Wajahnya memerah menahan emosi. Hati nya sesak seperti ada godam palu yang memukul hatinya. Apa maksud dari semua ini?
"Kau" tandas Dimas dengan gigi yang saling menggeletuk.
Bukan nya menyingkir mereka tetap dalam posisinya atau lebih tepatnya tangan Fero memeluk erat pinggang Dinda walau perempuan tersebut terus memberontak.
Dimas yang melihatnya tidak tahan lagi dengan brutal pria itu berjalan mendekat ke arah mereka lalu menarik kerah baju yang Fero pakai.
"Kurang ajar" Dimas memberi pukulan hebat tepat dirahang Fero membuat laki-laki itu meringis.
Tak henti Dimas melayangkan tinju pada adiknya yang selalu membuatnya geram. Sedangkan seorang perempuan yang sudah kelimpungan takut melihat pergulatan antar saudara di hadapannya. Dinda tidak tahu bagaimana cara untuknya memisahkan mereka akhirnya perempuan itu mencari seseorang yang bisa menolongnya.
Seperti ada sekat yang menghalangi pikiran jernihnya. Dimas hilang kendali saat melihat adik yang ia sayangi berbuat tidak senonoh terhadap orang yang ia cintai.
Benar. Dimas harus mengakui perasaan yang ia rasakan. Sejak pertama ia melihat seorang perempuan yang dinilainya sangat berbeda dengan perempuan lainnya di saat itulah benih-benih cinta mulai tumbuh merasuki hatinya. Pernahkah kalian mendengar istilah 'Jatuh Cinta Pandangan Pertama' mungkin sekarang Dimas merasakannya.
Fero sudah terkapar lemah di sebuah lantai namun ia tak menolak ataupun membalas pukulan dari kakaknya. Kini Fero melihat seseorang yang berbeda dalam diri Dimas sebelumnya pria itu tak akan semarah dan seberingas seperti ini. Dimas seperti orang kesetanan.
Pria itu sudah melihat adiknya sudah tak berbentuk namun seperti tak punya hati nurani ia terus memukuli adiknya. Untung saja ada seseorang yang menahan dirinya ketika ia ingin melayangkan tinjunya kembali pada Fero.
Dimas bangkit dengan napas yang memburu. Ketika pria itu sudah mengatur napas nya tiba-tiba napasnya kembali tercekat ketika melihat Dinda menggapai tubuh Fero membantunya berbaring di atas kasur. Dengan cepat Dimas memalingkan pandangannya ke arah lain. Namun, seperti tak ada pemandangan yang bagus ketika Dimas mencari arah lain ia malah melihat Ibunya yang sudah berair mata.
"Ibu mengerti apa yang kau rasakan. Matamu tidak bisa berbohong dengan sebuah luka dihatimu" lirih laras sambil membawa Dimas keluar dari kamar adiknya.
_______________________________
"Apa kau sudah gila? Lihat wajahmu sudah tidak berbentuk" cecar Dinda pada Fero yang sedang hanyut dalam lamunannya.
"Kau juga sih malah bercanda yang tidak-tidak jadikan Dimas salah faham" omel Dinda lagi namun Kini berhasil membuat Fero tersadar dari lamunannya ketika perempuan itu menyebut nama kakaknya.
Hampir saja Fero berucap namun diurungkannya laki-laki itu kembali diam. Dinda yang melihatnya pun hanya menggelengkan kepalanya lalu pergi meninggalkan Fero untuk mengambil sesuatu.
Fero melihat kepergian Dinda kemudian menghela napas lega. Ia membaringkan tubuhnya yang sudah terasa pegal namun hal itu tak terjadi ketika seseorang datang menemuinya.
Orang itu hanya tersenyum miris melihat kondisi yang ada dihadapannya. Dengan perlahan ia duduk di pinggir ranjang dan mulai mengobati luka Fero dengan obat-obatan yang telah ia bawa.
Dimas meringis melihat hasil karya nya terhadap adik tercinta. Ia mengakui bahwa telah bersalah. Dimas tak mampu menahan emosinya hingga Fero menjadi sasarannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Marriage? (Completed) √
Romansa[Private part 25-End] Aku hanya seorang gadis yang singgah ke kota bersama Ibuku. Aku tidak tahu apa-apa,tahu-tahu aku ditawari sebuah perjanjian oleh seorang yang tak ku kenal dan bodoh nya kenapa aku menyetujui ide gila nya. Sekarang aku terperang...
