18

1.7K 136 6
                                        

"Kau darimana saja ?" tanya Kim Tan saat bola matanya menangkap sosok seorang yeoja yang masuk kedalam apartemen sederhananya dengan keadaan yang sangat berantakan.

"Eoh ? chagiya, kau sudah pulang ?" yeoja itu berjalan sempoyongan menjingkitkan kakinya, melumat bibir merah Tan yang sepanjang hari ini tak ia rasakan.

Tan hanya diam, tak ingin membalas. Ia bisa mencium bau alkohol yang menyeruak dari mulut gadis itu, gadis yang selama ini begitu ia cintai.

Tan menggapai bahu yeoja itu, melepaskan pagutan yeoja itu dengan kasar, membuat yeojanya mendumel tak karuan ditengah kesadarannya yang minim.

"Apa yang kau lakukan diluar sana Cha Eunsang ? Jawab aku ? Apa yang kau lakukan eoh ?" Tan menggoyang kasar tubuh Eunsang saat yeoja akan memejamkan matanya.

"Jawab aku !!!"

"Huh~ aku, aku berkencan. Kau puas !!!"

Tanpa terasa, tangan besar Tan menampar wajah Eunsang meninggalkan bekas merah pada pipi putih yeoja itu.

"Kenapa kau lakukan itu ? Aku membancimu Kim Tan-ssi" teriak Eunsang dengan air mata membasahi pipinya, dengan susah payah ia menuju kamarnya, menutupnya dengan keras.

Jujur saja bukan seperti ini yang Eunsang ingin, ia juga tidak bermaksud mengkhianati Kim Tan, dia benar-benar mencintai Tan tapi karna ia juga harus mendapatkan uang satu-satunya jalan yang dapat ia ambil sekarang adalah kembali mencari seorang wanita penghibur.

Sementara Tan hanya terus terdiam, memijat pelipisnya pelan, menghilangkan rasa pening yang menyerang kepalanya.

***

Namja itu terus berlari, melewati koridor rumah sakit hingga akhirnya ia tepat berada didepan sebuah ruang operasi. Tuan Jung menatap datar pada namja yang wajahnya terlihat begitu sendu, bahkan mata namja itu terlihat sedikit membengkak akibat tangisnya, Jung Yonghwa.

Yonghwa meninggalkan Shinhye di taman setelah sebelumnya Shinhye memintanya untuk tidak mengkhawatir yeoja itu dan meminta Yonghwa dengan segera menyusul ibunya yang akan melakukan operasi. Mungkin seharusnya ia membawa Shinhye pergi bersamanya, setidaknya dengan adanya Shinhye di sampingnya ia bisa sedikit lebih tenang.

Namja paruh baya itu menatap Yonghwa dingin, menatapnya tanpa ekspresi membuat Yonghwa ingin pergi dari tempatnya sebelum akhirnya suara berat tuan Jung menghentikan langkahnya.

"Ayo bicara !!!"

***

Shinhye memasuki kamarnya, mengambil  benda persegi nan begitu canggih. Mengetikan pesan untuk dikirim pada Yonghwa, karna ia sudah berjanji pada namja itu akan mengabarinya.

to : namja menyebalkan
"Aku baru saja pulang, bagaimana keadaan eommeonim ? Apa semua berjalan lancar ? Jangan lupakan makan malam mu eoh"

Shinhye mendesah berat, semenjak perjalan pulang ia begitu sangat mengkhawatirkan Yonghwa yang pergi dengan wajah yang tidak bisa dikatakan baik. Shinhye benar-benar tau apa yang dirasakan namja itu, mengingat Yonghwa adalah anak yang begitu manja dengan ibunya, dan ia benar-benar tidak menginginkan sesuatu yang buruk terjadi pada ibu Yonghwa. Ia semakin terlihat gusar saat tak ada balasan dari namja itu, akhirnya ia memutuskan untuk menyeret kakinya memasuki kamar mandi berharap dirinya bisa tenang dan akan mendapatkan balasan pesan dari Yonghwa.

***

Sinar mentari pagi begitu indahnya menyinari bumi Seoul, Kehangatan yang hanya akan dirasakan pada musim semi. Jonghyun menyipitkan matanya, saat cahaya dari sang surya menembus rentina matanya, mengerjapkannya berkali-kali sampai akhirnya ia menyadari jika ia kehilangan sesuatu.

My Beloved BratTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang