Di sebuah butik terkenal dikawasan Gangnam, pasangan itu terus saja ribut, meributkan hal kecil yang seharusnya tak perlu untuk dipermasalahkan membuat seorang yeoja yang sedari tadi berdiri disamping mereka kelelahan karna harus bolak-balik mengambil sesuatu yang pasangan itu mau. Menyebalkan, tapi mengingat motto "pembeli adalah raja" membuat gadis manis dengan nama Jung Minkyung itu melupakan kekesalannya.
"Jadi, tuan dan nona memilih yang mana ?" tanya Minkyung hati-hati.
"Tunggu dulu !!!" bentak kedua pasangan itu, membuat Minkyung lagi-lagi harus bersabar. Betapa tidak beruntungnya ia hari ini.
"Aku menginginkan yang itu oppa, itu terlihat sangat bagus" ucap yeoja itu pada pasangannya sambil menunjuk gaun putih yang panjang, namun memperlihatkan bagian atas bahunya.
"Gong Seungyeon-ssi, kau ingin membuat semua undangan laki-laki mimisan saat melihat mu ? Dan kau ingin aku membunuh mereka semua yang menatap mu ? Aku tidak mau, ambil yang itu saja" tegas namja itu pada pasangannya Seungyeon.
"Jonghyun oppa, ini maunya anak mu, bukan aku" rengek Seungyeon agar kekasihnya itu mau membiarkannya memilih gaun yang ia inginkan.
"Tidak, aku tidak suka"
"Oppa !!!"
"Wae ???"
"Aku mengingikan yang itu oppa" rengek gadis dengan mata coklat itu, namun pada kenyataannya Jonghyun kekasihnya, calon suaminya tak menggubris yang ia katakan.
Minkyung mulai tak sabar melihat perseturan pasangan yang semakin mejadi-jadi. Ia pun berdehem kecil, mengumpul udara yang mampu ia hirup sebelum ia menguarkan suara lembutnya hanya untuk menenangkan pasangan itu.
"Maaf, tuan dan nona mungkin...."
"DIAM !!!" bentak pasangan itu membuat Minkyung memundurkan langkahnya, meminta maaf atas kelancangannya. Ya, Minkyung sadar, ia kali ini harus extra sabar.
***
Suasana canggung itu begitu kental, saat Eunsang maupun Tan tak membuka suaranya. Ini sudah dua jam lebih, mereka hanya duduk bersampingan dengan pemikiran mereka masing-masing.
Tan yang memikirkan kejadian sore itu, ia begitu penasaran, tapi ia mencoba menahan rasa penasaran itu. Bukan apa-apa, ia hanya ingin Eunsang bisa berkata jujur padanya mulai dari sekarang. Bagaimana ia bisa menikah dengan Eunsang jika gadis itu belum bisa membiasakan dirinya terbuka pada Tan, bukankah ketika sepasang kekasih menginginkan suatu hubungan yang serius harus memiliki kepercayaan dan terbuka satu sama lain tanpa rahasia ?
Tan mulai lelah menunggu, ia membuang nafasnya kasar, namun ia tetap menahan rasa penasaran dan amarahnya. Ia tidak ingin membuat anak didalam kandungan Eunsang ketakutan karena mendengar orang tua nya bertengkar. Tidak ! Tan bukan orang yang akan bersikap gegabah untuk kali ini, demi bayi nya.
Langkah Tan terhenti saat suara parau Eunsang mengintrupsinya.
"Mianhe, mianhe Kim Tan-ssi"
ucapnya dengan linangan air mata yang membuat Tan merasa bersalah pada akhirnya.
Tan berjanji pada dirinya sendiri, ia tidak ingin membuat Eunsang nya menangis, ia tidak ingin menjadi laki-laki kasar pada Eunsang. Bahkan dalam perjalan pulang setelah pertemuan tiba-tiba mereka dengan Sejoo pun, Tan sudah bertekad pada dirinya sendiri akan mendengarkan Eunsang tanpa marah sedikitpun meskipun ia harus mendengar sesuatu yang tidak ingin ia dengar sama sekali. Ya, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, dan laki-laki sejati tidak akan pernah mengingkarinya.
"Hmm. Uljima. aku akan memaafkan mu, aku tidak akan marah pada mu" Tan berusaha menenangkan Eunsang dalam pelukannya, mendekap tubuh gadis itu penuh hangat. Mungkin sekarang bukan waktunya mereka untuk membicarakan hal ini, dan pada akhirnya Tan kembali harus menahan rasa penasarannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Beloved Brat
Fanfiction"Apa kau akan menerima ku dengan keadaan yang seperti ini ? Kuharap ini cinta tulus darimu" -PSH- "Aku menggilai mu, aku akan berubah untuk meyakinkan bahwa aku mencinta mu tulus" -JYH-
