Jam demi jam berlalu. Pagi sudah menyambut Kesha dengan mesra.
Dengan cara bersiap-siap yang super singkat, Kesha sudah tiba di sekolahnya pagi ini. Tapi tetap saja, ia kira ia sudah datang awal. Ternyata, begitu Kesha memasuki gerbang, bel sekolah berbunyi. Begitulah Kesha. Bersiap-siap kilat, karena bangun kesiangan, mengakibatkan Kesha menjadi siswi yang seringkai nyaris terlambat, di setiap harinya.
"Kes, lo dipanggil ke ruang BK," kata Putri. "Gue baru aja ketemu Bu Rara. Katanya, gue suruh panggil lo di kelas lo. Eh, malah ketemu di jalan."
"Gue? Ke BK?" tanya Kesha.
"Iya."
"Perasaan, gue nggak bikin masalah apa-apa..."
Putri menggaruk kepalanya. "Mungkin, bu guru ngelihat rekaman lo pas berantem sama Gwen di kantin. Mungkin, sih. Tapi nggak tau juga."
Ah, ya, rekaman kala itu. "Tapi kan Gwen udah dikeluarin dari sekolah!"
"Nggak tau, Kes. Coba aja ke ruang BK.."
Kesha menghela nafas kasar. "Thanks, ya, Put," kata Kesha.
"Sama-sama, Kes."
Kesha berbelok. Arahnya yang seharusnya lurus menuju kelas, kini harus mengambil langkah belok kiri tuk menuju ruangan BK.
Sesampainya disana, Kesha mengetuk pintu. Tok tok tok...
"Silakan masuk," kata suara dari dalam, yang bisa dipastikan, adalah suara Bu Rara.
Cklek... Kesha melangkahkan kaki menuju ke dalam.
Namun belum sempat ia menuju meja Bu Rara, dirinya dikejutkan oleh Leon, yang sedang duduk berhadapan dengan Pak Diro, salah satu guru BK.
"Le?" panggil Kesha. "Ngapain?"
Dan tak perlu menunggu jawaban, Kesha melihat tumpukan berkas di meja, yang ditutupi sebuah map berwarna merah jambu. Bertuliskan, 'Berkas Pindah Sekolah - Leon Bima Iskandar - II IPA 1".
Deg.
Kesha membulatkan matanya. Dirinya lemas. Baru saja semalam mereka bersenang-senang, kan?
"Lo... Mau pindah?" tanya Kesha, gagap.
Dan kini Kesha paham, apa yang Leon katakan kemarin. Mengenai kata 'terakhir', yang berkali-kali Leon ucapkan.
Benar. Segala yang terjadi kemarin.... Adalah yang terakhir. Dan kini, Kesha menahan nafas, berusaha mengatur agar air matanya tak tumpah keluar.
Keluar dari ruangan ini, Kesha harus meminta penjelasan Leon. Tentang semuanya.
"Kesha Ayu Shakira, dari kelas II IPS, ya?" Bu Rara memanggil.
Kesha yang semula masih terperangah akan berkas-berkas Leon, kini kembali tersadar akan tujuannya datang ke ruangan ini. "Iya, Bu," balas Kesha, sopan.
"Silakan duduk."
Seharusnya saat ini Kesha panik. Tapi nyatanya, Kesha tidak panik. Karena rasa paniknya, sudah tertutup oleh rasa penasaran akan Leon, yang tiba-tiba datang dengan setumpuk berkas kepindahannya. Ada apa gerangan?
"Kamu tau, kenapa saya memanggil kamu kesini?" tanya Bu Rara, mengawali pembicaraan.
"Tidak, Bu."
Bu Rara menarik nafas. "Ibu mendapat laporan, tentang kekerasan yang kamu lakukan terhadap Gwen, siswa kelas IPA. Di kantin. Banyak yang melaporkan, kemudian menunjukan video ketika kamu menjambak dan memukul Gwen."
KAMU SEDANG MEMBACA
Enemy's Slave
Teen FictionJika kakaknya, berbahagia karena memiliki kisah yang indah dengan sahabat sekaligus tetangganya... Akankah hal ini terjadi pada sang adik? Kesha Ayu Shakira dan Leon Bima Iskandar. Keduanya saling bermusuhan. Bahkan generasi sebelumnya--alias mama...
