Part 11

1.6K 107 3
                                        

Huft...

Hari ini sungguh melelahkan dan hari super sibuk ku.Bagaimana tidak? Dari mulai pagi mengantar Gerald ke sekolahnya hingga malam .Aku tak bisa pulang cepat karena Gerald tak ingin jika aku pulang dari rumahnya.
Tapi untungnya Nazar bisa merayu Gerald dan akhirnya di sinilah aku yang sedang terbaring di atas kasurku.

Aku melihat ke arah jam dinding dan melihat waktu sudah menunjukan pukul 18.45 WIB ..
What? Berarti 15 menit lagi Rizky akan datang menjemputku dan aku belum siap apapun. Argh... Alamat di omelin.

Tanpa pikir panjang aku langsung mandi super cepat,dan bersiap memakai gaun yang pernah Rizky belikan,entah kapan waktunya.Aku lupa.
Memoles wajahku dengan make up yang tak terlalu tebal dan setelah cukup rapi ku lihat ke arah jam dinding yang menunjukan pukul 19.02 WIB .
Good job! Aku bisa melakukan semuanya hanya membutuhkan waktu 17 menit. Wow!! Percayakah kalian? Sudah jangan dipikirkan.

Aku sudah menunggu nya di depan teras,setelah ku cek kembali pintu sudah terkunci. Ibu dari pagi sudah berada di kampung karena ia mendapat kan kabar jika tanah yang kami jual sudah ada yang membeli. Sungguh aku sangat gelisah membiarkan Ibu pergi sendiri tapi apa boleh buat, Ibu keras kepala sekali jika sudah kuat dengan keputusannya.

"Hay.." Aku tersadarkan dari lamunanku ketika orang yang aku tunggui sudah berada di hadapanku.

"Masih marah?" tanyanya ketika mendapati ku masih bungkam.

Aku hanya menggelengkan kepala serta melenggang berjalan mendahului nya.

Tapi sebuah cekalan sangat kuat menyapa pergelangan tangan ku,Ternyata dia bukan orang yang termasuk mudah putus asa.

"Ayolah.Kita tidak mungkin menemui orangtua ku dengan keadaan kita seperti ini" lirih Rizky.

Benar.Dia ingin memperbaiki kondisi hubungan kita karena orangtuanya bukan karena diriku. Sadarlah Dinda! Kamu itu siapa di hidupnya.

"Bagaimana Kondisi Nadia?" tanyaku tiba-tiba padanya.

Entahlah aku hanya ingin mengetahui keadaan Nadia. Ku lihat Ia menautkan kedua alisnya. Mungkin asing dengan pertanyaanku.

"Banyak kemajuan.Kata dokter dia ada kemungkinan untuk sadar dalam waktu dekat" ucap Rizky.

Ada sebuah rasa yang menohok hatiku.Entah perasaan itu datang darimana.Aku tak ingin mempunyai perasaan seperti ini tapi akupun tak tahu cara untuk menghilangkan nya.

"Baguslah. lebih cepat ia bangun itu lebih baik" ucapku tak seirama dengan hati.ku delikan mata padanya sambil melepaskan cekalan nya dan berlenggang.

***

Kami telah berada di kediaman orangtua Rizky. Ini kali kedua aku menginjak tempat ini lagi.Tak bisa disangkal lagi jika memang Rizky terlahir dari keluarga yang terpandang. Terlahir dari keluarga kaya,pasti uangpun dimana-mana. Namun,aku tak habis pikir kenapa harus aku yang menjadi calon pura-pura nya sedangkan Rizky bebas memilih perempuan hanya dengan uangnya.Jaman sekarang apa yang gak bisa di beli pake uang.

Dengan lembut kini jemarinya menangkup jemariku,menuntun ku masuk ke dalam rumah Orangtuanya.

Dulu,Aku pernah bermimpi suatu saat aku ingin bersama seorang pangeran dan mengenalkanku pada orangtuanya. Itu adalah momen yang sangat mengharukan. Bagaimana seorang pasangan yang meminta ijin pada sang Ayah dan bunda nya untuk membina keluarga yang bahagia. Tapi itu hanya mimpi dalam sejarahku tak akan menjadi kenyataan.

Aku terlalu bodoh. Lebih memilih berada di samping Rizky ketimbang bersama kang ujang yang sudah jelas-jelas mencintaiku. Jadi,jangan salahkan oranglain jika hatiku tersakiti.

Marriage? (Completed) √Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang