26

1.3K 137 8
                                        

"Jonghyun oppa !!!" panggil seseorang wanita. Membuat pasangan itu mengedarkan pandangannya. Tanpa aba-aba wanita itu dengan spontan mencium pipi kanan namja itu.

"Omo !!! uri Yoobi" laki-laki yang dipanggil Jonghyun itu langsung memeluk wanita itu tanpa memperdulikan kekasihnya.

"Kapan kau datang ?"

"Kemarin"

"Kenapa tidak bilang jika ingin kembali eoh ?"

"Aku hanya ingin membuat kejutan untuk oppa" jawabnya dengan manja.

"Aigo, kenapa tidak berubah sama sekali" jawab Jonghyun menyentil ujung hidung Yoobi.

"kkk. Eoh, nugu ?"

"Ah, ini Seungyeon. Gong Seungyeon, calon istri ku"

"Jinjja ? Dia cantik" bisik Yoobi. Membuat Jonghyun terkekeh kecil.

***

Sebuah mobil sport yang tidak asing bagi para karyawannya memasuki halaman parkir Taeyang grup. Seorang yeoja yang terlihat turun, menampakan wajah pucatnya dari pintu mobil.

Beberapa karyawan yang melihatnya menundukan kepala sopan, meskipun setelahnya mereka berbisik kecil, mempertanyakan keadaan presdir mereka yang setiap harinya selalu terlihat sangat elegant dan penuh senyum kini hanya terlihat wajah pucat dan sendunya.

Shinhye berlalu begitu saja, tidak memperdulikan beberapa karyawan yang menunduk hormat padanya, yang ia inginkan hanya cepat sampai keruangannya, menemui seseorang yang sudah menunggunya.

"Sejoo-ya !!!" teriaknya pada seorang laki-laki yang berdiri membelakanginya.

Ia begitu kaget dengan suara lembut yang ternyata bisa senyaring itu, sepupunya benar-benar menggemaskan.

"Kau sudah lama ?"

"Baru lima belas menit"

"Aigo, mian karena membuat mu menunggu brother Joo" ucap Shinhye dengan wajah bersalahnya, dan itu terlihat sangat manis bagi Sejoo.

"Aniyo, gwenchana. Aku sedang tidak sibuk juga, jadi tidak masalah menunggu selama itu untuk seorang wanita cantik" ia terkekeh mendengarkan ucapannya sendiri. Dia bukan orang yang diam-diam menyukai sepupunya tapi ia terlalu senang menggoda Shinhye, apalagi mereka sangat jarang bisa bertemu, bahkan ini adalah pertemuan kedua mereka ditahun ini, entah terakhir mereka bertemu kapan lebih tepatnya.

"Aish, aku terkesan. haha" Shin Hye berjalan menuju lemari pendingin. "Kau mau apa ? soda !!!" ucapnya sebelum Sejoo mengeluarkan suaranya.

Sejoo terkekeh pelan, sepupunya itu benar-benar masih mengingat apa kesukaannya. Ia pun mengambil kaleng soda yang Shin Hye berikan, membukanya dan menenguknya hingga pandangannya mengarah pada pintu, yang menampakan seorang laki-laki yang ia kenal.

"Oh, kau sudah disini, masuklah !" ucap Shin Hye, pada orang yang masih diam berdiri diambang pintu.

Kaki laki-laki itu terasa kaku saat matanya bertemu pandang dengan tatapan Sejoo. Namun segara ia melangkah, menunduk hormat pada Shin Hye dan Sejoo.

"Sajangnim memanggil saya ?"

"Ya, duduk Kim Tan-ssi. Dan kenalkan ini Sejoo, Sejoo ini Kim Tan dia sekretaris baru ku" kenal Shin Hye.

"Aku pernah melihatnya Shin" celetuk Sejoo.

"Oh, jadi kalian saling mengenal ?"

"Tidak"

"Aish, apa-apaan ini !!!"

"Haha. Sudahlah tidak penting. Jadi, apa yang ingin kau bicarakan Shin ?"

"Aku memerlukan bantuan kalian" kata Shin Hye serius pada dua orang itu.

***

Angin malam terus berhembus, memberikan kesan dingin namun menenangkan bagi mereka yang menikmatinya. Namun berbeda dengan laki-laki yang sedari sore masih betah berdiam diri dibangku panjang itu. Raut mukanya begitu dingin, tak membiarkan satu orang pun berani mendekat meskipun hanya untuk menyapanya sekilas, tapi siapa pun yang melihat laki-laki itu, mereka pasti sangat tau, jika ada gurat kesedihan yang begitu menyayat hati kecilnya yang bisa rapuh sewaktu-waktu.

Laki-laki itu Yong Hwa, dia begitu merasa bersalah dengan segala hal yang terjadi pada hidupnya. Dia bukan menyalahkan ibunya, dia juga tidak menyalahkan penciptanya, hanya saja dia menyalahkan takdir dirinya. Apa seseorang yang sepertinya tidak pantas untuk bahagia ?. Ayah yang selama ini selalu ia banggakan ternyata bukanlah orang tua kandungnya. Ibu yang selama ini selalu dipercayanya bahkan selama ini menyimpan rahasia besar yang memilukan. Cinta yang entah datang kapan dan yang seharusnya ia pertahankan kini seperti sirna tak berbekas, seperti cahaya mentari yang hilang lenyap ditelan awan hitam. Semuanya sempurna, tidak ada kebahagiaan dihidupnya.

Yong Hwa tidak beranjak dari tempat itu, ia tidak tau harus pergi kemana lagi. Club terlalu bising untuknya meskipun disana dia bisa bersenang-senang. Dia ingin kembali keapartemennya yang sunyi, tapi dia takut jika air matanya tak bisa ia hentikan nantinya. Pada kenyataannya, saat ini dia benar-benar memerlukan pelukan hangat dari Shin Hye, wanita yang telah ia sakiti.

Semua kejadian siang itu terulang lagi, perkelahiannya dengan Shin Hye akhir-akhir ini benar-benar membuatnya kehabisan energi yang menyebabkan hatinya sakit sendiri. Ia tau jika semua kesalahan ada pada dirinya. Ia terlalu pengecut untuk mengatakan semua hal, ia terlalu takut jika pada akhirnya ia kembali harus sendiri, ia tidak mempunyai keberanian untuk mencegah Shin Hye supaya bisa bertahan disampingnya, ia benar-benar menjadi pecundang. Sekuat apapun ia menahan, pada akhirnya air matanya terjatuh perlahan, membiarkannya membeku bersama angin malam.

"Mianhe Shin Hye-ya. Mian"

tbc...

My Beloved BratTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang