Bab VIII - Rasa yang Salah

8.9K 877 50
                                        

Kesha mengerjapkan matanya berkali-kali. Ya, dia terbangun dari tidurnya, dan bingung dengan keadaan sekitar--tetapi seketika itu juga ia sadar, bahwa kali ini ia tak tidur di rumahnya. Kali ini, ia terbangun dengan ruangan baru di sekitarnya, bukan di ruangan berdinding ungu yang menandakan kamarnya. Kesha sadar, malam ini, ia tidur di rumah Leon, dan ruang megah nan elegan ini, adalah kamar milik Leon.

"Gue ketiduran berapa lama, ya? Kayaknya gue belum cuci muka eh udah tidur aja. Mana aus lagi!" gerutu Kesha. 

Ia meneguk ludahnya berkali-kali, berharap rasa hausnya dapat hilang dengan meneguk air liur. 

"Duh, mager banget. Tapi kayaknya gue emang harus ke dapur deh buat minum, bisa mati kehausan gue kalo mager mulu!" ulangnya lagi.

Setelah berdiam diri dan berbaring bermenit-menit tuk mengumpulkan nyawanya, Kesha memutuskan untuk pergi ke dapur, mengambil minum, dan melegakan tenggorokannya yang sudah minta dipuaskan oleh siraman air. 

Ketika ia sampai di depan kulkas, pandangannya tertuju ke arah jendela besar yang tertutup oleh gorden terawang--dimana dari gorden itu, kita bisa melihat suasana halaman belakang rumah Leon yang terdapat kolam renang serta taman kecil. 

"Ada siapa itu?" gumam Kesha, sambil menunda acaranya membuka kulkas.

Ia mendekat ke arah jendela. Lebih mendekat. Dan... 

Deg.

Ia melihat dua insan di malam hari tengah bercengkrama di tepi kolam renang. Siapa lagi kalau bukan Leon--sang pemilik rumah--yang menjadi majikannya sekarangan, dan Gwen, yang tak lain adalah mantan kekasih Leon. Mantan kekasih, yang mungkin masih saling menyimpan rasa.

Gwen dan Leon tengah bercengkrama mesra. Samar-samar, Kesha bisa mendengar suara mereka.

"Kamu sayang sama aku gak, Gwen?" 

"Hahaha.. Sayang, lah! Dari sisi mana aku bisa nolak kamu, Le?"

"Bisa aja kamu, Gwen. Yah, aku juga sayang kamu. Gak mungkin aku ngelepas gitu aja cewek cantik dan pinter kayak kamu. Ya, kan? Kamu tuh sempurna."

"Terus, kalau masih saling sayang, kenapa kita harus putus, Le? Apa karena kesalahanku waktu itu?"

"Iya.. Aku belum bisa lupa."

"Tapi aku siap memperbaiki diri, Leon. Kita masih sama-sama sayang, loh."

Dan setelah dialog itu berakhir, Kesha melihat sebuah adegan semi dewasa yang dua insan itu lakukan. Dimana Leon dan Gwen saling berpelukan cukup lama, diakhiri dengan ciuman kilat yang Leon berikan di kening Gwen. Dari situ terlihat bahwa mereka masih memiliki hasrat saling mencinta yang sama tingginya. 

"Gue tau, gue emang bukan siapa-siapanya. Tapi kenapa dada gue sesakit ini? Dan dari sini, gue yakin, kalau gue memang gak akan jadi siapa-siapanya." Kesha bergumam pelan. "Sadar Kes, lo tuh bodo, gak pinter, gak cantik, gak banget deh pokoknya. Apa yang mau Leon banggain kalau dia sama lo? Dia pantesnya sama Gwen. Serasi," kata Kesha mengakhiri gumamannya pada dirinya sendiri, kemudian membatu dan diam tuk beberapa saat.

*

*

"Tanteeee, ayo es kriiiim. Nada mau es kriiiim!" teriak keponakan Kesha, alias Nada, dengan suaranya yang lucu itu.

Hari ini, Kesha kedatangan tamu lucu. Siapa lagi kalau bukan Nada, keponakannya. Menepati janjinya, hari ini Kesha mengajak Nada jalan-jalan di taman kota. Ah, bersama Niko, sahabat terbaiknya, tentunya.

Tadi pagi, Niko menjemput Kesha, dan kemudian, mereka mengambil Nada di rumahnya. Tentunya Niko menjemput Kesha disaat sang penghuni rumah--alias Leon--masih tertidur pulas. Mungkin dia terlalu lelah karena mengobrol dan menghabiskan waktu dengan Gwen semalam? batin Kesha dalam hatinya.

Enemy's SlaveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang