Bab III - Ancaman Selamanya

12.7K 863 39
                                        

Kesha merasa bahwa dirinya tak mencium lantai ketika jatuh. Tapi, dia merasakan sesuatu yang kenyal di bibirknya. Dan.... nafas siapa ini? Kenapa semua terasa begitu dekat?

Dan suara tawa, jepretan kamera, dan sorak-sorai disekitar mereka makin meyakinkan Kesha, bahwa Kesha.... Mencium sesuatu yang lain, selain lantai.

Kesha membuka mata secepat mungkin, sebelum sorak sorai makin kencang dan Kesha makin mendapat malu.

Dan Kesha terkejut setengah mati, bahwa ia mencium Leon. Bibirnya menempel mantap pada pipi kiri Leon.

"AAA!" jerit Kesha, shock.

Dan beberapa pasang mata melihatnya.

"Sialan!" umpat Kesha. Ia langsung bangkit dan menggunakan air soft drink yang diambil untuk mencuci mulutnya. "Lo nyuri first kiss gue!" teriak Kesha lagi.

Sementara yang diteriaki kini telah berdiri gagah dan malah menatap Kesha dengan tatapan remehnya. "Gue? Cium lo?"

"Iya!"

"Bahkan lo yang tabrak gue dan dorong gue sampai gue jatuh."

Kesha membesarkan matanya. Iya juga sih, kan gue yang jatoh, ya? Tandanya gue yang nyium dia? Astagaaaa.... Cobaan apalagi ini...

"Eum... Ya....pokoknya gue gak mau tau, lo yang salah! Karena bibir gue jadi gak suci gara-gara lo!"

"HAHAHAHA! Guys, lihat nih! Dia baru ngerasain ciuman, bro!" Leon menoleh ke arah geng nya, dan sialnya, mereka semua menertawakan Kesha.

"Lo belum pernah pacaran, ya?" ledek Leon.

Babal terkekeh. "Kesha? Pacaran? Mana mungkinnn! Dia aja sama si banci melulu! Hahahahaha!"

Memang apa yang salah sih kalau belum pernah pacaran? Bukannya malah suci, ya? Eh, sialan, sok suci gue. Baru aja gue ciuman, kan? Ciuman sampah!

"Ya ampun, Babal yang jeleknya naudzubillah aja udah ratusan kali cium cewek, ya gak?" Devan memegangi perutnya ketika tertawa mengejek Babal.

"Biar kata gue jelek, yang penting gue penuh pesona, man!" Babal membela diri. 

Oh My God.

Dari jauh, Kesha melihat Niko yang menatapnya dengan penuh rasa kasihan. Oh, Kesha bahkan tak butuh tatapan. Kesha butuh pertolongan!

"Udah? Puas ngetawain gue? Bye, gue pergi!" kata Kesha mengibaskan tangan. 

Diiringi tawa ejekan dari mereka, Kesha melangkahkan kaki dengan gontai. Dan sepertinya, pesta ini akan menjadi the-worst-party-ever untuknya.

*

Makin malam, pesta makin ramai saja. Ada yang langsung mengambil makanan, ada yang minum-minum cantik sambil berbincang, ada yang sibuk mencari partner dansa, dan ada juga yang sudah berdansa dengan pasangannya. 

Sebenarnya percuma memakai topeng. Toh dari baju dan badannya, sudah terlihat jelas siapa sosok yang ada di balik topeng itu.

"Le, abis lo nyanyi, kita dansa, ya?" Raisa--anak kelas sepuluh-E yang cantik dan termasuk golongan kaum populer, menghampiri Leon dan berkata demikian.

"Oke."

"Sama gue juga, ya?" Sekarang giliran Lila, anak kelas sepuluh-C. Cantik juga, meski bertubuh sedikit gemuk, tapi dasarnya cantik, ya tetap saja cantik.

"Siap."

Tuh, kan? 

Bahkan semua geng Leon pun mendapat tawaran dansa dengan murid-murid cantik. Bagaimanapun urakan dan berantakan gerombolan Leon, namun gerombolan tersebut tetaplah disegani. Termasuk si Babal yang hitamnya luar biasa, tetap saja mempesona. Lihat, bahkan Babal sudah berdansa dengan Vanesa, si cantik nan mungil dari kelas sepuluh E.

Enemy's SlaveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang