Cerita ini aku bagi 2 karena kepanjangan.
Check it out!
===========================
Masa lalumu bagai kotak musik yang tertutup rapat, tak bisa kudengar apalagi kurasakan. Tapi entah bagaimana caranya aku meyakini, mungkin saja ada musik yang menyayat hingga membekaskan luka apabila kotak itu terbuka.
=========================
"Readinata?"
Suara Atania menghentikan langkah Rea yang hendak masuk ke dalam kelas. Dilihatnya Atania yang sudah melambaikan tangan dari depan kelas Orion dan Zorama berada.
Dia berlari kecil, lantas menyerahkan selembar kertas brosur berwarna biru dengan coretan hijau tua di dalamnya.
Rea mengerutkan dahi melihat kertas yang Atania berikan. Perlahan, ia meraih kertas itu lantas membacanya perlahan.
Pentas Seni ke-16 Prima Nusantara
Sebelum Rea sempat mengajukan pertanyaan, Atania sudah berkata, "Lo mau nggak, jadi guest star di acara pensi?"
Hanya raut wajah monoton yang Rea berikan. Entah apa yang harus ia jawab kali ini, karena ... ada banyak sekali jadwal di dalam list kegiatannya bulan ini. Tapi bagaimana caranya untuk menolak?
Rea tampak menimbang, ia melipat kertas undangan pensi itu dan menggulungnya hingga menjadi gulungan kecil. "Gue nggak bisa ambil keputusan sendiri. Kalo mau, lo tanya deh ke manager gue, nanti gue kasih nomornya dia."
Atania menggembungkan sebelah pipinya, sambil menatap langit-langit--seolah berpikir.
Bagaimana kalau kemungkinan tawarannya ini ditolak? Memang bukan hanya cewek di hadapannya ini saja yang menjadi bintang tamu sekolahnya, tapi atas perintah yang Orion berikan--selaku ketua OSIS, dan banyaknya permintaan dari semua angkatan untuk menghadirkan Rea di acara tersebut.
Atania melirik sekilas pada Orion dan Zorama yang ternyata sejak tadi memerhatikan Atania dan Rea dari depan pintu kelas. Mereka saling bertukar tatap. Seolah, Zorama dan Orion ikut kebingungan dengan jawaban apa yang akan Rea berikan.
Atania menoleh lagi pada cewek di sampingnya yang sedang memainkan ponselnya. "Re?"
Rea menoleh, wajahnya masih saja monoton. Terlihat cetakan hitam pada bawah matanya. Atania dapat menebak kalau temannya ini sangat kelelahan karena beberapa hari ini tampil di berbagai acara televisi.
"Wait, gue lagi tanya ke kak Jasmin soal acara yang lo tawarin."
Atania mengangguk singkat. Lantas ia membuka mulutnya. "Kalo emang harus izin, nanti gue sama Orion yang telepon manager lo."
Rea menghentikan ketikannya pada layar ponselnya. "Gue udah bilang sih, kalo kalian minta gue buat isi acara sama kak Jasmin, cuma sebagai formalitas ... dia minta kalian tetep ngehubungin dia. Katanya sih, dia lagi cari celah buat nyelipin jadwal gue, kalo nanti jadi."
Atania membulatkan matanya, tak bisa menutupi rasa senangnya. "Lo serius?"
Rea mengangguk mantap. "Moga aja bisa diselipin antara kegiatan gue, ya. Soalnya bulan ini lagi padat banget."
Atania mengangguk mantap. "Amin, semoga ada kesempatan untuk sekolah kita nikmatin suara lo, Re!"
Rea terkekeh, sambil melirik pada Zorama dan Orion yang ternyata masih berada di depan kelas memerhatikannya. Ia tersenyum, lantas membuat Orion menundukkan kepalanya cepat karena tertangkap basah kalau dirinya sedang memerhatikan percakapan keduanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Satintail
FantastiqueBisakah aku memohon padamu untuk tidak bertindak selayaknya angin? Jangan seperti angin yang mudah datang dan mudah pergi Karena aku takut seperti ilalang yang hanya bisa melambai saat angin memilih pergi Ilalang yang pasrah menatap kepergian angin...