Lelaki Berpayung Hitam

3.9K 152 0
                                        

Hari ini adalah dua hari sebelum resepsi pernikahanku, dan rencananya fitting dress bakal diadain dua jam lagi, sengaja aku minta dadakan begini, supaya WO-ku kalang kabut, dan siapa tau bisa mengundurkan tanggal pernikahan.

Sampai saat ini aku masih belum tau rupa calon suamiku, sejak insiden lamaran Whatsapp itu, aku mematikan ponselku, dan mengurung diri di kamar, sudah seperti memiting diri sendiri. Aku juga telah meminta WO-ku agar aku tidak fitting bareng Muhammad Rodhianto Al Bazili. Jadi tingkat senewenku akan kutekan sampai nanti hari pernikahan.

Aku memang belum sepenuhnya merelakan pernikahan ini, tapi apa yang dikatakan mami bisa jadi benar, dan aku sepertinya mempercayainya, bahwa semua yang dilakukan dengan benar akan menghasilkan keadaan yang baik-baik saja. Semoga.

Masih kugenggam ponselku yang mati, bingung harus bagaimana karena sebenarnya aku hendak memberikan syarat pernikahan kepada Muhammad Rodhianto Al Bazili, tapi gengsi mau menghubunginya duluan. Tapi daripada pernikahan ini kesannya gampang, aku harus meberinya syarat.

Setelah menghidupkan ponsel, aku segera menekan kontak Muhammad Rodhianto Al Bazili dan menelponnya, untung saja ponselnya aktif.

"Assalamualaikum?" di ujung sana, suaranya yang berat menggetarkan hatiku.

"A ... An ... to ..."

"Ya, Nabila? Whats up?"

"Ayo fitting berdua!"

***

"Kamu yakin sayang fitting sendirian? Mami bilang mbak Wanda ya biar nemenin kamu?" mami merapikan poniku.

Saat ini aku sedang menunggu taksi yang kupesan, duduk di teras rumah, sambil mendengarkan mami yang khawatir aku pergi sendirian, mungkin dia takut calon pengantin bakal kabur.

"Atau minta temenin calonmu?" dia menatapku khawatir.

"Aku udah bilang sama mbak Wanda kalau jadwal fittingnya harus beda. Mami, aku ngga punya niat bakal kabur, mi. Serius."

"Ya udah, minta antar pak Fahri aja, ya?" dia memainkan blusnya. Ya Tuhan, bagaimana caranya biar mami ngerti kalau aku ngga bakal kabur?

Aku menggeleng lalu menggenggam tangannya, kebetulan taksi sudah berhenti di depan rumahku, "Doain semoga badanku pas sama gaunnya."

Setelah berpamitan dan mencium pipinya, aku langsung masuk ke mobil dan memberi tau tujuanku. Jadi ngga sabar liat reaksi Muhammad Rodhianto Al Bazili saat kubilang kalau syaratnya dia harus pakai sepatu roda. Sebenarnya, awalnya bukan itu syaratku, tadinya aku mau dia pakai jas warna merah saat resepsi nanti, tapi berhubung tamu undangan merupakan jajaran-jajaran penting dan relasi ayah, aku mengurungkannya, bisa bangkrut perusahaan si Muhammad Rodhianto Al Bazili, kasian nanti dia ngga bisa nafkahin aku.

Kali ini memang aku ngga bisa nangis kalau menyangkut hal-hal pernikahan nanti, 30% dari diriku pasrah, 40% masih ngga rela, sisanya masa bodoh. Setelah mami bilang begitu, aku malah kepikiran terus sama papi. Papi meninggal bahkan sebelum aku lahir, terkena serangan jantung katanya. Memikirkan bahwa dia menyusun rencana masa depanku bahkan sebelum melihatku membuatku terenyuh. Setelah papi meninggal, mami menikah dengan ayah, pilihan kakek, karena kakek merasa bertanggung jawab atas mami meski anaknya telah meninggal. Maka dari itu, apapun yang menyangkut tentang diriku, pasti kakek bakal ikut campur.

Sedikit cerita tentang kakek (ayah papiku), kakekku ini punya istri dua, istri pertama grandma asal Belanda dan nenek muda mojang Bandung. Kakekku hanya punya dua anak, yang pertama almarhum pak de Darwin (anak dari grandma), pak de tak berumur panjang, dia meninggal di usia empat tahun. Grandma begitu terpuruk akan itu, dia trauma dan mengalami stress, dan entah kenapa beberapa bulan berikutnya, beliau terkena menopause dini, yang berarti tak akan memproduksi organisme lagi. Kakek yang pengen banget punya anak akhirnya menikahi nenek muda atas izin grandma, dan lahirlah papiku, yang katanya ganteng dan mirip banget sama Soekarno itu. Sayang, papiku ngga berumur panjang, tapi kakek bilang, walaupun papi meninggal sebelum bisa menggendongku, kakek bersyukur karena darah kakek ada pada diriku, keturunannya, satu-satunya.

Gak Mau NikahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang