Zahra pov
Kami berjalan menuju kearah pintu keluar dari bandara, saat ini kami sudah sampai di bandung, bersama Nailah, Habibi dan Habibah.
"Zahraaaaa" aku menoleh kesamping saat kudengar seseorang memanggilku.
"Vellaaa" aku memeluk Vella dengan erat, sudah 5 tahun kami tak bertemu, aku sangat merindukan sahabatku ini.
"Zah, aku kangen banget sama kamu, kamu ga pernah berubah, eh, ponakan aku dimana?" aku menoleh ke belakang dan melihat anak anakku berada didekat Daniel.
"Sayang, kenalin ini tante Vella, ayo salam" ucapku pada anak anakku.
"Hai tante Vella" ucap Habibah.
"Hai sayang, pasti Habibah ya?" tanya Vella.
"Iya tante"
"Kamu cantik banget, dan ini Habibi?"
"Iya tante" kulihat anak anakku mencium tangan Vella.
"Dan ini Nailah, kamu cantik sama seperti ibumu" aku tertegun melihat Vella, Nailah memang mirip dengan Laura.
"Terima kasih tante" ucap Nailah.
"Oh iya kenalin ini oom Fahri dan ini Daffa anak tante, dan Daffa sini sayang, kenalin ini kakak kakak kamu" kulihat anak anak ku dan Vella saling berkenalan dan tampaknya mereka cepat akrab.
***
Kami memasuki rumahku yg dulu, masih berada disamping rumah Vella, dan aku tak pernah menjualnya sampai sekarang, orangtua almarhum Rian pun sudah datang dan juga Annisa dengan kak Andri, kulihat anak mereka masih berumur 1 tahun.
"Zah" aku melihat kebelakang, mama Anna menghampiriku didapur.
"Iya ma"
"Bagaimana keadaan kamu selama disana? Dan juga anak anak kamu?"
"Alhamdulillah kami semua baik ma, mama gimana?"
"Mama dan keluarga juga baik, rumah juga terasa sepi, kamu tau kan adik adik almarhum perempuan semua, mereka sudah ikut suami mereka"
"Ma, itu sudah kewajiban seorang wanita, mereka juga tak selamanya berada disana, suatu saat mereka juga akan mengunjungi mama"
"Kamu benar Zah, lalu bagaimana pertumbuhan Nailah?"
"Alhamdulillah, dia anak yg sangat pintar, rencananya selama kami disini, kami juga akan membawa Nailah ke makam Laura"
"Mama setuju, meski dia sudah tak bisa melihat ibunya, setidaknya dia akan mengenalinya dari sekarang, agar tak akan jadi masalah ketika dia dewasa nanti"
"Iya ma, itu juga yg Zahra khawatirin, meski sekarang Zahra liat Nailah adalah anak yg begitu dewasa"
"Tidak apa Zah, teruslah berikhtiar dan minta petunjuk Allah"
"Baik ma, inshaa Allah" aku mengangguk dan tersenyum pada mama Anna.
Aku dan mama Anna berjalan ke ruanh keluarga dirumahku, membawa minuman dan makanan kecil yg aku bawa dari Medan, aku melihat begitu banyak senyum kebahagiaan disini, begitu banyak tawa anak anak kecil, sungguh inilah kebahagiaan yg selama ini aku impikan.
Aku melihat kearah suamiku yg juga menatapku dengan senyumannya yg sejak dulu tak pernah berubah, sungguh aku sangat mencintainya, dan semua itu karna Allah ta' ala.
Meski dulu aku sempat membencinya karna dia meninggalkanku tanpa sebab, dan yg membuat hatiku menjadi dingin seperti es hingga membeku, sedikitpun tak pernah membuka hatiku untuk lelaki manapun padahal begitu banyak yg menginginkanku yg kulihat melebihinya.
Namun hati ini tetaplah diam, hingga Rian datang dan pelan pelan mencairkan hatiku, meski kami tak pernah menyatakan bahwa kami pacaran dan kami pun menjaga jarak pandangan sebagaimana syariat islam hingga pernikahan itu yg membuatku mengerti apa artinya hidup yg sebenarnya.
Kesakitan memberiku kekuatan,
Kesakitan menjadikanku mengerti bagaimana seharusnya bersabar,
Kesakitan mengantarkanku pada cinta yg sebenarnya,
Dan kesakitan menjadikanku lebih mengenal Allah.
Sejak dulu, Daniel yg namanya selalu aku sebut dalam setiap sujudku, dalam setiap doaku, bahkan saat sehari sebelum aku menikah, aku masih menyebut namanya. Aku berhenti menyebut namanya sejak Rian mengucapkan ijab qobul, sejak itu aku berhenti menyebut namanya meski aku membencinya.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai menyebut namanya lagi dalam setiap doa dan sujudku, entah karena apa, tapi setiap aku bersujud hatiku selalu menyebut namanya, fikiranku slalu teringat wajahnya, namun semua itu hanya aku serahkan pada Allah, hingga Allah menjawab semua penantianku, diam diam dia mengkhitbahku pada orangtuaku, bahkan sejak aku beluk menikah dengan Rian, namun orangtuaku tak pernah mengatakannya padaku karna aku sudah mengenalkan Rian pada mereka.
Aku begitu bahagia saat ini, bisa mengenalnya, bisa mencintainya, bahkan bisa bersamanya saat ini adalah sebuah mimpi terindahku, terima kasih ya Allah, ternyata engkau benar akan semua janji-Mu, serahkan segala sesuatu yg ada didunia hanya kepada-Mu, maka Engkau yg akan mengaturnya, subhanallah.
"Masih belum selesai mengagumi ketampananku hmm?" aku terkejut mendengar suara Daniel yg tiba tiba saja aku dengar begitu dekat, dan ternyata dia sudah berada disampingku, akupun tersenyum malu padanya.
"Terima kasih untuk semuanya, aku mencintaimu" ucapku lembut.
"Aku juga berterima kasih, aku juga mencintaimu istriku Sinta Az Zahra" aku melihat senyumnya begitu tulus, dia slalu memberiku banyak hal, termasuk arti mencintai yg sesungguhnya.
Mencintai yg sesungguhnya bukanlah saat seseorang mengungkapkan cintanya dan menjadikanmu pacarnya, tapi mencintai yg sesungguhnya itu adalah menyebut namanya dalam setiap sujud, tak pernah lupa menyebut namanya diakhir doa, dan biarkan Allah yg menentukan semuanya, Subhanallah.
Inilah kebahagiaanku.
End.
♥♥♥♥♥♥♥
Assalamualaikum...
Alhamdulillah akhirnya novel "Salah apa?" udah selesai, terima kasih buat yg udah vote, ditunggu kritik dan sarannya.
Akan ada ekstra part di halaman berikutnya dan juga akan ada novel baru, lanjutan kisah anak anak dari Az Zahra, yg judulnya "Inshaa Allah".
Sekali lagi, terima kasih untuk yg udah baca dan salam kenal semuanya.
#Dilla Az Zahra
😊😆
KAMU SEDANG MEMBACA
Salah Apa ?
SpiritualCerita tentang seorang wanita bernama Sinta Az Zahra, seorang wanita dengan kekuatan hati yg luar biasa, dan yg selalu mempercayai takdir Allah.
