Part 21 - Senyum Kebahagiaan

13.1K 774 9
                                        

Zahra pov
Sudah 2 bulan aku meninggalkan kota bandung dan menetap dirumah orangtuaku, aku membuka toko kue didekat rumahku.

"Kamu disini?" aku menoleh ke belakang saat mendengarkan suara seseorang, sejak pagi tadi aku hanya duduk di balkon kamarku, aku tak tau apa yg sedang aku rasakan, tapi aku benar benar ingin sendiri saat ini.

"Kak Salwa" aku tersenyum pada kakak pertamaku, dan dia duduk disampingku.

"Daritadi pagi kamu disini terus, ga bosen? Kakak liat kamu murung hari ini? Kamu masih teringat Rian?" aku menggeleng, aku memang tidak memikirkannya lagi, tapi aku memikirkan hidupku.

"Boleh kakak tanya sesuatu?" aku mengangguk dan tetap tak ingin mengeluarkan suaraku.

"Seandainya ada seorang pria yg datang mengkhitbahmu saat ini, apakah kamu menerimanya?"

"Hmm, aku tidak tau kak, aku belum ingin memikirkan itu" kulihat kakakku tersenyum padaku.

"Kakak akan menceritakan sedikit tentang lelaki itu, bagaimana?" aku mengangguk.

"Dulunya dia seorang nonmuslim, jatuh cinta pada wanita muslim membuat hidupnya berubah, dia mulai mencari tau apa itu islam, dia juga belajar banyak hal tentang islam dan sedikit mencari tau tentang gadis yg sudah membuat hidupnya berubah, seiring berjalannya waktu dan akhirnya dia memutuskan untuk menjadi seorang mualaff, dalam waktu yg lama dia mencari gadis itu namun saat menemukannya, gadis itu sudah menikah dengan orang lain, tapi itu semua tak mengalahkan imannya, dia mulai sadar bahwa mencintai seseorang bukan sekedar ingin memiliki, merubah diri menjadi lebih baik bukan hanya karna untuk bisa diterima oleh orang yg kita suka, tetapi itu semua karena kita mencari ridha Allah, dari kejadian itu dia semakin mendekatkan dirinya kepada Allah, mulai menghapal Al-Qur'an, mengerjakan sholat sunnah dan mempelajari islam lebih dalam, beberapa bulan kemudian dia mendengar bahwa gadis itu bercerai dari suaminya, saat itu juga dia berjanji akan membahagiakan gadis itu dan akan menikahinya jika gadis itu menerimanya" aku mendengarkan cerita kakakku dengan seksama dan begitu terkesan, betapa beruntungnya gadis itu dicintai oleh pria seperti itu.

"Dan kamu tau siapa gadis beruntung yg sudah dikhitbah oleh pria itu?" aku menggeleng dan menatap lurus ke depan, tentunya bukan aku, fikirku.

"Jika pria itu mengkhitbahmu, apa kamu mau menerimanya?"

"Kenapa dia memilihku, bukankah dia sudah mempunyai gadis pilihannya"

"Gadis beruntung itu adalah kamu, adikku, Sinta Az Zahra" aku langsung menoleh kearah kakakku, benarkah, tapi bagaimana bisa.

"Maksud kak Salwa aku" kakakku mengangguk dengan senyum.

"Kamu mau menerimanya?" aku terdiam, siapkah aku, aku masih takut.

"Kamu tak perlu takut hal yg dulu akan terulang kembali, kakak yakin ini takdir Allah yg terbaik untuk kamu" ucap kakakku meyakinkanku.

"Inshaa Allah aku menerimanya kak"

"Alhamdulillah" aku memeluk kakakku.

"Lalu kapan aku bisa berta'aruf dengannya?"

"Setelah ba'da isya nanti malam dia akan menikahimu"

"Secepat itu?"

"Zah, untuk apa menunda lagi jika Allah yg sudah menentukan semua ini, bukankah kamu yg slalu bilang bahwa kamu percaya takdir Allah?" aku meneteskan airmataku dan memeluk kakakku.

"Terima kasih kak, lalu bagaimana dengan ayah?"

"Dia sudah bertemu dengan ayah sejak dulu dan dia memantapkan hatinya untuk menikahimu malam ini juga"

"Boleh aku tau namanya?"

"Kamu akan tau setelah ijab qobul nanti"

***

Daniel pov
2 bulan sudah penantianku dan mengumpulkan semua keberanianku, dan 2 bulan ini juga aku sudah beberapa kali bertemu dengan keluarga Zahra meski aku tak pernah melihatnya, aku memang sengaja meminta kepada orangtuanya untuk tidak memberitahunya tentang aku karna aku takut dia akan menganggap aku akan meninggalkannya lagi.

Aku sudah berada dirumah Zahra, hanya dengan pernikahan sederhana semuanya begitu aku syukuri karna aku mencari ridha Allah, aku sudah duduk didepan ayah Zahra dan disampingnya juga ada seorang penghulu.

Ayah Zahra mengulurkan tangannya padaku dan aku menyambutnya dengan lembut, jantungku berdetak begitu kencang, semoga semuanya berjalan dengan baik.

Zahra pov
Aku duduk ditempat tidur ditemani kak Salwa dan ibuku, jantungku begitu berdetak sangat kencang.

"SAH...." suara lantang dari semua orang yg ada diluar mengatakan itu, aku menangis memeluk ibuku dan kak Salwa yg kulihat juga meneteskan air matanya.

"Zah, kamu mau tau namanya?" ucap kak Salwa yg aku balas dengan anggukan, kulihat kak Salwa melihat kearah ibuku sebentar lalu tersenyum.

"Nama pria itu adalah Muhammad Daniel Arvando" aku terdiam mendengar kakakku mengucapkan nama itu, jantungku terasa berhenti, tubuhku membeku beberapa saat, benarkah semua ini.

"Zah, kamu baik baik saja?" aku langsung memeluk kakakku dan menangis terisak dibahunya, aku benar benar merasa bahagia, ternyata semua perkataannya yg selama ini tidak begitu aku hiraukan adalah benar, dia tak pernah meninggalkanku dan dia seorang mualaff, ya Allah terima kasih.

Kudengar pintu kamarku terbuka, kakakku yg kedua masuk dan memberitahu bahwa aku diperbolehkan keluar, aku pun keluar didampingi ibuku dan kak Salwa.

Aku melihat wajah Daniel dengan senyumnya yg begitu tulus, aku duduk disampingnya, dia memakaikan cincin padaku yg kulihat cincin itu begitu indah, aku mencium tangannya yg kurasakan begitu dingin sama sepertiku, dia membalasnya dengan mengecup keningku, aku tak sanggup membendung air mataku hingga suasana begitu haru.

***

Aku dan Daniel duduk dipinggir tempat tidurku, Daniel meletakkan tangan kanannya diatas kepalaku dan membacakan doa untukku, hatiku bergetar dan air mataku menetes, suaranya begitu lembut yg begitu menenangkan jiwaku, akupun teringat akan pernikahanku dengan Rian dahulu, Rian tak melakukan apa yg dilakukan Daniel saat itu, namun itu semua tak membuatku menyesalinya, selesai membacakan doa Daniel mencium keningku dan mengusap air mataku dengan tangannya, setelah aku sedikit tenang dia berdiri menuju kamar mandi, beberapa lama aku menunggu dia keluar membawa ember kecil ditangannya dan handuk kecil, kemudian dia meletakkan ember kecil didekat kakiku, Daniel memasukkan kakiku ke dalan ember kecil dan mencuci kakiku begitu lembut.

Airmata ku menetes dengan sendirinya, aku benar benar sangat bersyukur kepada Allah, takdir-Nya benar benar indah. Aku masih memandangi Daniel yg mengeringkan kaki ku dengan handuk kecil, setelah membersihlan kedua kaki ku, dia mendongak menatapku dan tersenyum lalu memegang kedua tanganku dan menciumnya.

"Terima kasih" ucapku disela sela tangisku, kulihat dia menggeser ember kecil tadi dan kemudian berdiri lalu duduk disampingku.

"Berterima kasih pada Allah, dan berjanjilah untuk tidak menangis, inshaa Allah aku akan slalu membuat senyum kebahagiaan diwajahmu" aku tersenyum menatapnya.

"Maafkan aku, maaf jika selama ini aku mengabaikanmu, bahkan aku pernah membentakmu ketika terakhir kalinya kita bertemu" Daniel memegang pipiku lembut.

"Aku sudah memaafkanmu, bahkan aku slalu bersyukur kau slalu melakukan itu jika aku ingin mendekatimu, karna aku semakin mendekatkan diriku pada Allah, berharap Allah membuka lagi pintu hatimu untukku, maafkan aku yg dulu meninggalkanmu begitu saja, aku tak pernah meninggalkanmu, aku melakukan itu karna aku hanya ingin menjagamu agar kau slalu menjaga dirimu dari lelaki lain meski sudah tak bersamaku dan aku melihat semua perubahanmu itu, itu adalah hal yg membahagiakan untukku" aku tertegun mendengarkan semua kejujurannya dimasa laluku dengannya, begitu tulus niatnya.

"Terima kasih mas Daniel"

"Terima kasih untuk panggilan baruku"

Kami hanyut dengan perasaan yg begitu membahagiakan yg aku baru sadari saat ini bahwa Allah benar akan segala Rencananya.

♥♥♥♥♥♥♥

Salah Apa ?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang