Wabah zombie 13 : friends ?

1.1K 65 0
                                    

Sebuah benda dingin dan sepertinya berlendir menempel tepat di leherku. Sekujur tubuhku menegang. Tak bisa aku gerakan.

Keheningan tercipta. Hanya desau angin yang kudengar.

"Jatuhkan senjatamu..." Seseorang berkata tajam dan berat tepat dibelakangku.

Reflek, segera senapan yang aku genggam aku jatuhkan.

"Angkat kedua tanganmu." Katanya lagi.

Aku mengangkat kedua tanganku keatas.

Pandanganku masih memandang nanar kedepan.

"Sial, apakah aku akan di eksekusi seperti para Zombie itu. Padahal aku masih belum bertemu dengan anak dan istriku." Aku mendesah pelan.

Namun tiba-tiba terdengar beberapa orang tertawa tertahan. Begitupun dengan orang yang menodongkan apalah itu dileherku.

Perlahan, senjata yang dilekatkan dileherku ia turunkan.

"Berbaliklah." Kata orang bersuara berat itu.

Aku berbalik.

Mulutku langsung terbuka lebar. Tercengang akan keadaan orang-orang di belakangku.

Ada lima orang yang aku lihat mengelilingiku​ kini.

Yang pertama, adalah orang dengan suara berat yang menodongkan senjata kepadaku. Ia seorang laki-laki berusia sekitar 30 tahunan. Bergantung terbalik disebuah cabang pohon tempatku tadi bersembunyi. Saat aku melihat keatas. Tampak kedua kakinya menekuk sedemikian rupa sehingga bisa menahan beban tubuhnya. Dan senjata yang ia lekatkan kepadaku ternyata sebuah pisau belati yang berlumuran darah.

Yang kedua, aku melihat seorang laki-laki paruh baya dengan tubuh gemuk memegang sebuah senjata besar seperti yang pernah aku lihat di film Terminator.

Lalu laki-laki ketiga. Aku yakin ia laki-laki, karena meskipun hampir sekujur tubuhnya diselimuti oleh berbagai macam rerumputan untuk berkamuflase. Ia kulihat memelihara kumis yang lumayan tebal. Ia memegang sebuah senapan sejenis dengan milikku.

Dan yang keempat. Aku tidak bisa memastikan apakah ia laki-laki ataukah perempuan. Bukan karena sekujur tubuhnya diselimuti rumput-rumput seperti laki-laki ketiga. Tapi karena dandanan yang ia kenakan dan cara berjalannya yang gemulai, tampak seperti perempuan. Meskipun ia berperawakan tinggi besar. Bahkan paling besar diantara yang lainnya. Ia bahkan membawa dua buah senapan AK47 dikedua tangannya.

Lalu yang terakhir. Ia adalah seorang perempuan dengan wajah yang cantik, meskipun tampak kotor karena debu tapi itu tak menghapus kesan cantik diwajahnya. Ditangannya, ia memegang dua senjata handgun.

Aku masih terdiam. Meneliti kelima orang itu.

"Sudah..sudah, kita sudah terlalu lama keluar markas. Saatnya kita kembali." Laki-laki yang seluruh tubuhnya diselimuti rumput-rumput itu berkata.

"Okelah kalau begitu." Jawab laki-laki yang bergantungan itu. Ia lalu memutar tubuhnya keatas. Lalu dengan cepat ia merosot turun dengan senyum lebar kearahku.

Aku hanya bisa memaki dalam hati.

"Ayo ciynnn...jelong." kata makhluk besar keempat tadi seraya meremas pundakku.

Speechless aku mendengar suara dan kata-katanya.

Dan belum sempat aku berbuat apapun. Sosok cantik berjalan melewatiku sambil tertawa cekikikan.

Tanpa berkata apa-apa. Setelah aku mengambil kembali senjata yang tadi aku jatuhkan. Aku mulai berjalan mengikuti mereka.

"Oya ciynn...," Ujar pria berbadan besar itu sambil menoleh kearah ku, "siapa nama yey?"

Aku menoleh kearahnya, untuk sesaat aku merasa enggan untuk menjawabnya. Tapi mau bagaimanapun juga, kelima orang itu telah menyelamatkan nyawaku. Baik disengaja maupun tidak.

"Deddy." Aku mengatakan namaku.

Kulihat kelima orang itu agak terpengaruh dengan namaku. Terlihat meskipun agak samar, gerakan mereka serta raut wajahnya yang sedikit berubah.

Laki-laki yang berjalan paling depan, yang tadi menempelkan pisaunya padaku, berjalan seperti sedang berfikir akan sesuatu.

Aku yang penasaran akhirnya bertanya, "apa ada yang salah denganku?"

Serempak mereka berpaling kepadaku.

Untuk sesaat mereka saling berpandangan. Siperempuan satu-satunya di rombongan kami tiba-tiba saja menepukkan kedua tangannya.

"Ah..aku ingat sekarang." Ujarnya.

Aku mengerenyitkan dahi tak mengerti.

"Apa?" Tanyaku padanya.

Bukannya menjawab, perempuan itu malah balik bertanya, "apakah kau suami dari seorang wanita yang bernama HERA?"

Rasanya pupil mataku langsung membesar ketika mendengar nama itu disebutkan.

"B.. benar." Jawabku tergagap.

"Oh ya benar, itu yang dari tadi aku pikirkan." Berkata laki-laki yang berjalan paling depan.

Kulihat ketiga laki-laki lainnya menganggukkan kepalanya tanda mereka juga setuju dengan ucapan temannya itu.

"Apa...apa yang terjadi kepadanya? Dan apakah dia juga membawa seorang gadis kecil? Mereka adalah anak dan istriku. Bagaiman keadaan mereka? Dimanakah mereka berada?"

Pertanyaan itu langsung terlontar dari mulutku begitu saja.

"Wow...wow..wow... satu-satu bung. Kami bingung dengan semua pertanyaan sebanyak itu." Kata laki-laki yang memegang senjata besar layaknya Arnold Schwarzenegger di film Terminator.

"Maaf," kataku, "tapi aku benar-benar ingin tahu bagaimana kabar mereka."

"Aku tahu itu, jadi akan kami...."

Suara laki-laki itu terhenti seketika saat ia melihat tanda "diam" yang diberikan oleh laki-laki terdepan.

Rombongan kami terhenti seketika. Oya, asal kalian tahu. Saat ini, kami tengah berjalan disebuah jalan setapak yang masih berupa tanah. Dikiri dan kanan kami, tumbuhan ilalang setinggi 2 meter lebih.

Keadaan sunyi seketika.

Namun, ditengah-tengah kesunyian ini, kami sayup-sayup mendengar suara desahan nafas panjang yang sangat aku sering dengar belakangan ini.

"Mustahil mereka bisa sampai wilayah ini, Toni." Bisik laki-laki yang tadi tengah berbicara kepadaku.

Toni, yang berjalan paling depan, tidak menjawab. Tapi kemudian ia hanya menggelengkan kepalanya tanda ia juga tak tahu.

"Aku juga tak tahu, Arnold." Akhirnya Toni menjawab.

"Lalu...apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Tania, si gadis.

Toni melihatnya, lalu berkata.

"Kita harus..."





***


WABAH  ZOMBIETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang