Part 5

2K 141 2
                                        

Apakah aku tidak salah melihat? Seorang Rizky bisa menangis karena sosok yang ada di hadapanku,lalu siapa dia?

Suasana begitu sunyi tidak ada diantara kami yang berniat untuk mencairkan nya.

Rizky tetap di posisinya memandangi sosok yang terbaring lemah sambil tangis tak henti berderai di matanya.

Dan aku hanya berdiam diri,sebenarnya banyak puluhan pertanyaan di otak ku padanya namun aku enggan untuk bertanya.

"Apa sekarang kau melihat nya dan ingin mengetahui seberapa berartinya dia di hidupku?" tanya Rizky membuatku terkejut karena suaranya bergema secara tiba-tiba.

Seperti menebak isi pikiranku Rizky berucap.Sebenarnya aku ingin tahu sekali akan hal tersebut,tapi entah kenapa bagian mana jauh di lubuk hatiku berusaha tak ingin tahu dan berusaha menutup mata dan telingaku.

Aku menggeleng cepat ketika Rizky menatap horor padaku,Gerakan tak terduga di luar kendaliku.

"Huh.. Kenapa tak ingin tahu,bukankah kau ingin tahu masalah pribadiku" amarah Rizky seakan ingin meletus,dan kini ia sedang mengguncang-gucangkan tubuhku.

"Apa dia kekasihmu yang sedang beradu nasib,dan kau tak ingin di jodohkan oleh Ibumu akhirnya kau meminta aku berpura-pura agar aku menjadi tunangan mu dan setelah itu kau akan mendepakku dari sisimu" cecarku tak kalah dari emosinya.

"Kau tahu dari-mana" Rizky terlihat bingung atas jawabanku yang asal bunyi terlontar dari bibirku.

"Klise sekali,dengar Rizky aku ingin berhenti dari semua sandiwara ini.Apa kau tak sadar banyak orang yang tersakiti akan hal ini?"

"Aku tak peduli" jawabnya mengacuhkan ku,perlahan ia melangkah mendekat ke ranjang dan mengusap lembut wajah seorang yang di cintainya.

"Dia adalah kekasihku,ia berusaha kuat dan tegar di depanku.aku pernah mengenalkan nya kepada kedua orangtua ku namun setelah Ayah dan Ibu mengetahui penyakit yang di deritanya mereka melarang keras hubungan kami" ucapnya di sela tangisnya.
"Bayangan Ibu yang mengusir nadia setelah pertemuan kami begitu jelas di pikiranku,seperti orang tak punya hati mereka mengusir nadia saat hujan turun begitu lebat,aku tak bisa apa-apa saat itu karena aku di tahan oleh kedua bodyguard orangtua ku.Dan setelah itu aku mendapat kabar nadia masuk rumah sakit dan sampai sekarang ia tak sadarkan diri"

Entah apa yang harus aku katakan,ternyata nadia kekasih Rizky begitu keras menjalani hidupnya.rasa iba pun menjalar di hatiku tapi aku tetap tak bisa jika terus melanjutkan sandiwara ini dan akhirnya banyak posisi yang tersakiti terlebih diriku.

"Lalu apa hubungan nya denganku?" tanyaku menatap langsung ke dua manik matanya.

"Aku butuh bantuanmu,setidak nya Ibu tidak akan memaksaku menikah dengan oranglain sampai nadia sadar dari komanya" rayu Rizky sambil menggenggam kedua tangan ku.

"Lalu apa yang akan kau lakukan padaku setelah kekasihmu sadar ?" sungguh aku tak ingin mendengar jika kau berniat untuk 'mengusirku' dari hidupmu.

Ku tutup kedua mataku menahan tangis yang berusaha menyeruak keluar,dan tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang basah di keningku.

What Rizky mencium keningku?

"Aku sangat berterima kasih padamu,karena kamu aku bisa hidup bahagia,Membina keluarga bersama nadia"

Aku hanya tersenyum kecut membayangkan hal itu memang benar terjadi,dan pada saat itu juga seharusnya aku berterima kasih pada Rizky karena telah mengenalkan padaku sebuah arti patah hati.

"Terserah padamu Rizky,aku hanya bisa menunggu waktu luka itu akan menerpa hatiku,dan terima kasih padamu" ucapku yang langsung menorehkan kerutan bingung di dahinya dan begitu saja aku pergi dari ruangan yang kurasa mencekam itu.

Perlahan ku melangkah menyusuri lantai yang begitu bening tanpa nafsu,dan sekelibat sesuatu bertanya pada hatiku akankah aku sanggup menahan luka yang begitu menusuk jantungku.

Aku tak akan sanggup jika harus melihat mereka bahagia dan aku di sini terluka,sebut aku egois dan memang itu adanya.

Entah kemana rasa itu akan ku bawa,jiwa dan raga seakan menolak jika aku membuangnya.
Sebuah rasa baru yang ku rasakan dalam kalbu entah kapan dan bagaimana mereka tumbuh di hatiku.

Aku terduduk di sebuah kursi yang di sekelilinginya terdapat banyak benda berwarna hijau.
Di sini aku bisa merasakan sebuah ketenangan dan di temani oleh bisikan angin yang menerpa wajahku.
Seketika mataku terbuka ketika sebuah suara yang sangat ku kenal menyapa gendang telingaku.

"Dinda" panggilnya begitu lembut.

Apa aku sedang berhalusinasi,bisakah semua berjalan dengan normal ? Jika seperti ini terus menerus aku bisa gila.

Sesuatu meraba bahuku,aku langsung berdiri dan berbalik menatap sesuatu yang mengganggu ku.
Mataku sontak membulat,entah apa bentuk wajahku sekarang jika aku berkaca,ini bukan halusinasi ini benar terjadi.Kang Ujang berada di hadapanku.

"Aku rindu padamu,apa kau tak ingin memelukku?" tanya kang ujang sambil mengulurkan kedua tangannya.

Aku menyambut kedua tangan kang ujang,ku peluk dia sangat erat seakan kami tak akan pernah ada waktu lain untuk bertemu.

Apa ini jawaban hatiku,aku akan menempatkan rasa itu pada orang ini yang sempat kulupakan karena hanya seorang pria itu.

"Maafkan aku kang ujang,maaf.." tangisku pecah di pundaknya,ku benamkan kepalaku di lekuk lehernya dan sesuatu rasa hal yang dulu pernah ada seketika hilang bilamana aku memeluknya.

----

Kang ujang membawaku ke kantin rumah sakit,di sini kami bercerita sangat panjang.Ketika aku bertanya untuk apa dia disini dia hanya menjawab jika ia biasa membawakan sejumlah barang perlengkapan bos nya ke rumah sakit ini.

Dan begitu pula ketika ia banyak bertanya padaku,kenapa aku ada di jakarta,kenapa aku tidak langsung menemuinya dan di tutup oleh pertanyaan kenapa aku berada di sini dan menanyakan kabar ku bersama Ibuku.

Aku harus jawab apa? Apa aku harus jujur dan menyatakan jika aku telah mengkhianatinya walaupun sekedar sandiwara.

Entahlah otakku begitu ruwet karena memikirkan banyak masalah seharian ini,yang ku bisa hanya menunggu waktu yang akan membongkar semuanya.
Aku begitu lelah dengan semua ini.

"Baiklah jika kau tak menjawab pertanyaanku,sekarang kau tinggal dimana dan kemana Ibumu?"

Itulah yang ku suka dari kang ujang,sangat pengertian ia tak pernah mendesak dan memaksaku.

"Aku tinggal di sebuah apartemen orang yang menolongku,dan Ibu ada di sana"

"Baiklah ayo kita temui Ibumu aku ingin mencari muka terhadapnya agar di ijinkan menikahi anaknya" gurau kang ujang yang ku anggap tak lucu.

"Jangan,jangan sekarang! Ibu sedang datang bulan sekarang, pasti melihatmu bulan itu akan pecah seketika" ceplosku membuat dia tertawa terbahak-bahak.

Kang ujang merengkuhku ke dalam pelukannya dan mengusap lembut puncak kepalaku.

"Kau tak pernah berubah dan semoga tetap begitu,jangan mempunyai niat untuk pergi dariku"

Pesan kang ujang terdengar begitu serius dan aku merasa tersinggung akan hal itu.

Kuatkanlah!

***

A/N: terimakasih udah mampir ke lapak saya dan telah memberikan Vomen nya.

Di part ini aku berusaha ngadain konflik yang cukup keras entah dapat atau tidak feel nya semoga readers tidak kecewa!

Marriage? (Completed) √Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang