Muhammad Rodhianto Al Bazili
Dua hari lagi gue bukan jomblo ganteng lagi, tapi berstatus kawin tapi tetep ganteng. Gue bener-bener jadi kawin sama itu bocah freak, orang tua gue bahagia banget sewaktu gue kabarin kalau gue udah lamar Nabila, tapi begitu gue kasih tau kronologis lamaran lewat free call Whatsapp, gue langsung disabet pake raket nyamuk sama mama.
"LELAKI LAKNAT NGGAK ROMANTIS," mama gue bilang gitu. Untung gue ngga dikutuk jadi batu.
Gue merasa aneh dengan pernikahan ini, meskipun bukan atas dasar cinta, gue merasa fine-fine aja, kayak lagi menyikapi ayam yang bertelur. Ya biasa aja. Seolah-olah, everythings will be all right selama gue ngga memulai suatu permasalahan, toh Nabila juga paket komplit, ngga malu-maluin kalau diajak kondangan.
Semua persiapan resepsi dihandle jompo-jompo, paling semangat mama dan neneknya Nabila yang masih muda, awalnya mereka mengusulkan konsep pesta gothic yang langsung gue tolak sebelum mereka menjelaskan semuanya, grandma, nenek tiri Nabila bahkan usul bikini party. Aduh udah berumur masih ngulah, ya.
Gue langsung bilang kalau gue pengennya yang super duper sederhana, nggak ngundang banyak pers, nggak ngundang banyak tamu, cuma temen-temen kantor, relasi papa, relasi ayah Nabila dan saudara-saudara yang waras, sisanya, selama ngga berhubungan dengan bikini, gue setuju.
Sebentar lagi gue ada jadwal fitting, ditemani Wanda, sang wedding organizer. Tentu Nabila ngga mau fitting bareng gue, gue maklum karena biasanya cewek ngga ada yang kuat deket-deket sama gue, takut zina pikiran sepertinya. Jadi setengah kecewa gue membuka baju dan menyalakan shower.
Nggak lama setelah gue handukan, ponsel gue berdering, di layar terpampang foto profil Whatsapp Nabila yang omong-omong kayak anggota girl band Korea, gue menggeser tanda telpon warna hijau.
"Assalamualaikum?"
"A ... An ... to ..." suara Nabila bergetar dan terbata-bata.
"Ya, Nabila? Whats up?"
"Ayo fitting berdua!"
Gue menjauhkan ponsel dari telinga lalu menatap handuk yang masih melindungi setengah tubuh gue, serius dia?
Gue berdeham, mengatur suara supaya ngga terdengar surprised, padahal hampir kejengkang ngedengernya, "Hm, ayo. Jam berapa?"
"Ok, I'll be on time."
Gue langsung mencari kemeja paling indah untuk dipakai setelah Nabila menyebutkan waktunya, tiga jam lagi, katanya. Tapi hype gue udah dimulai dari sekarang. Jadi setelah menyempurnakan penampilan, gue menghubungi Wanda dan bilang gue ngga butuh dia buat nemenin fitting, dan sialnya gue langsung dapat dampratan dari Wanda. Ngga apa-apa, Wanda doang.
Sekarang, gue sedang menghidupkan motor trail kesayangan dan segera memakai helm. Sambil tersenyum dan cekikian gue memasang jaket. Namun setelah sadar ada yang ngga beres gue langsung mematikan mesin motor dan menelan ludah.
Gue tadi sampoan pake wipol ya? Kok semangat banget?
Gue geleng-geleng kepala dan melepas helm untuk mengacak-acak rambut, hello Anto, does she drive you crazy, huh? Gue menampar pipi gue. Gue ngga se-pro ini dengan pernikahan ini, bagi gue pernikahan ini buat bahagiain mama papa sekaligus Ombam. Ngga ada motif lain.
Tapi kenapa gue seantusias ini? Gue jadi yakin kalau tadi gue sampoan pake wipol.
Ah, bodo amat. Gue ngga mau mikirin wipol sekarang, yang terpenting gue udah bilang kalau gue bakal datang on time, dan ngga sepantasnya seorang wanita buat nunggu. Key, just go, To, go.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gak Mau Nikah
Chick-LitNabila Aku 17 tahun, baru saja hengkang dari SMA. Tau-tau, Aku dijodohkan dengan om-om berusia 27 tahun, dan dilamar lewat free call Whatsapp (Kurang romantis apa coba?), sialnya dia tak menerima jawaban selain 'Ya', padahal beribu kali kujawab 'AB...
