Laura pov
Aku berdiri dibalkon kamarku, tempat tinggalku dengan Rian, meski saat ini aku sedang berada dirumah orang tua Rian tapi tetap saja aku merasa sedikit kesepian setiap kali Rian pergi bekerja, aku mengelus perutku pelan, tinggal menghitung hari saja bayi ini akan lahir, aku begitu sedih setiap kali mengingat itu, sedih karna ini bukanlah anak Rian.
Pernikahanku dengan Rian sangat bahagia, Rian menjadi sosok lelaki yg seperti dulu, lembut dan penuh perhatian, namun meski begitu aku slalu menangkap wajah murungnya setiap kali sedang duduk sendiri di taman belakang, tak bisa aku pungkiri bahwa Rian telah menaruh hati pada Zahra sejak mereka hidup bersama, meski Zahra telah pergi tetap saja rasa bersalah itu masih menyelimuti kehidupan kami.
Flashback on
"Assalamualaikum" ucapku begitu memasuki rumah orangtua Rian, saat ini kami akan tinggal disini sampai anakku lahir.
"Walaikumsalam" sambut mama Anna yg begitu senang menyambut kami, aku seperti menemukan ibuku saat berada dirumah ini, mama Anna begitu memanjakanku dan menyayangiku meski aku tau bahwa dia sangat kehilangan Zahra, bukan hanya dia tapi semua yg ada dirumah ini.
"Laura sini tasnya mama bawain aja"
"Ngga usah ma, Laura bisa kok"
"Ga apa apa, yuk mama antar ke kamar"
"Ma, kita kan udah sering kesini, masa harus disambut kayak tamu istimewa sih" ucap Rian
"Hmm, yaudah deh, mama siapin makan ya"
"Iya ma, makasih"
Aku dan Rian menuju ke kamar yg biasa kami tempati saat menginap disini, kamar yg berada dilantai bawah, karna aku sudah tidak kuat jika harus menaiki tangga.
"Sayang aku ke belakang ya bantuin mama, kamu ga apa apa kan aku tinggal dikamar, kalo ada apa apa kamu panggil aku"
"Iya ga apa apa mas, aku juga mau mandi" ucapku tersenyum.
"Hati hati ya" ucapnya mencium keningku lalu keluar dan menutup kamar.
***
Selesai mandi ku lihat Rian masih belum kembali, aku memutuskan untuk pergi ke dapur.
"Rian, kamu sudah menghubungi Zahra?" aku berhenti saat kudengar mama Anna sedang berbicara pada Rian, aku berdiri dibalik tembok dan mendengarkan perkataan mereka.
"Sepertinya dia mengganti nomornya ma"
"Apakah dia begitu marah pada kita, mama sangat rindu padanya" hatiku bergetar saat mendengarkan mereka begitu mengharapkan Zahra kembali.
"Semua salah Rian ma, kalau saja Rian jujur padanya dari awal pernikahan, semua tak akan seperti ini"
"Mama tak pernah menyalahkanmu, mama tau ini juga berat untuk kamu, tapi mama hanya ingin kamu tetap jaga Laura, mama juga yakin dia wanita yg tegar" aku tertegun mendengar ucapan mama Anna, dia begitu baik, bahkan saat aku sudah merebut Rian dari Zahra dia tetap menganggapku wanita baik baik.
"Tapi anak itu bukan anak Rian ma"
"Mama tau Rian, kalian nikah bukan hanya sekedar karna Laura hamil tapi untuk hidup selamanya"
"Rian mencintai Zahra ma, bahkan sejak pertama kali melihatnya dan setelah menikahinya rasa itu bertambah, namun cinta Rian pada Laura juga masih ada meski sudah tak sebesar cinta Rian pada Zahra" seluruh tubuhku terasa lemas, aku kembali ke kamar dengan rasa yg begitu sedih, airmataku menetes, tak bisa aku pungkiri bahwa Zahra memang wanita yg begitu sholeh, tak mungkin jika Rian tak pernah mencintainya.
Flashbac off
Air mataku slalu menetes setiap kali mengingat kejadian itu, meski setelah itu Rian dan keluarganya tetap bersikap sangat baik padaku, meski aku bahagia tapi tetap saja aku merasa asing disini.
"Sayang, kamu disini" kudengar suara seseorang tiba tiba saja masuk ke kamar, aku langsung menghapus airmataku dan berbalik ke belakang, kulihat Rian berjalan kearahku.
"Kamu ga kerja mas?"
"Aku ambil cuti 2 minggu, aku mau nemenin kamu terus sampai lahiran"
"Kamu ga perlu lakuin itu, kan ada mama dirumah"
"Ga apa apa, aku mau nemenin kamu"
"Terima kasih mas"
"Itu apa?" aku melihat Rian memegang sesuatu.
"Oh ini undangan pernikahan, tadi mama yg ngasih, mama juga diundang"
"Boleh aku lihat?"
"Boleh" aku duduk di sofa yg ada di balkon kamarku bersama Rian, aku membuka undangan dan membacanya.
"Vella dan Fahri itu siapa mas?"
"Kulihat Rian diam sejenak"
"Vella itu sahabatnya Zahra, dan Fahri itu temenku sekaligus saudaranya Zahra" aku terdiam mendengarkan ucapan Rian, aku tersenyum meski hatiku sedikit cemburu setiap kali mendengar nama Zahra, aku senang Rian jujur padaku dan tak menyembunyikannya dariku.
"Kalau kamu tak ingin ikut tak apa, aku juga tak akan pergi, aku akan titip saja pada mama"
"Ga apa apa, kita pergi aja, acaranya kan lusa, mungkin 1 minggu lagi aku akan lahiran"
Rian mengelus kepalaku begitu lembut, aku merebahkan kepalaku dibahunya.
"Apakah Zahra akan datang?" tanyaku padanya.
"Aku ga tau, tapi aku rasa iya, karna Vella sahabat terdekatnya Zahra begitupun Fahri yg begitu menyayangi Zahra seperti adik kandungnya"
"Aku ingin sekali bertemu dengannya, meski hanya mengucapkan satu kata yg dia tak ingin dengar, tapi aku benar benar ingin mengucapkan maaf padanya" air mataku menetes kembali.
"Jangan terus menyalahkan dirimu, ingatlah kamu sedang hamil, aku tak ingin terjadi apa apa dengan anak kita" aku menegakkan tubuhku, kutatap wajah Rian yg sama sedihnya sepertiku, aku langsung memeluknya, menangis dipelukannya.
"Terima kasih sudah mengatakan bahwa ini anakmu"
"Kita yg akan merawatnya bersama, dan itu berarti dia juga anakku"
"Terima kasih mas"
"Sama sama sayang" Rian mengecup keningku begitu lembut, aku tak pernah membayangkan bagaimana rasanya menjadi Zahra, bahkan aku takut membayangkannya, menyimpan begitu banyak kesakitan sendiri, menangis dalam diam tanpa adanya bahu untuknya bersandar, hanya dirinya sendiri yg mampu menahan semua kesakitan itu.
Ya Allah maafkan aku, aku masih menangis dipelukan Rian, aku memegangi hijabku yg sedikit basah karna air mataku, sejak Rian dan Zahra telah sah bercerai aku sedikit berubah menjadi lebih baik, aku mulai mengenakan hijab, memakai baju panjang untuk menutup auratku, dan slalu menjalankan perintahnya dengan benar bersama Rian yg slalu membimbingku.
Hanya satu keinginanku saat ini, bisa bertemu dengan Zahra dan mengucapkan maaf padanya, hanya itu ya Allah, meski itu permintaan terakhirku.
♥♥♥♥♥♥♥
KAMU SEDANG MEMBACA
Salah Apa ?
EspiritualCerita tentang seorang wanita bernama Sinta Az Zahra, seorang wanita dengan kekuatan hati yg luar biasa, dan yg selalu mempercayai takdir Allah.
