Aku duduk dibagian luar gubug sambil melihat laki-laki berbadan besar namun gemulai yang tengah berusaha menolong Tania agar menjadi lebih baik.
Setelah beberapa saat kemudian, kulihat Tania mulai terlihat agak membaik. Aku bernafas lega.
Aku berdiri sambil merenggangkan tubuhku, mencoba merilekskan tubuh.
Mataku lalu memandang ke seberang sungai. Disana terdapat sebuah bangunan yang letaknya agak jauh disana. Diantara kerumunan puluhan, mungkin ratusan zombie-zombie terkutuk itu. Sebuah bangunan yang menurut Sopyan adalah tempat menampung orang-orang yang berhasil selamat dari wabah zombie ini. Dan diantara mereka, ada dua sosok perempuan yang kucintai. Istri dan putri kecilku.
Memikirkan sampai disitu, hatiku menjadi gelisah. Bagaimanakah keadaan mereka sekarang? Apalah mereka berdua selamat dari ledakan besar yang terjadi dibangunan itu?
Kepalaku serasa pening dan mau pecah memikirkan hal-hal tersebut. Aku tidak bisa terus menerus tertahan dan bersantai-santai, sedangkan aku tidak mengetahui bagaimana keadaan mereka berdua sekarang.
"Aku harus segera menemukan anak dan istriku secepatnya."
Setelah memikirkan hal itu, aku membulatkan tekad.
Aku lalu melangkah kedalam gubuk, menemui Tania dan Sopyan yang tengah beristirahat.
Tania yang melihatku masuk sedikit bergeser, mencoba memberiku ruang untuk duduk disampingnya.
Aku melihat itu dan memberikan isyarat menolak.
"Ada apa?" Tanyanya agak heran.
Sopyan ikut membuka matanya yang tadi terpejam.
Aku terdiam.
Tapi aku lalu berkata terus terang, "aku tidak bisa terus-menerus diam disini. Aku harus segera menyelamatkan keluargaku."
Sopyan dan Tania saling pandang.
"Maksudmu anak dan istrimu?" Tanya Sopyan.
Aku mengangguk cepat.
"Tapi kau taukan, gedung tempat kami bersembunyi entah kenapa meledak begitu saja. Dan itu membuat para zombie mengetahui posisi gedung itu." Kata Tania.
"Aku tahu. Tapi tetap saja. Aku merasa tidak tenang apabila tidak aku pastikan sendiri keadaan seperti apa yang terjadi disana." Kataku.
Kami bertiga terdiam. Mencoba mencerna dan mencari solusi akan masalah yang aku hadapi.
Tania akhirnya berdiri, "kalau itu maumu. Baiklah. Kami berdua akan membantu."
Sopyan juga ikut berdiri.
Aku memandang mereka berdua. Setelah menimbang baik dan buruknya. Aku lalu berkata.
"Maaf, untuk melakukan hal ini, aku akan pergi seorang diri kesana."
"Tapi..." ujar Tania.
"Aku tahu. Kalian berdua ingin membantu. Tapi aku melihat kondisi fisik kalian untuk saat ini masih belum bisa. Maaf, bukannya aku meremehkan kemampuan kalian. Tapi aku hanya ingin pergi seorang diri. Dan itu akan membantuku untuk bergerak lebih cepat."
Sopyan dan Tania masih berkeras hati untuk tetap ikut serta. Tapi kembali aku menolaknya. Hingga akhirnya, "kalian berdua tunggulah disini. Beristirahat. Jika sampai matahari terbit nanti aku masih belum kembali, kalian pergilah mencari tempat yang aman tanpa harus menunggu ku."
"Tapi kemana tempat yang aman itu?" Tanya Sopyan.
"Kalian nanti ikuti arus sungai ini. Setelah berjalan kira-kira 4 jam, kalian akan tiba di muara sungai ini. Lalu sebisa mungkin kalian buat rakit untuk menyusuri pinggiran pantai ke arah timur. Karena aku berencana untuk pergi ke Bandung. Disana menurut informasi yang aku dapatkan aman."
"Tapi artinya kami nanti harus turun ke darat lagi disekitar Karawang untuk kemudian berjalan kaki lagi ke kota Bandung." Kata Tania.
"Tidak. Nantinya kalian akan menemukan sebuah sungai besar dipinggir sungai di kabupaten Karawang. Kalian akan dapat menyusuri sungai itu dengan cara melawan arus. Karena sepengetahuanku, zombie-zombie itu tidak bisa berenang. Oleh sebab itu tadi mereka tidak bisa mengejar kita saat kita berenang kemari." Kataku panjang lebar.
Mereka kulihat mengangguk. Entah mengerti atau tidak.
Aku lalu menyiapkan diriku sendiri. Aku menyelipkan sebuah handgun diikat pinggangku yang kuisi dengan magazine full peluru. Lalu dipunggung aku menggantungkan senjata andalanku, ss2. Sedangkan ditangan, aku menggenggam erat sebuah katana. Tak lupa sebuah gulungan tali sling baja aku ikatkan dipinggangku.
Tania dan Sopyan melihat semua persiapanku.
"Kenapa kau tidak membawa ransel saja. Bukankah lebih praktis." Tanya Sopyan.
Aku menggeleng.
"Tidak, dengan seperti ini, aku merasa lebih gampang bergerak dan bisa dengan cepat mengambil barang-barang yang aku butuhkan." Kataku.
Setelah memberikan beberapa pesan kepada mereka berdua, dan setelah Tania juga memberikan Aku ancang-ancang letak gedung persembunyian, Aku lalu mulai berangkat.
Ditengah gelapnya malam, aku mulai berjalan dengan perlahan menyusuri tepian sungai. Aku tidak ingin langsung menyebrang, karena aku bermaksud untuk menyebrang ketika aku yakin bahwa disebrang sana terdapat gedung yang dikatakan oleh Tania sebagai tempat persembunyian mereka. Ini kulakukan sebagai cara untuk meminimalisir bertemu dengan para zombie itu. Memang, tidak menolak kemungkinan bahwa disisi sungai tempatku berjalan ada juga zombie-zombie itu.
Setelah sekitar setengah jam berjalan, aku melihat disebrang sana langitnya berwarna agak kemerahan di gelapnya malam.
"Itu pasti akibat paparan cahaya api kebakaran gedung."
Setelah merasa yakin, aku mencoba memperhatikan keadaan diseberang sungai.
"Aman."
Perlahan aku mulai melangkah menyebrangi sungai di hadapanku. Setapak demi setapak aku melangkah, lalu saat kakiku sudah tidak menyentuh dasar permukaan sungai, aku mulai menyelam. Aku menghindari berenang karena akan menimbulkan suara yang takutnya didengar oleh zombie-zombie yang berada didekat aliran sungai ini.
Setelah menyelam beberapa kali dan terbawa arus sungai hingga aku tak sampai ditempat tujuan, tapi jaraknya juga tak terlalu jauh. Yang penting aku berhasil selamat dan tidak menarik perhatian "mereka".
Sesampainya aku ditepian sungai, aku segera berjalan cepat kesebuah pohon yang tumbuh dipinggiran sungai. Dibalik pohon itu, aku memeriksa semua barang bawaan ku. Setelah aku yakin semuanya baik-baik saja, aku mulai melangkah pelan memasuki rimbunnya ilalang yang tumbuh subur membentang luas itu.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
WABAH ZOMBIE
FantasyMengisahkan tentang terjadinya wabah zombie yang melanda indonesia. kisah tentang seorang ayah yang mencoba menyelamatkan keluarganya dan mencoba untuk survive terhadap serangan dan ancaman para zombie. akankah dia berhasil ???