan? Pasti luke!"

"Take care Mili."

****

Hari itu penuh dengan tangis. Calum tak kunjung pulang. Setidaknya aku terus menangis tanpa henti . Tak perduli sudah dua kotak tisu yang kuhabiskan untuk mengelap air mataku yang menangisi kepergian Leona, sahabatku sejak dulu.

Aku kangen Calum. Biasanya bila ada dia ketika aku menangis karna Luke atau apapun yang membuatku menangis, ia pasti selalu ada disini. Memberikan pundaknya untukku. Aku rindu akan tangannya yang menyeka air mataku dengan halus.

"Aku pulang Cam! Aku bawa coklat banyak,nih!!"

Calum, dan 5 buah tas tentengannya, tengah berdiri di ambang pintu. Sial. Mengapa aku menangis lagi di hadapannya? Sial.

"Kau kenapa?" Ia bertanya seraya menaruh Tas tentengannya diatas meja. Kemudian menghampiriku dan memelukku erat.

"Kenapa kau tak pernah berkata padaku? Kenapa?"tanyaku diselingi isak tangis. Pelukannya semakin erat, aku tau ia merasakan apa yang kurasakan. Seperti ada telepati diantara kami berdua.

"Leona? Itu pasti tentang dirinya,kan, Cam? Sungguh, aku minta maaf" Ia memelukku lebih dalam. Sampai membuat nafasku sedikit sesak,walau akhirnya ia melepaskannya.

Calum pun menyuruhku untuk duduk. Ia beranjak dari sofa untuk pergi ke Dapur. Kemudian ia pun kembali sambil membawa secangkir air hangat.

"Entahlah.. aku tak tau harus bagaimana. Kupikir masih ada persediaan coklat panas, ternyata habis. "Gerutu Calum pelan.

Aku pun meneguk secangkir air hangat yang diambilkan Calum. Lalu Mengambil Tisu untuk menyeka air mataku.

"Aku dan Leona Kenal sejak kami satu les dulu. Aku pernah les Matematika sekali. Kami satu kelas waktu itu. Ia gadis yang baik, ia suka bercerita tentang seorang gadis berambut coklat lalu gembul yang sangat ia sayangi. Hahaha. Tentu saja itu kau,Cam. Sayangnya, aku baru sadar sekarang karna kita baru kenal beberapa bulan ini. Ia bilang kau friendly dan hobi makan. Kau juga pintar dalam segala bidang. Kuakui omongannya benar,"papar Calum.

Calpal ListTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang