Tok..tok..tok..
Suara pintu yang ku ketuk dengan terburu-buru. Aku harus cepat mengantarkan bubur ini dan kembali menemui Rizky.
Pintu terbuka yang langsung memperlihatkan seorang wanita paruh baya dengan raut wajah lelah. Pasti Ibu tak bisa tidur semalaman karena harus menjaga ayah. Sedetik aku terhanyut namun ketika pikiran ku terbayang dengan Rizky aku langsung teringat jika aku harus segera menemui lelaki itu yang sekarang sedang bersama seorang gadis yang bisa saja membunuhku.
"Dinda,Untung kau kesini. Ayah baru saja tidur dan Ibu ingin beristirahat sebentar tolong jaga Ayah selagi Ibu di kamar nenek" ucap Ibu begitu lirih.
Aku tak tega melihat Ibu dengan kondisi seperti ini akhirnya aku mengangguk.
"Tapi bagaimana dengan buburnya? Bukankah Ibu tadi.."
"Simpan dulu saja tunggu sampai Ayah bangun" selanya dan langsung pergi meninggalkan ku sendiri.
Aku harus bagaimana? Ibu terlihat lelah sekali dan membutuhkan ku tapi sekarang aku harus menemui Rizky sebelum Febby mencoreng nama baik ku lebih kejam. Aku menengok ke dalam kamar dan langsung menatap sosok pria paruh baya yang sedang terbaring lemah. Melihatnya aku langsung masuk ke dalam dan menyimpan semangkuk bubur di atas nakas.
"Ayah cepat sembuh" lirihku di samping tempat tidur dimana tubuh ayah terbujur kaku.
Kini hilang sosok ayah yang tegas serta bijaksana. Dulu pertama Rizky memperkenalkan ku pada orangtuanya, sosok ayah lah yang mencairkan hubungan ku dengan mereka. Candaannya yang bisa membuat Rizky kesal karena telah berani menggoda ku sebagai calon istri anak nya sendiri. Tapi kini sosok ayah yang dulu ku kenal telah hilang. Jangankan untuk berbicara melontarkan candaan menggerakkan tangan nya saja ayah tidak bisa.
Sekarang aku tengah menangis. Bukan menangis kasihan pada ayah tapi tangisku menandakan jika aku rindu sekali pada Ayah.
Aku menyesali ketika aku menangis mengeluarkan sedikit suara karena suara tangisku membuat ayah terbangun.
"Ayah maafkan aku karena telah membangunkan ayah" ucapku langsung salah tingkah karena bersalah.
Ku lihat ayah mencoba tersenyum namun tidak bisa dan akhirnya ayah hanya mengedipkan kedua matanya. Separah itukah penyakit ayah.
"Ayah harus makan. Aku membawakan bubur tapi sebenarnya buburnya bukan aku yang bikin tapi febby karena febby ada urusan akhirnya aku yang membawakannya. Tidak apa-apa kan ayah?" tanyaku dan langsung mendapat senyuman dari ayah.
Senyum? Akhirnya ayah bisa menggerakan bibirnya walaupun masih tidak bisa berbicara tapi itu adalah perkembangan yang cukup baik.
Dengan girang aku mulai meraih bubur dan mengambil satu sendok untuk disuapkan untuk ayah.
Brakkk...
Suara gebrakan pintu terdengar membuat aku berhenti untuk menyuapi ayah.
Rizky masuk ke dalam kamar dengan penuh amarah di susul dengan nenek,Febby juga Ibu di belakangnya.
Ada apa? Kenapa pandangan semua orang padaku seperti ingin mengkuliti tubuhku.
"Ada apa?" tambah satu orang di belakang mereka yaitu kak Ina.
"Ibu gak percaya kamu setega ini. Padahal Ibu hanya menitipkan Ayah padamu bukan untuk membunuhnya" Ibu berucap dengan penuh sirat kekecewaan.
Membunuh ayah? Aku? Bagaimana bisa?
Belum menyela perkataan Ibu Rizky langsung menarik tangan ku cukup kuat. Aku hanya bisa pasrah di perlakukan seperti ini. Rizky membawaku keluar dari kamar ayah dan menghempaskan ku hingga terjatuh di lantai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Marriage? (Completed) √
Romance[Private part 25-End] Aku hanya seorang gadis yang singgah ke kota bersama Ibuku. Aku tidak tahu apa-apa,tahu-tahu aku ditawari sebuah perjanjian oleh seorang yang tak ku kenal dan bodoh nya kenapa aku menyetujui ide gila nya. Sekarang aku terperang...
