Kesha menggeliat di kasurnya, menikmati indahnya matahari yang menyeruak melalui jendela kamarnya di minggu pagi ini. Mengingat berapa banyak air mata yang gadis itu keluarkan tadi malam karena hinaan Gwen, serta sesalnya karena datang ke pub malam dengan menggunakan pakaian yang mengundang cacian.
Namun ada yang aneh semalam. Tentang sifat Leon. Leon yang semalam berlari dan memeluk Kesha, saat Kesha di titik rapuhnya. Dan pelukan semalam, bukan malah membuat Kesha tenang, tapi membuat Kesha bertanya-tanya, apa motif seorang Leon yang tiba-tiba menjadi baik padanya?
Namun usai menangis, Kesha merasa sangat lega. Ia sendiri tak tau darimana lega itu berasal. Apa dari sedihnya yang sudah terluapkan, ataukah karena pelukan Leon yang mengundang tanya, atau karena kedatangan sahabat Niko yang menyelamatkan Kesha dari situasi aneh yang sebenarnya sedang ia nikmati.
Niko datang saat Leon tengah memeluk Kesha. Dan jujur, Kesha menikmatinya.
Kesha menghela nafas, mengingat tentang perbincangannya di kedai es krim semalam dengan Niko. Kesha bertanya tentang banyak hal pada Niko--yang terkenal sangat kental dengan sisi kewanitaannya--yang semalam datang dengan sosok jantan dan wibawa yang membuat Kesha ternganga.
"Nik, lo kenapa tiba-tiba bisa gitu? Maksud gue... Bisa bersikap sejantan itu. Gue kaget!" Kesha bertanya sambil menjilat es krim vanila cone di genggamannya.
"Gak tau. Itu terjadi dengan sendirinya, Kes. Gue aja bingung!"
"Lah? Kok bisa ya?" Aku terdiam sejenak. "Jangan-jangan.. Lo mulai normal, ya?!"
"Gue normal kali, Kes. Emang lo pikir selama ini gue nggak normal?!"
Kesha meringis. "Maksud gue... Apa lo mulai sadar dan mulai ada keinginan untuk jadi laki-laki seutuhnya?"
"Gak tau, Kes. Gue ngerasa ada yang aneh sama diri gue."
"Aneh?"
"Iya.. Jawab jujur, Kes, lo pengennya gue normal kayak laki-laki tulen, atau melambai gini aja?"
Kesha memutar otaknya. "Gue pengennya lo normal! Kan enak kalo lo normal kayak tadi. Lo bisa selalu ngelindungin gue, Nik. Dan orang-orangpun nggak akan menganggap lo remeh. Emangnya, lo ngerasa aneh gimana sama diri lo?"
"Gini, Kes... Mungkin karena dukungan orang sekitar kali ya? Kayak orang tua gue, kakak gue, terus lo, Dara, dan masih banyaaak lagi.. Mereka pengen banget gue normal sampai mereka ngelakuin hal aneh biar gue normal."
"Aneh? Contohnya?"
"Kemarin, Dara kasih gue gambar-gambar model seksi. Biar gue... Ngg... Gitu deh."
Meski Niko tak menjawab gamblang, tapi Kesha paham maksudnya. Dara ingin melihat, apakah Niko bisa tertarik dengan gambar model tersebut atau tidak.
"Terus, nyokap gue juga ajak gue ke gym buat fitnes sama cowo-cowo lainnya. Makanya, gue lumayan berotot kan?"
Niko melanjutkan lagi. "Dan masih banyak yang lainnya, Kes. Intinya, gue sadar kalau emang gue harus berubah pelan-pelan. Gue sadar, gue emang ganteng banget kalo jadi cowok tulen. Dan waktu Dara kasih majalah begituan ya, gue juga lumayan nafsu, Kes. Jadi..."
Kesha menelan ludahnya. "Ya, ya, Nik. Lo emang harus berubah pelan-pelan! Lo tuh ganteng banget, Nik! Dan lo juga badannya kekar gitu. Lo bisa kembangin talenta lo yang selama ini hanya desain baju cewek, jadi ahli di baju cowok juga. Dan... Lo bakal berkembang, Nik!"
Niko hebat. Dibalik sikap kewanitaannya, Niko senang sekali mendesain baju-baju wanita. Hingga karya Niko diakui dan dipandang sangat bagus. Buktinya, banyak para pejabat bahkan beberapa artis yang sudah memesan dress yang didesain indah oleh seorang Niko.
KAMU SEDANG MEMBACA
Enemy's Slave
Teen FictionJika kakaknya, berbahagia karena memiliki kisah yang indah dengan sahabat sekaligus tetangganya... Akankah hal ini terjadi pada sang adik? Kesha Ayu Shakira dan Leon Bima Iskandar. Keduanya saling bermusuhan. Bahkan generasi sebelumnya--alias mama...
