Aku sudah sangat rapi dan menggunakan apa yang tadi Riki bilang. Cukup lama aku menunggunya didepan pintu rumahku. Sampailah batas kesabaranku habis. Dari pada waktuku terbuang percuma hanya untuk menunggu tuan menyebalkan. Aku lebih baik membersihkan rumah sampai Riki datang.
Flasback
" Buruan mandi yeee, masih aja nyuci lo ya maid! " Kata Riki yang melihatku memasukkan pakaian yang telah dikeringkan dengan mesin cuci ke dalam ember..
" Bentar lagi tuan menyebalkan. Tinggal jemurin ini juga. Cuacanya aku denger itu lagi bagus tau " kataku sambil berlalu meninggalkannya dan pergi ke luar rumah.
Sedang asik asik nya menjemur pakaian. Riki tidak henti hentinya mengatakan berbagai macam ancaman. Yang bakar rumah, acak acak rumah, sampai mengeluarkanku dari cafe tidak aku pedulikan. Toh omongannya tidak ada yang terjadi. Sengaja saja aku sebenarnya aku untuk mengikuti keinginannya. Karna biasanya mengikuti keinginannya cukup menyenangkan. Ah benar, aku ingin mengerjainya sekali ini heheh
Setelah menjemur semua pakaian aku berjalan gontai dibuat buat sambil memengangi keningku. Dengan cepat Riki menghampiriku.
" Lo kenapa maid? Tuh kan lo malah pusing abis beresin rumah. Terus kita kapan perginya ini, ah rese juga lo " kata Riki sambil membantuku masuk ke dalam rumah. Rasanya aku ingin sekali tertawa saat itu. Tapi sebisa mungkin aku tahan karna tidak mau membuat rencanaku gagal.
" Emang mau kemana si? Yaudah ayo jalan. Ga bisa liat aku tidak melakukan sesuatu ya kamu itu ? " kataku dengan suara dibuat lemah.
" Udah ga usah dah. Lo tunggu sini gue cariin obat. Ada kan di P3K milik lo? " tanya Riki yang langsung saja kedapur untuk mengambil padahal belum sampatku bilang obatnya habis.
" Yaampun maid. Lo ga nyimpen obat pusing ya? Tumbenan banget si!! Yaudah gue beli dulu. Tunggu sini jangan kemana mana " kata Riki yang bergegas mengambil kunci motor.
" Hahahahahah, aduh Riki. Coba tadi ku rekam semua kelakuanmu pasti akan kubagikan pada yang lain. Hahahaha, kayanya disini yang mulai menang aku deh. Bener ga tuan yang baik hati?" kataku masih dengan tertawa.
" Clara!!! Awas lo ya gue bales lo. Ga ada tuan baik hati sekarang " Riki langsung mendekatiku. Jarak kami sangat dekat. Sudah berjarak 5 cm saat ini. Aku mulai gugup sekarang dan mulai mengelitikku.
" Hahahah, ampun Rik. Hahahah, aduh iya iya ga lagi Rik " kataku yang mencoba kabur dari gelitikannya. Tapi Riki masih saja mengelitik.
" Hahah, aduh Rik perut gue sakit. Udah haha han dong Rik " kataku memohon
" Makanya jangan maen maen sama gue. Dah sana mandi! Badan lo bau " kata Riki menghentikan kegiatannya
" Bau bau tapi masih aja gelitikin aku, wlee " Segera mungkin aku kabur dari Riki tak lupa membawa handuk
Aku sudah berpakaian sesuai yang Riki mau. Yang menjadi pertanyaanku adalah Riki memangnya tidak mandi dan mengganti bajunya? Tidak mungkin kan dia memakai pakaian Rafael?
" Rik, kamu ga mandi? " tanyaku
" Mandilah " jawabnya.
" Terus kamu mau pake pakaian itu lagi? " tanyaku
" Emang pakaian Rafael ga muat di gue? " tanya Riki
" Tuan yang amat pintar. Rafael kan 2 SMP. Sedangkan kamu? 2 SMA " jawabku
" Yaudah gue balik dulu. Lo tunggu sini " kata Riki kemudian pergi.
Flahsback off
Tiiin

KAMU SEDANG MEMBACA
Girl in Love (Revisi)
RandomCaffe mungil yang terbuat dari kayu indah itu berdiri kokoh diantara beberapa gedung gedung besar yang telihat sangat tua. Caffe ini terdapat teras kecil yang cantik, mewah juga indah. Tanaman warna warni mewarnai setiap sisi dan sudut teras kecil n...