Percobaan bunuh diriku menggunakan sepatu roda merah jambu gagal, ternyata ukuran sepatunya salah. Benar-benar salah. Ini sih ukuran si Rania, adikku yang ke lima. Jadi setelah mendesah berkali-kali dan merutuki kebodohan sang pemberi hadiah, aku meletakkan sepasang sepatu itu di atas meja belajar Rania, persis di atas biar kelihatan. Sebelum aku meninggalkan sepatu imut itu, aku mengecek gambar sayap di atas tumit sepatunya, aku memegangnya dan mengotak-atik, ternyata sayapnya bisa dibuka, damn, sepatunya jadi dua kali lipat lebih imut dan keren, di tambah lampu-lampu yang menyala.
Aku pengen banget.
Namun, akhirnya aku sadar bahwa ukurannya ngga pas, mungkin aku bisa meminta kakek atau ayah untuk membelikanku sepatu roda yang lebih canggih, yang bisa jalan sendiri.
Saat aku hendak berbalik, tanganku menyentuh sepatu roda itu dan membuatnya jatuh ke lantai. Miris banget dari tadi nasibnya jelek melulu. Aku berjongkok dan mendapat secarik kertas ... oh bukan, ini namanya bolus—gumpalan—kertas. Karena aku termasuk orang yang penasaran, kubuka kertas itu. Guys ...
Sepatu ini buat Rania, tolong sampaikan sama dia, ya. Thx
Orang ini ...
Saat hendak kubuang karena bikin kesal, ternyata kertasnya ada dua, jadi kuambil yang belum kubaca dan kulempar asal yang pertama. Isinya, masih dengan tulisan jeleknya,
Ukuran sepatumu berapa? Besok saya pergi ke London. Fast respond, pls, lagi diskon, nih. WA 081765499888.
Hm, tawarannya lumayan juga. Dari pada aku memaksa kakek mengeluarkan euronya, dan belum tentu dia bakal ikhlas, lagi pula aku masih selek sama dia. Sepertinya ini waktu yang bagus untuk mengimplementasikan prinsip ekonomi. Oke.
Aku buru-buru pergi ke kamar sambil mengantongi kertas berisi RSVP sepatu roda merah jambu. Tergesa-gesa aku mengambil ponselku dan menambahkan nomor Muhammad Rodhianto Al Bazili ke kontak Whatsapp, lalu mengetik ukuran sepatuku. Tapi, tunggu. Kenapa aku malah koperatif begini sama dia?
Slow down, Nabila. Aku ngga bisa tergesa-gesa seperti ini hanya karena sepatu roda, aku ngga bisa minta hadiah sama dia, karena aku NGGA setuju dengan pertunangan ini. Jadi harusnya big no for that wakwaw thing. Nanti kesannya aku malah pro banget sama pertunangan ini. Big no.
Kemudian aku menghapus kontak Muhammad Rodhianto Al Bazili dan duduk di tepi ranjang. Ah, tapi lumayan juga sepatu roda dari UK, ngga perlu ngeluarin uang, ongkos, tenaga dan pikiran, aku bisa dapetin barang itu. Meskipun sebenarnya ayahku kelewat mampu memberikan berlusin-lusing sepatu roda seperti itu. Tapi, prinsip ekonomi itu menekan biaya sekecil-kecilnya dan mendapatkan untung yang maksimum.
Dan guru konselingku pernah bilang kalau ilmu itu diterapkan. Mungkin aja Tuhan ngasih moment ini supaya aku bisa menerapkan apa yang telah kupelajari selama ini.
Lagi pula, ngga ada salahnya, kan minta hadiah kelulusan?
Oke, lebih baik aku membalas saja tawaran dia.
Ukuran 39 U—
"KAKAAAAAAAAAAAAK!!"
Aku kaget setengah mati ketika pintu kamarku tiba-tiba terbuka dan Rania bersama Bintang menyerbuku, aku ambruk, ponselku terpelanting entah ke mana. Aku bisa merasakan jidatku terkena benda tumpul, rasanya seperti ada roda yang menggesek kulit wajahku.
"INI KAKAK YANG KASIH, KAN?!" Rania menyodorkan sesuatu—aku ngga tau, penglihatanku jadi buram.
"KOK BINTANG NGGA DIKASIH, KAK?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Gak Mau Nikah
Romanzi rosa / ChickLitNabila Aku 17 tahun, baru saja hengkang dari SMA. Tau-tau, Aku dijodohkan dengan om-om berusia 27 tahun, dan dilamar lewat free call Whatsapp (Kurang romantis apa coba?), sialnya dia tak menerima jawaban selain 'Ya', padahal beribu kali kujawab 'AB...
