Teror

434 31 0
                                    

Tatapan itu menghantuiku. Ya tatapan iri dan benci. Sejak bertemu dengan ketua Devil itu hidupku menjadi berubah. Menjadi tidak tenang dengan teror yang selalu datang.

Teror mulai dari loker, buku, meja, kursi, sepatu dan masih banyak lagi. Seminggu sebelum aku menceritakan kejadianku dengan Riki ke Erlin sudah terjadi hal seperti ini. Iya seminggu setelah mengenal Dika aku mulai dibully. Dan bertambah parah saat mengenal Riki. Erlin terlihat marah dengan itu. Pernah Erlin sampai bertengkar dengan salah satu yang membullyku. Padahal aku yang dibully oleh mereka.

Flashback

Setelah aku menceritakan kejadianku dengan Riki selama seminggu ini. Riki tiba tiba saja datang kekelasku. Entah dia mau apa. Dia mendekatiku dan menarik tanganku pergi ke taman belakang.

Riki tepat di depanku sekarang dengan tangan kanan yang menghalangiku agar tidak pergi dan tangan kirinya disembunyikan di saku. Dan aku hanya kebingungan.

"Pulang sekolah lo gue tunggu di gerbang sekolah, ga ada penolakan," Kata Riki yang dengan sukses membuatku naik darah.

"Berhenti menggangguku tuan menyebalkan dan jangan seenaknya saja kau menarikku," Kataku sambil mengelus pergelangan tanganku.

"Lo itu maid gue, jadi pantas kalo gue narik elo. Ah gue tau lo ga suka di tarikkan? Berarti kalo gue ada urusan sama lo gue gendong aja,'' Katanya dengan sok polos.

Aku malas menjawab perkataannya. Dia pasti selalu saja dengan pedenya. Aku ingin kehidupku yang dulu.

"Kenapa lo diem aja? Jadi bener lo mau nya di gendong? Ternyata lo manja ternyata. Ga seperti kabar yang gue denger dari anak anak sini,'' Mendengar itu benar benar membuatku kesal.

Aku bergulat dengat pikiranku sendiri saat ini. Serba salah di sini. Diam salah, menjawab salah. Sialnya hidupku sekarang. Dia masih saja melontarkan kata-katanya yang tidak aku pedulikan. Anggap saja anjing menggonggong. Ah lihat aku, sekarang tanpa aku sadari aku berfikiran kasar sekarang.

Aku merasa ada yang melihatku dan itu membuatku berhenti dalam pikiranku. Ketika aku melihat ke atas. Banyak sekali perempuan yang melihatku dan Riki.

"Hidupku tidak akan tenang mulai sekarang," Batinku.

Flashback end

Saat ini aku berada di toilet dengan beberapa perempuan yang tidak aku kenali. Dan berbagai perkataan keluar dari mulut mereka. Ya mereka membullyku. Setelah puas mereka meninggalkanku.

Dingin, itu yang kurasakan saat ini. Bajuku basah karna disiram oleh mereka tadi. Untung saja syalku tadi kugantung di balik pintu toilet ini. Aku memakai syalku, ada rasa hangat walaupun sedikit. Aku sebanarnya tidak ingin membolos pelajaran. Tapi aku tidak mungkin kembali dengan baju seperti ini. Apalagi kalau di lihat Erlin, bisa saja dia mengamuk seperti kemarin dan kena skors. Dimana ya tempat yang membuatku tidak ditemukan Erlin? Benar hanya tempat itu.

Aku pergi ke jalan belakang sekolah ini melalui jendela kamar mandi yang cukup untuk aku masuki dan keluar dari sini.

Jalan ini tetap sama saat terakhir aku melewatinya. Langkahku terhenti ketika ada benda halus dan berwarna krem jatuh dikepalaku. Saat itu juga aku merasakan gerakan dikepalaku. Gerakan seperti seseorang yang mengeringkan rambut.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Gimana chapter kali ini?
Kalo kurang menarik di comment sama kasih saran ya

Makasih udah baca chapter kali ini
(≧∇≦)

Girl in Love (Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang