Wabah zombie 6

2K 86 1
                                    

  Sekali lagi, aku menatap wajah mereka. Mencoba untuk mencari apakah mereka benar-benar akan berbuat sebagaimana yang tadi mereka katakan.

  Aku harus bisa meyakinkan mereka bahwa mereka tidak akan bisa selamat pabila mereka memutuskan untuk tetap bertahan di dalam rumah ini.

  Aku lalu berjalan menghampiri mereka.

  "Aku senang mendengar jawaban kalian. Itu berarti kalian masih memiliki kesempatan untuk tetap bertahan hidup daripada kalian tetap bertahan."

  Aku menarik nafas sejenak, "sekarang aku akan bertanya, keahlian apa yang bisa ataupun yang pernah kalian lakukan untuk menjaga diri. Karena nanti, kita akan menghadapi makhluk-makhluk berengsek itu diluar sana. Dan untuk menjaga diri kita, dibutuhkan sebuah kemampuan untuk tetap bertahan hidup, yaitu membunuh."

  Wajah ambar dan mira tampak menegang mendengar penjelasan ku.

  "Ambar, aku akan bertanya dahulu kepadamu. Apa yang bisa kau lakukan untuk menjaga dirimu dari serangan mereka ?"

  Ambar tampak berpikir sejenak, namun ia kemudian menjawab dengan penuh keyakinan.

  "Aku bisa menggunakan senjata api."

  "Bagus," kataku, "nah mira, kalau kau ?"

  "Aku tidak tahu apakah keahlian ku ini akan berarti atau tidak. Tapi aku adalah seorang pemukul kasti yang cukup baik di sekolah."

  Aku mengangguk pelan. Lalu aku berkata, "itu juga cukup mira. Asalkan kau memukul kepala para zombie-zombie itu dengan keras, maka kemampuanmu akan sangat membantu."

  Ia mengangguk.

  "Sekarang mari kita bersiap-siap untuk menerobos kepungan mereka."

  Lalu, kedua gadis SMA itu berganti pakaian yang bisa membantu mereka bergerak dengan cepat.

  Setelah dirasa cukup, ambar mengajak kami untuk turun kelantai satu rumahnya.

  Namun, saat kami bertiga hendak keluar kamar. Ambar menahan mira untuk ikut serta.

  "Kau tidak usah ikut kami, tolong awasi saja keadaan diluar sana."

  "Tapi aku takut." Mira agak segan untuk mengikuti instruksi ambar.

  Ambar mencoba untuk menenangkan mira, "bukannya aku akan meninggalkanmu, tapi kupikir bila kita bertiga turun bersama, akan sedikit gaduh dan itu mungkin akan membuat zombie-zombie itu tertarik."

  Mira kulihat menarik nafas dalam-dalam, meskipun agak ragu-ragu, ia akhirnya mengangguk.

  Aku dan ambar lalu mulai berjalan keluar kamar. Sedangkan mira, tetap didalam guna mengawasi keadaan diluar sana.

  Keadaan didalam rumah tampak gelap dengan sedikit cahaya yang berasal dari kilatan-kilatan petir yang masih tetap menyambar didalam lebatnya guyuran air hujan.

  "Hati-hati." Desisku pada ambar yang berjalan di depanku.

  Aku berjalan di belakang ambar sembari menggenggam sebuah pedang katana.

  "Kita akan menuju ke kamar ayahku. Disana ada sebuah ruangan khusus yang digunakan sebagai penyimpan senjata olehnya."

  Kaki-kaki kami melangkah perlahan menuruni anak tangga menuju lantai satu.

  Aku dengan penuh kewaspadaan mencoba untuk meningkatkan daya pendengaranku, mencoba untuk mencari, apakah ada suara-suara aneh yang juga berada didalam rumah ini.

  Karena takut terjadi apa-apa pada ambar, aku lalu berjalan di depannya. Sambil menggenggam erat tangannya, aku berkata.

  "Kau tunjukkan saja dimana letak kamar ayahmu. Aku akan berjalan didepanmu berjaga-jaga apabila ada sesuatu yang berbahaya menyerang kita."

WABAH  ZOMBIETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang