Soojung memandang kosong ke depan. Gadis itu melamun. Waktunya hanya dipergunakan untuk memikirkan masalah yang bertubi menimpanya. Pertama masalah Jongin yang menggunakannya sebagai bahan taruhan. Kedua, Sehun yang mencoba kembali bersama dirinya. Terakhir, Luhan yang entah bagaimana tiba-tiba saja menyatakan cinta pada Soojung.
Ini rumit.
Jika bisa memilih, Soojung ingin sekali tetap hidup sebagai yatim piatu di sebuah panti asuhan. Mungkin hidupnya tidak akan semewah sekarang, tapi setidaknya Soojung tidak harus melalui kisah yang sudah seperti drama saja. Terlalu rumit dan menguras perasaan.
Dug.
Soojung tersentak saat sebuah cangkir di letakkan di depannya. Aroma moccalatte menguar dalam cangkir itu. Sedikit membuat perasaan Soojung lebih baik. Soojung lantas menoleh dan mendapati sebuah senyum terukir manis dari seorang Choi Minho. Pemuda itu lantas duduk di sebelah Soojung sambil menyesap kopinya. Terserah jika Minho mau dibilang tidak sopan.
"Tidak mau diminum?" tanya Minho saat menyadari bahwa Soojung masih menatapnya dengan takjub. "Jangan melihatku seperti itu, nanti suka."
Soojung mendengus mendengar celotehan Minho. Baik, mungkin Soojung akui Minho tampan untuk ukuran seorang anak pelayan. Tetapi, tetap saja dia tidak menarik bagi Soojung. Atau mungkin bisa saja Minho menarik, sayang Soojung kepalang jauh mencintai Kim Jongin.
Lagi-lagi Kim Jongin. Kenapa nama itu terus mengganggu pikirannya?
"Sepertinya ada masalah," celetuk Minho tiba-tiba. "Mau bercerita?"
Soojung membuang napasnya kasar. Menyesap sedikit moccalatte buatan Minho lantas memainkan cangkirnya. "Bukan apa-apa. Aku baik-baik saja," kata Soojung pelan. Sejujurnya Soojung memang utuh teman berbagi cerita. Tapi, Soojung belum siap. Entahlah ada apa dengan dirinya.
"Jangan bohong," tukas Minho. "Kau tidak berangkat sekolah dua hari ini. Dan itu tanpa alasan yang jelas. Aku rasa memang sudah terjadi sesuatu," Minho masih kukuh dengan dugaannya. "Apakah kekasihmu itu melakukan sesuatu yang buruk?"
Soojung mengeratkan pegangan pada cangkir miliknya. Mengulum bibirnya pelan sebelum menatap lekat manik kelam milik Minho. "Tidak apa-apa. Sungguh. Jongin sangat baik kepadaku," entah mengapa Soojung malah berkata demikian.
Ada sesuatu dalam diri Soojung, Mendorongnya untuk mencoba percaya pada Jongin. Hatinya terus memaksa. Tetapi, logikanya tidak mau menerima. Bukankah, alasan Jongin sudah jelas. Soojung hanyalah bahan taruhan bagi pemuda itu. Jadi, perasaan itu pasti semu. Semuanya tidak ada yang nyata.
Hanya saja, dia masih ingin membela Jongin.
Minho menarik napasnya dalam-dalam. "Aku tidak akan memaksa," katanya. "Tetapi, silahkan bercerita jika ingin. Anggap aku diary berjalan," lanjut pemuda itu seraya mengulas senyum.
"Terima kasih, Minho," ujar Soojung tulus. Diam-diam dia iri pada Jinri yang mempunyai kakak sebaik Minho. "Senangnya Jinri yang mempunyai kakak sepertimu," celetuknya kemudian.
Tubuh Minho membeku. Kakak? Ah, bahkan ketika Soojung tidak mempermasalahkan status mereka selalu ada batasan untuk Minho. Yah, mungkin Minho akan tetap sulit meraih Soojung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Give Me Your Love
FanficKim Jongin terlibat dalam sebuah taruhan dengan teman-temannya. Sederhana sebenarnya, cukup membuat seorang gadis jatuh hati padanya. Naasnya, Jongin harus memikat hati gadis yang jauh dari kriteria idamannya. Gadis bermata empat dan berkepang dua...
