Bab XVII - Kesha X Gwen X Argue (2)

5.2K 913 97
                                        

NB: Bacanya sambil dengerin mulmed yah guys ^^

*

Kesha tersenyum sinis. "Emang bener ya, cowo yang bisa gue andelin di dunia, ya cuma bokap gue dan Niko."

Deg.

Seperginya Kesha, entah kenapa ada rasa yang menyelinap di hati Leon. Terutama saat Kesha mengucapkan nama lelaki itu dengan yakin dan lantang, dada Leon bergemuruh keras.

Lagi-lagi, Leon memaki dirinya sendiri. Mengutuk dirinya yang memang sama sekali tak bisa diandalkan, untung seorang pria sejati. Justru kala ini, Leon sadar, bahwa meski tulang lunak, setidaknya Niko selalu menghargai dan tulus terhadap gadis itu..

*

Apa aku salah? Katakan aku kejam, tapi coba bandingkan, kejam mana dengan lelaki yang memaksaku untuk ikut dengannya, tapi kemudian diturunkan paksa dengan dua lembar lima puluh ribuan, hanya karena seorang gadis yang merengek tanpa alasan.

Bukan masalah uang. Bukan masalah lelah kaki. Yang jadi masalah adalah... Harga diri.

Kesha meneteskan air matanya tanpa henti. Ketika Leon memberikannya beberapa lembar uang, hatinya sangat sakit. Ia bahkan tak menyangka, Leon mampu melakukannya.

Sungguh, untuk meninggikan harkat dan martabat Gwen, bukan berarti ia harus merendahkan Kesha, kan?

Dan kini, baik Gwen maupun Leon, sudah berhasil menginjak harga diri seorang Kesha. Mereka sangat sukses.

"Kes.. Gue tau lo marah. Dan menurut gue, lo emang udah sepantasnya marah sama mereka. Apalagi sama Leon," kata Dara.

Kesha memang menceritakan semuanya pada Dara hingga  menangis dan meraung saking sebalnya.

"Tapi bukan berarti selama di kelas lo murung dan badmood," lanjutnya. "Ayolah keluar kelas. Ke kantin kek, atau apa.."

"Lo aja, Dar. Gue masih males. Nanti di kantin gue ketemu Gwen malah berabe. Males, ah!"

"Aaah, Kes. Ayo dooong. Nanti di kantin gue traktir, deh!" Dara mengedipkan sebelah matanya, berusaha merayu Kesha.

"Tumben lo dermawan. Kesambet apa?"

Dia nyengir. "Maksudnya, gue traktir lo.. Terus besok gantian lo yang nraktir gue."

"Jadi... Artinya gue gak ditraktir, dong?"

"Ditraktir. Cuma besok gantian lo nraktir gue!"

Kesha memoles kepala Dara. "Itungannya gue gak dibayarin, pea!"

Dara tertawa, puas. "Ya kali masalah duit gue ga mungkin cuma-cuma!"

"Kampret lo. Gue kira lo mau bayarin beneran!"

"Kalo itu sih besok, kalo gue udah jadian sama Kak Rey!"

"Mustahil, Daraaa!" kata Kesha, jujur. Ia terkekeh. Ya mana bisa? "Nih, ya, Kak Rey itu pinter, baik, ganteng.. Terpandang, lah, suka menang olimpiade sana-sini. Lah lo? Apa coba? Lomba makan kerupuk aja cupu!"

"Kambing lo!"

"HAHAHAHA." Tawa Kesha pecah. Entah kenapa, menghina sahabat adalah hobi ternikmat. "Gue mau lo berpikir realistis aja, Dar."

"Terus yang realistis, gue suruh sama siapa?"

Jemari Kesha menunjuk ke lelaki gendut yang sibuk berkejar-kejaran dengan Arya--teman sekelasnya. "Tuh."

"Bimo? Anjir! Lo aja kali, kan lo yang hobinya berantem mulu sama dia! Cocok tuh!"

"Ya enggak lah! Kalo gue sama dia, rumah pasti ancur. Kalo lo sama Bimo kan cocok, lo suka masak, dia suka makan!"

Enemy's SlaveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang