Gue sudah resmi menjadi suami nyonya Nabila Xavier Maharani, dan berhasil melakukan first kiss di malam pertama setelah pernikahan. Gue masih inget gelagat Nabila yang polos kebangetan itu, masa baru setelah 15 detik bibir gue nemplok di bibirnya dia baru sadar dan langsung nyambit gue?
Lucunya lagi, dia selalu melakukan kekerasan kalau sedang sebal, seperti melempar kotak tisu, dan melempar bogemnya yang sama sekali ngga ngefek. Gue selalu suka kalau ngeliat dia udah mendidih gitu, mukanya kayak bocah.
Sekarang gue lagi nungguin Nabila kemas barang-barangnya sembari mengobrol dengan mami yang memberikan segudang ceramah dan wejangan.
"Mami selalu yakin dengan perasaan mami, To. Walaupun mami ngga kenal kamu, Nabila ngga kenal kamu. Mami yakin kamu orang baik, mami minta tolong banget, meskipun Nabila keras kepala, ngga open dengan kamu, tolong bimbing dia, jagain dia. Mami mohon supaya kamu sabar buat hadapin dia,"
Gue mengangguk patuh, "Siap mi!" gue rasa ini memang saatnya buat gue ambil tanggung jawab besar atas seorang perempuan, dan insyaa Allah gue siap menghadapi semua seperti pejantan tangguh. Lalu gue teringat dengan iklan produk pembersih muka, face it like a man. Oke To, face it like a man. Toh jagain Nabila ngga akan susah-susah banget.
"Gimana semalam, To?" mami meninggikan suaranya.
"Oh, semalam Nabila semangat banget mi," gue tersenyum sambil mengacungkan ke dua jempol ke arah mami lalu menengok sekilas ke kamar Nabila.
"Namanya juga baru pertama kali, To." Mami nyengir lalu menaiki tangga menuju kamar Nabila, gue bisa mendengar dengusan dan decakkan Nabila dari bawah. Cewek itu memang hobi mencak-mencak.
***
Lagu Korea yang pernah gue dengerin di mobil seseorang tiba-tiba terputar otomatis di kepala, gue ngga tau judul lagu itu apa, yang jelas, penyanyinya ngga jelas ngomong apa, yang gue inget lagunya ada kata remember. Persetan. Tapi hal yang memicu terputar otomatisnya lagu itu bikin gue merinding, masalahnya, setelah diingat-ingat itu adalah lagu favorite Taya, temannya Kezia.
Sebenarnya persetan dengan Taya dan lagu favoritnya, yang penting endorphin gue saat ini naik dan sepertinya bakalan terus naik kalau ada cewek yang nempatin kursi penumpang di depan.
Saat ini gue dalam perjalanan menuju rumah, yang bakal ditempatin gue dan Nabila (sejujurnya 60% perasaan gue seneng) itu berarti rumah gue bakal terasa hidup daripada sebelumnya, namun tiba-tiba teringat mami yang pernah minta kasih Nabila ruang. Gue tau maksudnya tapi gue bingung harus gimana.
Tiba-tiba saku gue bergetar, ada satu pesan masuk, dari ... Taya
"Aku ... benci sama kamu,"
Bukan, Taya ngga bilang benci sama gue, di pesan itu, Taya mengungkap perasaannya mengetahui kalau gue bukan bujangan lagi. Dan saat gue baca pesan itu, agak nyesek, kayak ditusuk pedang mainan plastik punya Bintang.
Eh, tadi Nabila bilang apa? Benci?
Woah ... rasanya seperti ditikam dua pedang. Sekaligus.
"Hm, selamat."
Gue mencengkram kemudi mobil. Oke ngga seharusnya gue terbawa suasana gini, ini wajar kalau Nabila benci gue, toh memang seharusnya dia sebal, tapi ... sebagian dari diri gue ngga terima, oh, gue ngga terima. Serius.
"Kamu adalah orang pertama yang benci sama ... saya."
Gue memejamkan mata sebentar, lalu memilih melanjutkan pembacaan pesan Taya, dan berusaha mengabaikan ungkapan benci Nabila.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gak Mau Nikah
Literatura FemininaNabila Aku 17 tahun, baru saja hengkang dari SMA. Tau-tau, Aku dijodohkan dengan om-om berusia 27 tahun, dan dilamar lewat free call Whatsapp (Kurang romantis apa coba?), sialnya dia tak menerima jawaban selain 'Ya', padahal beribu kali kujawab 'AB...
