"Kak.. kakak, bangun."
Suara lembut terdengar pelan ditelingaku. Dengan perasaan malas, aku membuka mata ini. Sebuah kamar yang agak gelap adalah penglihatanku yang pertama. Perlahan namun pasti, seluruh memori otakku terkumpul dan menjadi satu kesatuan. Serentak aku terbangun dengan mata terbuka lebar dan nafas yang memburu.
"Kak, ada apa?"
Kembali aku mendengar suara seorang wanita.
Aku menoleh.
Kulihat sebuah wajah cantik memandangi wajahku dengan mata yang menunjukkan kecemasan.
Ambar.
Aku lalu mencoba menenangkan diri. Beberapa saat kemudian, aku memandang wajahnya dan bertanya, "apa yang baru saja aku lakukan?"
Ia kulihat mengerutkan keningnya. Namun ia menjawab juga pertanyaanku.
"Setelah kita keluar dari dalam ruangan khusus milik ayahku, kakak kulihat berbaring di ranjang. Tak lama kakak tertidur."
"Aku tertidur?" Ulangku.
Ambar mengangguk.
Aku tersenyum dan menarik nafas lega.
Ternyata apa yang terjadi tadi adalah mimpi dalam tidurku.
Ambar heran melihat segala tingkahku.
"Memang ada apa kak?"
Aku hanya bisa tersenyum. Dan tanpa menjawab pertanyaan yang ia ajukan, aku lalu memberi isyarat agar segera kembali ke kamar atas.
Kami berdua lalu bergegas kembali ke tempat mira yang sedang menunggu dengan membawa tas berisi senjata dan isinya.
Kemudian, setelah sampai di kamar. Aku lalu kembali memberikan penjelasan mengenai rencana meloloskan diri dari kepungan para zombie itu.
Setelah mereka berdua mengerti, aku lalu memberikan sebuah pedang yang kubawa kepada Mira untuk dia berjaga-jaga.
"Anggap saja pedang ini adalah alat pemukul kasti. Bedanya, alat ini memiliki ketajaman yang mampu untuk melukai bahkan membunuh orang. Ingat, apabila nantinya kau diserang oleh zombie, mau harus menyerang mereka pada bagian kepala. Karena disanalah letak kelemahan mereka." aku mencoba memberikan penjelasan kepada Mira.
Mira mengangguk pelan.
Saat aku melihat kearah ambar, ia ternyata telah bersiap menghadapi makhluk-makhluk diluar sana. Dengan penuh keyakinan, ia menggenggam erat dua buah handgun ditangannya.
Ia mengangguk ketika aku memperhatikannya. Seolah berkata, "aku sudah siap."
Aku lalu mempersiapkan diri. Kuperiksa senjataku. Kulihat isi didalamnya, hampir habis. Aku lalu mengambil sebuah Refill dan memasukannya, menggantikan Refill yang hampir habis tadi.
Kemudian aku menyatukan isi tas yang aku bawa dari Jakarta di dalam tas ransel yang lebih kuat. Aku juga kembali mengecek semua peralatan didalamnya.
Setelah semuanya selesai. Kami bertiga segera berdiri didalam kamar milik ambar. Aku lalu memberikan penjelasan mengenai rencana meloloskan diri ini.
Mereka berdua mengangguk tanda mengerti akan penjelasan ku.
Sebelum kami melakukan rencana ini, aku memerlukan waktu untuk melihat situasi yang ada di luar sana. Dengan ditemani oleh ambar, aku berkeliling di dalam rumah. Ambar juga menjelaskan tentang segala sesuatu yang ia ketahui tentang lingkungan rumahnya.
Setelah mengetahui serba sedikit tentang lingkungan perumahan ini, aku mengajaknya kembali ke dalam kamar.
Didalam kamar

KAMU SEDANG MEMBACA
WABAH ZOMBIE
FantastikMengisahkan tentang terjadinya wabah zombie yang melanda indonesia. kisah tentang seorang ayah yang mencoba menyelamatkan keluarganya dan mencoba untuk survive terhadap serangan dan ancaman para zombie. akankah dia berhasil ???