"Apa kabar, To?"
Pelayan cafe menyajikan kopi gue dan Taya, lalu mengucapkan selamat menikmati sebelum pamit undur diri. Gue menelan ludah, luar biasa kaget. Di depan gue, Taya tersenyum sambil membenarkan hijabnya.
Astaga, padahal enam bulan yang lalu dia ngga pernah absen ke gereja.
"Shock, ya? Aku ... baru mulai beberapa hari belakangan ini,"
Nenek-nenek juga kejengkang kali liat dia.
"Eh, selamat ya, atas pernikahanmu." Taya kembali menyunggingkan senyuman selebar Anyer-Panarukannya, dan seperti sebelum-sebelumnya, gue selalu ngerasa lagi di kebon raya Bogor kalau liat bibirnya yang manis. Ehm.
Ada getir yang gue tangkap dari senyuman itu, 20% kepalsuan dan sisanya penyesalan. Gue terdiam, menoleh ke kiri dan memilih menonton mobil berlalu-lalang di jalan, "Gimana kerjaan di Turki?"
Taya, enam bulan lalu memutuskan pergi ke Turki untuk membuka cabang baru perusahaannya, dia kepala cabang di sana, kabar terakhir yang gue dapat sih, gitu. Cewek ini junior gue di SMA, dia dua tingkat di bawah gue.
"Kamu belum jawab pertanyaanku, lho."
Dia memamerkan giginya, lalu menyeruput kopi, "By the way, siapa cewek beruntung itu To? Yang jadi istrimu?"
Here she goes, gue udah prediksi dia pasti nanyain Nabila. Hey, cewek mana sih yang ngga kepo dengan istri baru mantan gebetannya? Tapi gue memilih berdeham sebentar, gue menyanggupi ketemuan dengan Taya bukan untuk bahas Nabila. Bukan untuk minta penjelasan semua ini ke Taya. Gue ke sini buat say good bye ke dia. Entah gue bisa atau ngga.
"Taya ..."
Belum sempat gue melanjutkan, ponsel gue yang tergeletak di atas meja berkedip-kedip dan kejang-kejang, di layar nama mama pakai caps lock muncul. Baru aja gue geser tombol hijau, teriakan kayak maklampir menusuk telinga gue. Hanya satu kata, dan itu berefek buruk bagi siapapun yang mendengarnya.
"PULANG!"
***
"Gimana, sayang? Rumahnya terlalu kecil, ya?" mama menyentuh tanganku yang gemetaran di atas paha.
"Mama bilangin Anto buat pindah ke rumah yang di Menteng aja, ya?" dia meremas tanganku, aku berdoa dalam hati semoga keringat dingin yang membasahi jari-jariku tak membuatnya penasaran.
Aku menggeleng, masih sambil menahan keinginan untuk kabur, "Ngga, ma. Ini bahkan terlalu luas untuk ukuran dua orang ..."
"Mmm, sebenarnya mama udah bilang Anto supaya bangun rumah untuk kamu, tapi dia bebelnya minta ampun. Oh ya, suamimu kok belum datang-datang, ya? Masa sehari nikah udah main kerja aja!"
Jadi setelah menelpon (pada saat kututup, aku benar-benar membantingnya, ke lantai, dan sekarang tiada bentuknya) dia langsung tiba di depan rumah, dan menyerubuk masuk lalu memelukku. Papa juga datang tapi dia memilih duduk di taman belakang sambil membaca. Saat ini aku sedang duduk gemetaran di depan mama.
Mama datang ke sini dengan alasan mau memberi Anto pelajaran karena dia seenaknya ninggalin istrinya di hari pertama pernikahan, dan mama menentang keras itu. Dia ngga terima kalau aku ditinggal gitu aja, padahal aku yang ditingal aja kegirangan minta ampun.
"Udah sarapan belum, Nab? Tadi mbok Rinah bikin toast yang enak, jadi mama bawa ke sini. Ini kesukaan Papa, Anto sama Adyo, loh!"
Dengan tangan yang bergetar, aku mengambil toast dari Tupperware yang mama sodorkan, "Aku jajal ya ma," sambil nyengir tak tertahankan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gak Mau Nikah
ChickLitNabila Aku 17 tahun, baru saja hengkang dari SMA. Tau-tau, Aku dijodohkan dengan om-om berusia 27 tahun, dan dilamar lewat free call Whatsapp (Kurang romantis apa coba?), sialnya dia tak menerima jawaban selain 'Ya', padahal beribu kali kujawab 'AB...
