21

210 15 3
                                    

"Ra, mata lo kenapa? Kok Item gitu?" Tanya Erlin

"Semalem lo begadang?'' Tanya Nia.

Kemarin malam adalah malam panjang untukku.

Flashback
"Langsung saja kita keintinya. Clara, aku ayahmu,''

Aku terdiam. Ayahku? Aku masih memilikinya? Aku fikir dia benar benar tidak akan datang seperti perkataan Riki. Kalau memang benar dia menyayangiku seharusnya dia datang lebih cepatkan? Entah aku harus bereaksi seperti apa. Aku tidak merasakan senang atau pun sebaliknya.

"Sepertinya pernyataanku tadi membuatmu terkejut, nak?''

"Kalau memang benar mengapa anda baru mencarinya?'' Tanya bu Nia

"Banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan...''

"Dan itu lebih pending dari anakmu? Sungguh keterlaluan''

"Bu bisa tinggalkan kami berdua?'' Tanyaku

Bu Nia memandangku. Terlihat dua mengatakan apa tidak apa apa? Dan aku hanya mengangguk

"Baiklah'' kata bu Nia sambil bangkit dan pergi meninggalkanku dengan ayahku.

"Kenapa baru mencariku?'' Tanyaku.

"Maaf nak. Tapi ayah selalu mencari kamu sama adek kamu'' jawab ayah

"Ikutlah dengan ayah. Kamu tidak perlu tinggal di sini sendiri. Jika bersama ayah pasti lebih menyenangkan. Karna ada ibu dan Hana'' lanjut ayah. Aku berfikir sejenak. Ibu? Hana? Siapa mereka? Dan aku terkejut

"Tunggu jadi ayah...''

"Iya''

"Aku..beri aku waktu. Sekarang bisakah ayah pergi?'' Pintaku. Seketika hening. Kemudian ayahku bangkit

"Ayah akan menunggu jawabanmu'' sambil berlalu pergi meninggalkanku.

Ayah, jadi dia menikah lagi? Meninggalkan ibu, aku, juga Rafael? Tidak bisa di terima. Lebih baik aku tinggal disini.

Flashback end

"Ra? Yah dia bengong. Eh ra'' panggil Erlin

"Panggil dia tu gini gue tunjukin'' kata Riki yang tiba tiba saja sudah di samping Clara.

Clik

"Au sakit ih!'' kataku sambil mengusap keningku yang baru saja di sentil Riki

"Tu kan sadar'' kata Riki

"Ih kamu ya bener bener jahat banget. Kenapa si?'' Tanyaku

"Eh jangan salahin gue dong. Temen lo dari tadi manggil lo. Lo malah bengong kaya orang pea'' kata Riki.

"Hah? Masa? Kenapa Lin, Nia?'' Tanyaku dengan wajah polos

"Aduh lo kenapa si? Ada apa apa bilang dong sama kita'' tanya Nia

"Gapapa kok serius deh'' jawabku bohong

"Awas aja lo sampe nyembunyiin sesuatu dari kita'' kata Erlin

"Aku bingung'' kataku

"Kenapa?'' Serentak Nia dan Erlin

"Sejak kapan tuan menyebalkan ada disini?'' Tanyaku sambil melirik Riki

"Yeee kirain apaan'' serentak mereka kembali

"Kalo lo ada disini, ya pasti gue disini lah'' jawab Riki.

"Cieee...ah bikin iri aja lo berdua. Meding kita cari bangku lain yu Ni'' ledek Erlin

"Ih apaan si kalian. Tuan menyebalkan paling kesini ngerjain aku'' kataku

"Tau aja lo. Ambilin gue cemilan dong maid. Apa aja dah yang menurut lo enak'' kata Riki. Benar kan apa kataku.

~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sangat menyebalkan. Riki ada di rumahku dan seenaknya kesana kemari. Mengambil ini itu sendiri. Dasar tamu tidak tau diri. Dan sekarang dia sedang asik maen ps

"Tuan menyebalkan, ini udah malem tau kenapa masih disini si?'' Tanyaku

"Baru jam 7 juga. Lebay banget lo, maid'' jawab Riki yang pandangannya masih fokus ke layar.

"Mending sini lo ikut maen maid. Dari pada lo liatin doang'' lanjut Riki

"Ga ngerti ah'' kataku

"Makanya sini gue ajarin'' kata Riki. Setelah kufikirkan, perdebatan ini tidak akan selesai kalau tidak ada yang mengalah diantara kami. Lagi lagi aku yang harus menurutinya.

Baru 30 menit aku sudah bisa mengalahkan Riki. Ternyata mudah melawannya. Tapi kenapa Rafael tidak bisa? Menyenangkan juga maen ps ternyata.

"Clara!!!'' Teriak seseorang yang suaranya tidak asing bagiku.

Aku arahkan pandanganku pada suara itu. Dan ternyata benar dugaanku. Ayahku

"Kenapa kamu disini?'' Tanyaku seraya bangkit

"Aku ayahmu tentu saja aku mengunjungimu. Kenapa ada laki laki disini?'' Tanya ayah

"Maaf jika saya tidak sopan. Tapi ini juga rumah saya jadi tentu saja saya disini'' jawab Riki yang juga mengikutiku untuk bangkit

"Ih apaan si. Aku yang bayar tagihan rumah ini. Kenapa kamu ngakuin ini rumah kamu?'' Tanyaku

"Memangnya sumber uangmu dari mana hm?'' Tanya Riki sambil mengacak rambutku.

"Dari kerja kerasku tentunya'' jawabku sambil mencoba menghentikan tangan Riki yang mengacak rambutku.

"Tidak sopan sekali kamu! Clara kesini sekarang!'' Kata ayahku sambil mendekatiku dan menarik tanganku. Aku meringgis, sakit sekali ditarik oleh ayah

"Baiklah pak saya akan lebih sopan. Pertama perkenalkan saya Riki. Saya sudah seperti ini sebelum anda datang. Lebih tepatnya sebelum anda ada'' kata Riki, benar benar sifatnya selalu begitu.

"Cukup! Aku luruskan sekarang. Riki dia ayahku. Ayah ini Riki, dia benar. Dari dia lahir sifatnya yang sok itu sudah ada. Dan ayah ini rumahku. Aku tidak keberatan dia ada disini. Toh selama ini dia yang menemaniku ketika terpuruk. Sedangkan ayah tidak ada saat itukan? Jadi semua keputusan ada di tanganku'' kataku.

"Kamu seorang gadis Clara. Ayah kawatir, kamu mengerti?'' Kata Ayah.

"Ayah kesini menanyakan tentang kemarinkan? Aku mempunyai jawabannya sekarang. Aku tetap disini, disini kenanganku dengan Rafael sangat banyak. Aku tidak mau pergi'' kataku.

"Nak coba pikirkan lebih baik'' bujuk ayah

"Aku sudah berfikir baik baik. Dan ini lah pilihanku. Jika ayah memang kawatir, ayah tinggal disini saja kan? Ah tidak itu tidak mungkin. Ayah ada istri dan anak disana bukan? Lebih baik ayah kembali. Mereka yang sangat membutuhkan ayah'' kataku dengan sangat menahan emosiku.

"Lebih baik kamu fikirkan lagi oke? Ayah akan datang kembali'' kata ayah sambil pergi.

Riki mendekatiku, kurasakan sebuah kehangatan saat itu. Ya Riki memelukku. Sangat erat, dan air mataku mulai terjatuh. Tangisanku mulai pecah ketika Riki mengusap kepalaku.

===================
Olaaaaa
Maaf ya kalo updetnya lama
Inspirasinya baru ada ini juga hehehe
Makasih yang masih ikutin cerita gaje ini :v



Girl in Love (Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang