13. Step 4; Kejadian yang Terulang
◎◎◎
Nana menganga bingung saat melihat kedua remaja itu turun dari mobil yang sama, bahkan yang laki-laki turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu bagi yang perempuan.
Akibat pemandangan tak biasa yang sedang berlangsung di depannya, Nana bahkan sampai tak sadar bahwa pintu yang berada di sisi kirinya sudah terbuka dan menampilkan sosok anak laki-laki yang tengah mengernyit, "Astri, hey?"
"Eh, iya," perempuan itu menoleh ke luar dan langsung melangkah turun dari mobil.
"Liatin apa sih?" tanya laki-laki itu sembari menutup kembali pintu mobil dan menekan salah satu tombol pada benda digenggamannya agar mobil itu terkunci.
Nana terdiam tak menjawab, akhirnya Deva berinisiatif untuk menatap apa yang sedang difokuskan oleh orang di sisinya. Sesungging senyum terpancar dari kedua sudut bibirnya, "pantesan Cacil nggak ngabarin gue buat jemput ke sekolah, nggak taunya dia bareng sama Dimas."
Laki-laki itu kembali menatap Nana, "emang Yudha nggak masuk ya? Biasanya Cacil minta dijemput kalo Yudha nggak masuk doang."
Nana bergidik. Jelas saja dia tidak tau, kan dia baru sampai dengan Deva, "nggak tau deh," katanya. "Masuk aja yuk,"
Kalimat terakhir dari Nana diangguki oleh Deva, dan keduanya langsung saja berjalan memasuki lobby sekolah. Posisi mereka yang berjalan bersisian dari parkiran hingga ke lorong loker membuat semua murid SMA Bhinneka menatap heran. Pasalnya, Deva tidak pernah terlihat berdua dengan perempuan lain selain Cacil. Ini tentu saja pemandangan baru bagi semua murid.
Sampai ketiga anak perempuan yang berada di tengah-tengah lorong loker berhenti berjalan dan sama-sama melongo saat melihat kedua remaja itu berjalan dari jarak delapan meter di depan mereka. Nana tersenyum melihat ketiga temannya di depan sana, ia lalu pamit pada Deva yang langsung berjalan ke arah lokernya seorang diri.
Perempuan itu berlari dengan cengiran lebar dan berhenti tepat di depan ketiga temannya yang masih bergeming.
"Good morning!" teriak Nana sembari memegang kedua lengan tasnya.
Hening.
Senyuman itu berubah dengan kernyitan aneh yang tercetak jelas dari cara dahi Nana yang perlahan-lahan mengerut, "hello, Nana Renata di sini," ia mengibaskan tangannya ke depan wajah Nayla, Vally, dan Rara bergantian.
"What was that?" pertanyaan pertama yang meluncur dari bibir Vally menyadarkan kedua temannya yang lain.
Rara beralih mengusap kedua matanya dan setelah itu mengerjap, "sumpah, gue nggak salah liat kan ya?"
Seulas senyum kembali terbit di bibir perempuan bermata cokelat muda itu, ia memegang kedua pipinya dan bersuara, "gue kayak abis mimpi," katanya. Ia lalu menoleh menatap perempuan yang berdiri di paling kanan, "abis ini kita lanjut ke step berikutnya!"
Keempat remaja itu pun saling pandang dalam waktu beberapa detik, kemudian berteriak senang dan melompat sembari memegang bahu satu sama lain.
◎◎◎
Dimas menoleh ke bangku di sebelah pengemudi, menatap perempuan yang duduk di sana dengan senyum jahil, "so, what do you afraid of? Ketemu Deva atau ketemu Yudha?"
"It's not a question, isn't it?"
Dimas terkekeh sejenak, "you too afraid of what isn't happen already, Ca."
KAMU SEDANG MEMBACA
After Ten
Teen FictionI'm just too afraid of being the only one who falls || Copyright © 2017, Michelle Kimberly - All Rights Reserved
