Muhammad Rodhianto Al Bazili

5.3K 184 2
                                        

Satu minggu lagi aku tunangan, dengan orang yang bernama Muhammad Rodhianto Al Bazili, meskipun namanya keren, aku sama sekali ngga tertarik liat mukanya, yang terpampang di frame yang grandma kasih.

Jadi dua hari yang lalu aku dan sekeluarga besarku mengadakan pesta merayakan lulusnya diriku dengan nilai ujian nasional yang totally perfect, semua mata pelajaran 100, ngga main-main dahsyatnya scanner pemerintah, memangnya serius itu jawaban hitung-asal dapat skor 100. Ah masa bodoh, nggak mau mikirin.

Grandma yang kreatif itu memberiku hadiah potret Muhammad Rodhianto Al Bazili saat masih SMA, aku lupa apa dia punya mata dua atau berapa pun itu, sungguh persetan dengan itu. Nenek muda memberiku, apa ya, aku lupa, tapi seingatku lebih berfaedah dari pemberian grandma. Kakek memberiku jaminan biaya kuliat di MIT dan kartu kredit unlimited untuk life cost di sana. Aku sungguhan menolaknya, benar-benar tak punya motivasi lanjut ke MIT, jadi kakek memesan seember eskrim yang 10 tahun lalu pernah diberikannya saat itu juga, untung saat itu rumahku penuh dengan bocah-bocah, jadi aku bisa membiarkan mereka mandi eskrim, karena sekali lagi, bahkan seember eskrim vanilla tak membuatku termotivasi untuk hidup. Mami memberiku macbook baru, kali ini aku bersyukur, karena cukup berfaedah, meskipun aku masih punya dua macbook keluaran lama di kamarku. Rencananya akan kuberikan kepada adik-adikku.

Ngomong-ngomong soal adik, aku punya dua adik lelaki dan empat adik permpuan, ke enamnya bukan adik kandungku. Adik pertamaku sampai adik terakhirku memberiku tumbler pororo, es kacang hijau, mantau kukus Imperial Kitchen, kalender Upin dan Ipin (ini bekas, tahun 2012), kaos kaki selutut warna hijau neon (terima kasih, bermanfaat banget) dan buku biologi kelas 11.

Pdahal yang kuingin cuma racun tikus dan relawan yang mau membunuhku. Itu aja.

Aku menghela napas panjang dan menatap buku panduan orang hamil di depanku. Aku benar-benar menyedihkan, hakku dirampas dan aku tidak bisa membela nyawaku sendiri. Oh papi mengapa kau merencanakan pertunangan ini.

Saat aku hendak mengembalikan buku hamil itu ke rak, aku menatap boks biru berpita emas di mejaku, aku tak pernah melihat itu sebelumnya, dan tampaknya itu lebih bagus dari pemberian grandma. Tanpa pikir panjang aku menarik boks itu dan membawanya ke kasur.

Di atas boks itu ada kartu kecil yang digantung ke pita, kertasnya berwarna hijau pastel, tulisannya, kalau aku ngga salah liat sih, jelek banget. Persis tulisan Bintang, adikku yang terakhir.

Untuk Nabila Xavier Maharani, dari ...

"Muhammad Rodhianto Al Bazili," ucapku, entah kenapa otakku jadi lemot, dan baru tersadar bahwa si Muhammad Rodhianto Al Bazili itu adalah nama orang. Orang yang grandma bilang calon tunanganku.

Aku mengernyit, males banget buka boksnya karena tau siapa pengirimnya, tapi penasaran juga, berani banget nih cowok nulis kartu pake tulisan tangan sendiri. Akhirnya, aku membuka boks itu cepat dan terkejut melihat isinya.

Wakwaw banget.

Masa hadiah kelulusanku sepatu roda warna merah jambu?

Aku mendesah, satu orang aneh sekaligus asing datang ke dihidupku, memikirkan dia menjadi tunanganku aja udah bikin error otak. Huh. Saking kesalnya, dengan sengaja kutendang boks itu ke lantai. Biar saja sepatu rodanya rusak. Memangnya bakal berguna apa? Muhammad Rodhianto Al Bazili sialun.

Namun, tau-tau sebuah boks bulat kecil berwarna hitam keluar dari boks, mungkin efek resonasinya lama, makanya dia telat banget keguncangnya, kalau perhitunganku, dengan gaya yang kukeluarkan, serta kecepatan dan arah yang kupertimbangkan, efeknya tidak akan selama itu.

Mau tak mau aku turun dari kasur dan mengambil kotak kecil itu, kurang kerjaan banget si Muhammad Rodhianto Al Bazili ini, pasti isinya wakwaw things lagi.

Sama seperti saat aku membuka boks sebelumnya, reaksiku kali ini berkali-lipat terkejut, kalau saja aku ngga lagi merong mungkin akan kukenakan cincin itu, untung bukan cincin batu ala babeh-babeh. Boks kecil itu berisi cincin, cincinnya sangat manis sekali, hanya berhias satu batu di luar cincin, ngga berlebihan kalau aku bilang harga cincin itu super jetset.

Aku bisa menebak harganya kurang lebih setengah harga CRV, untuk ukuran hadiah kelulusan ini bener-bener fantastis.

Aku memang bisa nebak kalau si Muhammad Rodhianto Al Bazili ini super kaya, mungkin anak dari relasi papi atau kakek atau bahkan grandma, dan yang kutau dari grandma si Muhammad Rodhianto Al Bazili ini (bingung mau manggil si Muhammad Rodhianto Al Bazili apa) calon dirut, tapi mau dia dirut, mau dia diurut, aku tak peduli. Sungguh. Tapi cincinnya manis banget. Untuk ukuran mas-mas kayak dia, pinter banget milih cincin, yang ngga terlalu keliatan tua buatku, dan ngga terlalu keliatan mewah. Ini sih, anti-jambret kayanya. Ngga keliatan asli atau palsunya di mata orang awam.

Jadi daripada larut ke dalam suasan beraroma cincin, aku meletakkan cincin itu kembali ke boks dan menaruhnya di laci, serta membereskan sepatu roda. Kini kutau mau diapakan sepatu roda itu, si Muhammad Rodhianto Al Bazili tau banget kalau kamarku di lantai dua dan aku bisa action dengan sepatu roda saat menuruni tangga. Setelah itu aku bisa mati. Yey. Terima kasih banget lho.

####

Halo,

Sebelumnya, saya mohon maaf bila salah satu di antara kalian bertanya-tanya mengapa nama tokohnya, seperti nama teman kalian. Cerita ini murni khayalan saya. Sewaktu bikin draft, saya bingung kasih nama buat tokoh-tokohnya, jadilah saya meng-eliminasi dan meng-subtitusi dari nama orang terdekat saya, ada beberapa juga yang saya ambil dari buku kumpulan nama, sehingga apabila ada kesamaan nama tokoh serta yang lainnya, saya mohon maaf.

Salam,

Nyonya Albazili XD

Gak Mau NikahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang