Selasa 6 Desember 2016
20:28
Hari ini Rian barusan pulang dari kuliahnya. Dikarenakan ada kelas malam.
Tak tau entah kenapa akhir - akhir ini dirinya gelisah. Pikirannya tidak karuan. Semenjak adiknya memainkan game werewolf, dia selalu teringat kejadian kelam di masa lalu nya.
"Apakah ini sudah waktunya? Haruskah? Tapi kenapa?" gelisahnya dalam hati.
Lalu Rian mengambil kursi dan meletakkan nya didepan lemari besar miliknya. Dia berdiri diatas kursi dan mencari suatu benda. Yang dicari - cari sudah ditemukan, Rian membawa dan membersihkannya.
Yang ada ditangannya sekarang adalah sebuah kotak. Didalam kotak tersebut terdapat satu set permainan werewolf. Mencangkup kartu karakter, buku aturan, dan lain - lain.
Tak salah kotak itu sangat berdebu dan kotor, terakhir dibuka saja sudah tujuh tahun yang lalu.
Walaupun sudah dibersihkan tetap saja masih ada sedikit debu yang tersisa. Rian meniup pelan debu yang tersisa dikotak itu. Dia meraba - raba permukaan kotak dengan mata penuh kenangan. Tentunya bukan kenangan indah, melainkan kenangan sadis. Lalu ia mulai membuka tutup kotak itu.
Seketika, Rian teringat betul kartu - kartu tersebut. Satu set game ini sangat familiar dimatanya. Alhasil mata nya berkaca - kaca, karena ingat peristiwa terburuk dalam hidupnya.
Permainan terkutuk inilah yang membuatnya harus tinggal berdua dengan adiknya, tanpa ada ayah maupun kehadiran seorang ibu lagi.
"Tak bisakah aku saja yang mengakhiri kutukan ini! Kenapa harus orang lain? Biarkan aku saja yang mengakhirinya!"
ucapnya dengan penuh perasaan jengkel sambil menatap isi kotak itu. Seakan - akan ia berbicara pada satu set benda mati.
"Krek" suara pintu dibuka.
Rian terburu buru memebereskan kotak itu.
Masuklah adiknya, Ibrahim.
"Kak?" sapa Ibra.
"Hah!" Rian sangat kaget.
"Kenapa kak? Kok sampe kaget gitu? Itu kotak apa?" Ibra terus merentetkan pertanyaan.
"Jangan!" serunya, sambil segera menutup kotak tersebut.
Lalu Ibra membaca tulisan di tutup kotak nya.
"Let's play Werewolf" dibacanya pelan dengan mengejah
Spontan Rian menutup dan mendekap kotak tersebut, niatnya agar Ibra tidak curiga. Tapi pemikirannya salah, justru Ibra semakin penasaran.
"Apa ini peralatan untuk bermain werewolf? Katanya dilarang memainkan ini, tapi disini kulihat ada satu set permainan werewolf"
ucapnya dengan tenang, seakan akan dia mengadili kakaknya.
Rian hanya menurunkan alisnya. Dan menatap tajam adiknya.
"Ini bukan urusanmu!" ujarnya pelan.
"Iya! Memang bukan urusanku. Tapi aku lihat, kakak juga memainkan game itu" tak habis - habis nya ia menguji kesabaran sang kakak.
"Aku tidak memainkannya!" sedikit kencang ia berkata.
"Terus?" tak selesai dia menyanggah semua ucapan Rian.
"Aku hanya memegang saja" katanya dengan serius, sambil melototi Ibra.
"Apapun itu, kau ada hubungannya dengan game itu! Dengan werewolf!"
serunya, seakan menantang seorang kakak yang dari kecil merawatnya.
"Tutup mulutmu!" Rian berteriak kencang sekali dengan emosi diwajahnya.
"Dasar munafik!" spontan Ibra berkata.
"Plaakk" tamparan keras melayang ke pipi Ibra.
Ibrahim hanya terdiam, dan memegangi pipi nya yang ditampar. Dia terus menatap wajah kakaknya dengan penuh dendam.
Rian pun sama saja. Sangat tampak kemurkaan diwajahnya. Ia dibuat sangat murka oleh adiknya sendiri, yang berani mengatakan nya munafik.
Tanpa berkata kata maupun berpamitan, Ibra meninggalkan kakaknya.
"Braak" Dan menutup pintu kamar Rian dengan keras.
Rian terduduk lemas di pinggir tempat tidur. Kedua tangannya memegangi kepala, dia sangat kesal dan menyesal. Antara kesal karena adiknya yang ia jaga bertahun - tahun telah membuatnya marah, dan menyesal karena telah menampar kasar Ibra.
"Ayah, ibu. Apa yang harus aku lalukan untuk menghadapi Ibrahim? Ya allah, berikan aku kemudahan untuk menjaga nya, untuk melindunginya sampai ia benar - benar dewasa dan mengerti segalanya" ucapnya didalam hati sembari menangis.
"Aku harus kesana! Mungkin dia saat ini sangat sedih, mungkin juga terpukul. Aku harus menghampirinya!" ujar nya didalam hati.
Malam itu, Rian menuju kamar Ibra, yang letaknya jauh dari kamarnya.
XXX
21:00
Ibrahim langsung membantingkan tubuhnya di tempat tidur. Ia langsung merangkul guling nya dan menghadap ke tembok.
"Ibu, Ayah. Aku disini sendirian, Rian tidak lagi seperti dulu. Aku juga ingin pulang bersama ibu biar bisa bertemu ayah, nenek, kakek dan yang lain. Percuma aku disni hanya kesepian. Mungkin disana aku tidak kesepian lagi. Ya Allah, aku berharap saat aku tidur, aku tidak akan bangun lagi! Biar saja kakak sendirian dirumah ini!"
Kata nya didalam hati dengan meneteskan air mata. Saat ini hati nya sangat terluka. Sudah lama dia hidup hanya berdua dengan Rian. Ibu dan Ayah yang seharusnya melengkapi kehidupan mereka telah tiada.
"Tok tok tok" suara ketukan pintu.
Namun tak ada jawaban dari Ibra.
Lantas, Rian masuk tanpa seizin Ibra.
Rian mendapati Ibra tidur membelakangi arah pintu kamar. Dia melangkah perlahan mendekati tempat tidur.
"Ibra?"
Tak ada jawaban dari Ibra. Dia semakin mempererat pelukan nya lada guling.
"Ibra aku tau, kau sedih bukan. Dan maafkan aku, aku tidak bisa menahan emosi ku" jelasnya.
Tetap saja Ibra mematung tak memberikan jawaban apapun.
"Aku tau kau marah ke aku kan. Maaf aku tak bisa menjagamu dengan baik, tapi kita bisa merubah seperti dulu lagi. Walaupun ayah dan ibu tak ada bersama kita" ucap Rian dengan penuh kekaleman.
Ibra meneteskan lagi air matanya, sebenarnya ia tau Rian sedang berbicara dengan nya, karena dia belum tertidur.
Dalam hatinya, Ibra juga merasa sangat bersalah karena bersikap tidak sopan pada Rian.
"Keluar!" kata Ibra pelan.
"Tapi kita bisa...."
"Aku bilang keluar!" teriaknya kencang, dan semakin meneteskan air mata.
Kali ini Rian benar - benar dibuat jengekl oleh adiknya. Dia mencoba mengalah dan membujuknya, tapi kenyataanya? Ibra justru mengusir keluar.
"Terseraaaaahhhh!!!" teriakan Rian tak kalah dengan Ibra, bahkan teriakan Ibra tak ada apa - apanya dibandingkan suara keras dari Rian.Sangking kencangnya, mungkin tetangga disekitar juga mendengar teriakan Rian.
Ibra langsung menangis takut, tapi tak mengubah pendirianya.
"Bruaak" Rian menutup pintu.
Kemarahan Rian seperti orang kesetanan. Sebenarnya mereka berdua sama, yakni sama - sama memiliki sifat keras kepala yang tak tertandingi. Juga mudah emosi.
Tapi perbedaanya, Rian lebih mudah terharu dan mudah merasa bersalah.
XXXXXXX
Saya juga sampai terharu 😅
Alay yah... 😁
Maapkeun
KAMU SEDANG MEMBACA
LET'S PLAY WEREWOLF
Hombres Lobo[ COMPLETED STORY ] Warning! Full adegan pembunuhan!!! Jangan salahkan penulis ya! Aku udah ngasih peringatan!!! Yang takut darah dsb dimohon tidak membaca!!! Apa kalian pernah memainkan permainan werewolf? Tentu sebagian besar dari kalian pernah m...
