Hidup Kesha kembali berjalan. Usai Leon memberinya kabar, --meski kemudian hilang kembali--Kesha akhirnya bangkit lagi.
Kesha merogoh ponselnya, dan mengirim pesan ke nomer seorang lelaki yang mengaku Leon tersebut.
Kesha:
Kalau lo memang Leon, kabari gue kalau sempat.
Sent!
Dan usai melakukan hal tersebut, Kesha menekan kontak Chandra di ponselnya. Berusaha menghubungi lelaki tersebut.
"Halo?" Chandra, mengawali pembicaraan. "Need me?"
Kesha tertawa singkat. "Just want to ask about something."
"Apa?"
"Ada orang chat gue. Mengatasnamakan Leon. Memang benar itu Leon?"
Chandra tertawa keras. "Duh, ujungnya Leon yang nggak tahan, kan, pengen chat lo."
"Jadi, beneran Leon?"
"Hmmm.. Besok gue ceritain lengkapnya. Nggak lucu kalau lewat telepon, karena memang ini lumayan serius dan panjang," katanya.
"Duh. Tanggung jawab, gue jadi penasaran, kan!"
"Hahahaha. Tanggung jawabnya gimana? Gue harus nikahin lo?"
"Dih. Mana gue sudi!"
"Lo pikir gue mau? Hahahaha. Udah ah, gue mau ada urusan keluar bentar. See you tomorrow! Nggak usah dipikirin tentang Leon. Kan gue udah bilang, lo cukup diam di tempat aja, nantinya Leon bakal balik ke lo."
"Ta--"
Dan dengan tak sopan, Chandra sudah memutus sambungan telepon tersebut, dan membuat Kesha gagal bicara.
Kesha menghela nafas, kemudian melemparkan badannya ke atas kasur.
Sesuatu yang indah untuk menyambut pagi adalah 'tidur' nyenyak di malam hari. Dan detik ini, Kesha akan melakukannya.
Pikirannya kembali melayang. Memikirkan sosok Leon beserta bayangannya. Aromanya, postur tubuhnya, gaya pakaiannya, hingga sepatu favorit yang Leon kenakan, masih Kesha kenang dengan rapi dalam ingatannya.
Semoga saja, segala rasa penasarannya adalah perihal yang baik. Sehingga ia tak perlu dikecewakan, lagi dan lagi.
***
Pagi hari, suasana di kelas sepi. Mungkin bukan suasana kelas, tapi suasana hatinya yang sedang sepi. Bayangkan saja, kemarin, ia kehilangan Dara dan Niko dalam satu waktu. Dan semalam, ia didatangi oleh sosok virtual yang mengaku Leon, meski hanya lewat percakapan singkat di HP, yang justru membuat Kesha makin kosong dan makin merindukan Leon saja, rasanya.
Pelajaran belum dimulai. Jam pertama diisi oleh ceramah singkat, yang akan dibawakan oleh Wali Kelas masing-masing. Dan disinilah Bu Ani berada, di hadapan puluhan muridnya yang sudah menampakan beragam ekspresi.
Bu Ani mengawali pertemuan dengan doa, kemudian mengabsen muridnya satu per satu.
"Abi Arroyan?"
"Saya, Bu!"
"Adara Callista?"
Hening.
Hening.
Dan hening.
Kesha terhenyak. Ia baru sadar, bangku sebelahnya--yang selalu menjadi singgasana Dara--kosong.
"Kesha, kemana Dara?" tanya Bu Ani.
Kesha menggeleng pelan. "Saya kurang tau, Bu.."
"Loh, bukannya kamu teman dekatnya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Enemy's Slave
Teen FictionJika kakaknya, berbahagia karena memiliki kisah yang indah dengan sahabat sekaligus tetangganya... Akankah hal ini terjadi pada sang adik? Kesha Ayu Shakira dan Leon Bima Iskandar. Keduanya saling bermusuhan. Bahkan generasi sebelumnya--alias mama...
