Sekarang, aku dan winny tengah berjalan menuruni anak tangga dengan perlahan. Cahaya matahari dipagi hari mulai masuk merambas kedalam rumah. Keadaan ini agak membantuku untuk bisa mengawasi keadaan sekitar.
Setelah mencapai lantai 1, aku berhenti sejenak. Melihat situasi.
Aman.
Aku memberi kode kepada winny agar jangan dulu turun. Tetapi menunggu dipertengahan tangga.
Dengan mengendap-endap, aku mencoba melihat kesekeliling isi rumah. Takut kalau-kalau ada zombie-zombie itu masuk dan berada bersama kami.
Setelah memastikan situasi aman. Aku segera menutup pintu utama dan menguncinya dengan cepat dan pelan.
Aku segera kembali kearah winny.
"Ayo, win. Aman. Cepat turun dan carilah kamar dimana pakaianmu ada. Cepat. Waktu kita tak banyak." kataku.
Winny segera melangkah menuruni anak tangga. Lalu ia berjalan menuju kesebuah kamar.
Aku sendiri mencoba pergi kearah dapur. Biasanya disana ada peralatan yang bisa dijadikan senjata.
Namun, yang kutemui hanyalah alat-alat dapur biasa. Seperti panci, wajan dan lainnya. Hanya pisau yang bisa disebut benda berbahaya. Kecil pula.
Begitu aku keluar, winny ternyata sudah menungguku didepan pintu dapur.
Ia kini memakai celana jeans pendek, kaos putih dan jaket kulit berwarna pink. "Dasar perempuan." kataku dalam hati.
"Kamu mencari apa ?" tanyanya.
"Senjata, atau apalah namanya yang bisa kita gunakan untuk melindungi diri." jawabku.
"Ada ?"
Aku hanya mengangkat bahu, "Kosong."
Winny sejenak terdiam.
"Apa yang kau pikirkan ?" tanyaku.
"Ikut aku, ded." katanya sambil menarik tanganku.
Tangan lembutnya menggenggam erat tanganku. Aku tersenyum. Mengingat kejadian sebelumnya.
Winny setengah berlari membawaku kesebuah kamar yang berada dibelakang rumah.
"Ini kamar joni." ujarnya.
"Lalu ?"
"bodoh. Biasanya para lelaki pasti menyembunyikan sesuatu dikamarnya. Mungkin saja dimenyimpan senjata atau semacamnya."
Aku hanya ber-oh ria mendengar penjelasannya. Masuk akal juga.
Kubuka pintu kamar joni. Bersyukur tidak terkunci. Dan kalian tahu. Perasaan perempuan memang tidak bisa dibuat main-main.
Dikamar joni, terdapat banyak sekali senjata.
Aku hanya bisa melongo. Sedang winny nampak syok melihat isi kamar joni itu.
Aku menoleh kearah winny.
Winny dengat wajah cemberut mencubit perutku. Aku berteriak kecil kegelian.
Kami lalu memasuki kamar itu dengan perasaan campur aduk.
Dikamar joni, senjata yang ada bukanlah senjata yang kalian bayangkan. Disini, dikamar ini, senjatanya berbentuk cambuk, borgol, rantai, pakaian wanita ketat terbuat dari bahan latex.
Lalu ada 4 buah lilin berwarna merah. Lalu diatas meja berjejer rapi berbagai bentuk vibrator untuk wanita. Dari yang polos licin, sampainyang bergerigi. Bahkan ada sebuah benda seperti tali karet yang ditengahnya ada 4 buah bola.
Ini semua seperti yang pernah aku lihat divideo-video xxx.
Winny sendiri memandangi peralatan itu dengan wajah jijik dan ngeri.
Aku mencoba menggodanya.
"Senjata joni bagus-bagus ya ? Lengap lagi."
Kontan winny kembali mencubiti tubuhku.
Aku tertawa geli. Winny tiba-tiba saja memeluku. Aku diam. Aku mengerti perasaannya. Andai saja wabah zombie ini tidak terjadi. Maka dirinya akan menjadi santapan zombie lainnya.
"Sudah-sudah. Sekarang kau aman bersamaku." ucapku pelan sambil mengusap rambutnya.
Kami keluar kamar joni dengan tangan kosong. Sebab apa yang akan kami ambil untuk dijadikan senjata ?
Aku melihat jam didinding ruang tamu. Waktu menunjukan pukul 09:00.
"Baiklah. Saatnya bergerak." kataku. Winny mengangguk.
Namun, tiba-tiba terdengar suara yang mengagetkan kami !
***

KAMU SEDANG MEMBACA
WABAH ZOMBIE
FantasiMengisahkan tentang terjadinya wabah zombie yang melanda indonesia. kisah tentang seorang ayah yang mencoba menyelamatkan keluarganya dan mencoba untuk survive terhadap serangan dan ancaman para zombie. akankah dia berhasil ???